Man Always Be A Boy

491 Kata
“ Naya bergabung menjadi relawan bersama Sari, kekasih dokter Radith. Dua tahu lalu Sari meninggal setelah berjuang melawan kanker otaknya.” Kepala Rumah Sakit berbicara pelan mengetahui Rajendra menatap keduanya dari balik kaca. ,” Sudah lama kenal Naya ?” “ Keluarga besar kami bersahabat. Dan terakhir saya bertemu Naya ketika gadis kecil berusia empat belas tahun itu harus kehilangan kedua orangtuanya karena kecelakaan, di negeri orang. Untung saja tempat saya dan istri study hanya berjarak dua jam perjalanan,” dihelanya nafas ,” Kami membantunya mengurus pemulangan jenasah dan perpindahan sekolahnya kesini.” “ Pantas saja …. dia cukup matang untuk usianya, walaupun sering tersamarkan oleh sikap polos dan kekanakannya. Kalau saya punya cucu laki laki sudah kemaren kemaren menjadikannya calon potensial.” Rajendra tertawa ,” Jangan coba coba dok …. seluruh keluarga besar saya sudah berusaha keras mengikatnya. Kalau begitu saya pamit dulu, sampai ketemu hari senin.” “ Baik, dok … saya kembali ke ruangan.” “ Naya.” Gadis itu meraih tasnya lalu berpamitan pada Radith dan beberapa perawat sebelum menghampiri Narend sambil setengah berlari ,’ Ayo, kemana kita ?” “ Antar aku melihat progress persiapan rumah, setelah itu ke tempat kalian.” Naya membuka pintu mobil Narend, “ Kak Narend pakai apa ?” “ Tadi aku turunkan di kantor, katanya nanti pulang sendiri.” Rajendra menyalakan mesin dan keluar dari tempat parkir menyusuri jalanan yang cukup padat. “ Kenapa baru cari rumah setelah tiba disini ?” “ Rumah bisa kami kondisikan, yang gak bisa dikompromikan adalah sekolah anak anak. Aku dan Sherly memilih sekolah dulu, baru rumah menyesuaikan. Sementara ini kami tinggal di tempat abang.” Naya mengeluarkan ooh panjang sambil membuka laci di depannya, mengambil beberapa butir coklat terbungkus kertas emas ,” Mau ?” Rajendra tersenyum ,” Sudah yakin disitu ada coklat untukmu ? Abang menyiapkannya ?” Naya tersenyum malu. “ Sejauh apa hubungan kalian ?” “ Maksudnya ?” “ Abang sudah membawamu ke kantor ? Ke Haris dan kawan kawan ? Ke rumah ?” tersenyum lebar ketika ketiga pertanyaannya dijawab anggukan. “ Bagaimana dengan teman temanmu ?” “ Biasa aja, kita beberapa kali pergi bareng.” “ Sudah nyaman dengan hubungan kalian saat ini ?” Naya terdiam, tangannya bertautan di pangkuan ,” Entahlah ….aku gak yakin.” “ Merasa perbedaan kalian cukup jauh ?” “ Aku masuk TK ketika Kak Narend SMA.” “ Naya …. lima dan enam belas tahun memang tidak bisa main bersama. Tapi duapuluh dan tigapuluh satu tidak sejauh itu ….” “ Iyakah ?” “ Aku beritahu kamu …. percayalah kalau ada yang mengatakan A Man Always be A Boy.” “ Entahlah …. gak ngerti.” “ Apa kurang jelas maksud dan tujuan mama papa, oma opa, kakek nenek dan Narend sendiri bagimu ?” Rajendra mengacak rambut Naya ,” Pelan pelan saja. Fokus sama kuliahmu yang hampir kelar.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN