Riska dan Winda duduk mengapit Naya yang duduk tenang menatap pintu ruang ujian yang terbuka. Beberapa dosen ujian terbuka ini masuk dan menempati posisinya.
“ Kok aku yang deg degan ya.” gerutu Riska, menyenggol Naya yang lebih tenang.
“ Sama …. hadeeeh kenapa sekarang jadi ada aturan sidang terbuka sih ?” sahut Winda ,” Kan jadi dobel tekanannya, penguji dan penonton.
Naya tertawa kecil ,” Aku persiapan dulu.” ujarnya menepuk lutut Riska ,” wish me luck.” lanjutnya lalu berdiri dan menuju operator untuk menyerahkan flasdisknya dan menunggu giliran.
“ Aku terlambat ?” Riska merasa kursi disampingnya bergeser dan kasak kusuk mulai ramai disekitarnya.
“ Pak Narend….”
Narend mengguman dan berkonsentrasi pada gadis yang baru saja menyelesaikan paparan singkatnya dan berkonsentrasi pada pertanyaan pertama. Bibirnya tersenyum tipis, menyadari satu persatu pertanyaan dan argument penguji dapat dijawab kembali dengan gamblang. Cukup mudah untuk mengetahui bahwa gadis itu benar benar menguasai masalahnya ,” Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Ujarnya melirik Risaka dan Winda bergenggaman tangan.
Riska menatap Narend sambil tersenyum sedih ,” Kami gak mengkhawatirkan Naya, Pak …. Kami mengkhawatirkan diri kami sendiri.”
Narend menarik sudut bibirnya ,” Bilang pada Naya, segera selesaikan revisi dan sebagainya. Akhir minggu nanti kami harus pulang.”
“ Dikawinin Pak ?” tanya Riska pelan, menyadari beberapa kursi dibelakang dan sekitar mereka bergeser mendekat tanpa suara,
“ Bisa jadi.” Sahut Narend misterius ,” Aku tinggal dulu, ada kelas. Nanti aku jemput kalian, kita makan malam diluar. Kabari Andre dan Rio.”
“ Siap ….”
“ Riska …. Jadi beneran Naya sama Pak Narend pacaran ?”
“ Udah lama ?”
“ Kamu Tahu, Ris ?”
“ Kok gak pernah cerita ama kita di NL ?”
Riska menggaruk kepalanya melihat banyak member NL yang tahu tahu berada disekitar mereka ,” Kalian tahu bagaimana Pak Narend menjaga privacynya.”
“ No …. “ protes mereka nyaris bersamaan.
“ Kita sama sama mengamati Pak Narend setahun terakhir …. dan ini jelas sekali, aku rasa bukan Pak Narend alasannya …. Tapi Naya.”
Riska angkat bahu ,” Kalau sudah jelas mengapa ditanyakan lagi.”
“ Ih kesel deh …. harusnya kita dapat berita atau foto terupdate karena pacar Pak Narend itu sahabatmu.”
“ Maaf ….” Riska tersenyum kecut mendengar gerutuan teman temannya ,” kita menemui Pak Bimo dulu.” ujarnya ketika Winda memberi tanda kalau pembimbing mereka sudah selesai menguji.
“ Pak …"
Bimo menatap dua gadis yang mendekat padanya ,” Sudah selesai ?”
“ Sudah Pak ….”
“ Sini.” dilangkahkannya kaki ke salah satu sudut ruangan ,” duduklah !” ditunjuknya kursi disekitarnya ,” Sambil nunggu pengumuman kita bimbingan disini saja.”
“ Baik Pak .” Keduanya menarik kursi dan menghadap Bimo yang sudah membolak balik berkas di tangannnya.
“ Sudah … segera lengkapi yang saya tandai tadi, dan cari literartur pendukung terbaru lebih banyak biar gak tergagap kalau nanti dikaitkan dengan kasus sejenis.”
“ Baik, Pak …"
“ Segera ya …. , bisa ikut ujian semester ini ?”
Keduanya menggeleng ,” Semester depan ya pak … kami masih ada banyak mata kuliah semester ini.” ujar Winda.
Bimo mengangkat bahu.
“ Jangan dibandingkan dengan Naya lah Pak.” pinta Riska
Bimo tertawa kecil ,” Gak akan … seperti aku gak pernah berani mengejar Narend urusan sekolah.”
“ Diluar itu ?”
“ Kalian lihat sendiri urusan dengan asmara aku jauh didepan.” sahutnya terkekeh.
Riska dan Winda serentak menyetujui.
“ Ehm …. Pak, beneran Pak Narend mau nikah sama Naya ?”
“ Mau ? Narend Mau.”
“ Kalau itu juga anak SD juga tahu Pak.” gerutu Riska ,” Maksudnya dalam waktu dekat.”
“ Dapat ide dari mana ?”
“ Tadi Pak Narend bilang weekend mau ngajak Naya pulang.”
“ Tadi ?”
Serentak keduanya mengangguk.
“ Narend kesini ?”
Keduanya mengangguk lagi.
Bimo geleng kepala ,” Show off … Untung Naya gak keganggu.” diangkatnya kepala saat ada yang memanggilnya ,” Baiklah, lanjutkan skripsi kalian. Semester depan gelombang pertama kalian harus maju.”
“ Baik, Pak …" sahut keduanya pelan, menatap punggung Bimo menjauh.