Narend menyimpan travel bagnya dan Naya dia kompartemen atas sebelum duduk disamping gadis yang tengah serius dengan ponselnya ,” Ada apa ?” diusapnya kerutan di dahi Naya.
“ Kakek aneh.”
“ Aneh gimana ?”
“ Gak biasanya kakek menjawab teleponku sekedarnya. Dan sekarang malah gak bisa dihubungi.”
Narend meraih tangan Naya dan menggengamnya dengan dua tangan.
“ Kak ….” ditatapnya Narend yang menghembuskan nafas panjang, ada ketakutan yang membayangi panggilannya.
“ Nenek.”
“ Dan kita pulang hari ini, tidak menunggu weekend. Drop ?”
Narend mengangguk ,” Istirahatlah …. kamu butuh banyak energi disana.”
Naya mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya ke jendela menatap keluar.
…. Nenek Naya drop. Ginjalnya yang satu sudah tidak berfungsi, harus diangkat sebelum merembet ke ginjal satunya. Tapi faktor usia membuat resiko operasi ini cukup tinggi, dan nenek tidak ingin berangkat operasi sebelum hatinya tenang. Naya sudah lulus dan sudah ada yang menjaga .. hanya itu yang membuatnya tenang … ucapan mamanya beberapa hari yang lalu membuatnya resah. Dan diamnya Naya membuatnya semakin gelisah.
Narend paham gadis disampingnya sudah sangat terbiasa berhadapan dengan kondisi seperti ini, tapi bagaimanapun ini neneknya … ,” Nay, kamu belum makan siang. Kakak pesankan apa ?” discannya daftar menu restorasi kereta.
“ Terserah aja, kak.” sahut Naya lirih sebelum kembali menghela nafas dan membuang pandangan keluar.
Narend memesan 2 nasi goreng dan teh manis, membiarkan Naya berdiam diri untuk beberapa saat. Tanpa suara mengecek ponselnya,berharap tidak ada kabar mengejutkan selama perjalanan.
" Kak.... Nenek kenapa?" Naya menyisihkan kotak makannya dan meraih gelas.
" Ginjal nenek bermasalah. "
" Separah apa?"
Narend menggeleng," Kita tanyakan pastinya besok pagi, ya. "
" Tapi......"
Narend tersenyum tipis," Gak bisa dibohongi ya...." gumannya.
" Jangan coba coba." Naya cemberut.
" Aku gak tahu persisnya, tapi menurut mama dibutuhkan operasi segera, dan.... "
" Nenek menolak? "
" Kamu bisa menebaknya? "
Naya menghela nafas, " Biasanya nenek mengajukan syarat yang nyaris mustahil." keluhnya.
Narend diam... Tidak juga sebenarnya, tapi apa kamu sudah siap? .... a