Radith melangkah memasuki bangsal anak, menatap gadis yang tengah membantu beberapa anak melukis sambil menggendong seorang anak laki laki yang tertidur memeluk lehernya. Selintas sosok lain seakan berada disekitar gadis itu, memberikan senyum teduhnya .. tapi bukan ketenangan yang didapatkannya, melainkan rasa bersalah yang tak kunjung reda kendati dua tahun sudah berlalu.
“ Itu Naya, kan ?“
Radith tersentak, menatap beberapa orang yang sudah berdiri didekatnya tanpa ia sadari ,” Dok …"
“ Itu Naya kan ?” Rajendra mengulang pertanyaannya.
“ Iya. Dokter mengenalnya ?”
“ Kak Jendra.” gadis yang tegah dibicarakan menyerahkan lelaki kecil dipelukannya kepada perawat dan berlari menghampiri Rajendra yang melebarkan lengannya.
“ Apa kabar ?”
Naya menyusup ke pelukan tubuh kokoh yang wangi itu, tanpa sadar matanya basah … mengingat terakhir kali ia berada dalam pelukan lelaki ini saat orangtuanya meninggal beberapa tahun lalu.
“ Hei …. apa apan ini?” Rajendra menjauhkan tubu Naya, mengusap mata yang basah ,” Bajuku basah tahu ?”
Naya cemberut ,” Sini dicuciin.”
Rajendra tertawa, mengacak rambut Naya.
“ Jadi disini ?”
“ Kita lihat nanti.”
Naya mencibir, sebelum tersenyum malu pada kepala rumah sakit ,” maaf dok …"
Lelaki parobaya dengan rambut yag sudah sepenuhnya putih itu tersenyum ,” Sudah kenal dengan dokter Rajendra ? Kalau gitu kamu bisa bantu kmi merayunya untuk mengepalai unit bedah syaraf.”
Naya tertawa kikuk ,” Itu negosiasi tingkat tinggi, apalah saya yang cuma remahan biskuit coklat ini.”
“ Yakin tidak menggunakan powermu sebagai kakak ipar ? Awww ..” Rajendra mengaduh ketika kaki kecil itu menginjak kakinya ,” Tunggu disini, aku keliling dulu. Nanti pulang bareng. Mari dok ..”
Naya mengacungkan tinjunya melihat kilatan jahil di mata coklat gelap ala Keluarga Raharsya itu.
“ Dia …"
“ Adiknya Kak Narend.”
“ Oh … pantesan, wajahnya seperti tidak asing. Baru kembali dari luar negeri ?”
“ Satu persatu mereka pulang ….” guman Naya sambil kembali ke dalam bangsal.
“ Kakak ipar ?” kejar Radith, menggoyang lengan Naya ketika gadis itu berlagak tidak dengar ,” Pantesan dari dulu tidak ada teman sekolah dan kuliah yang menarik perhatianmu. Seleramu yang matang.”
“ Apaan sih ?” Naya cemberut menatap Radith
“ Seharusnya aku juga cukup matang. Bisa dipertimbangkan ?” godanya.
“ Siapa yang mau menjadi bayangan Teh Sari ? Maaf ….” Naya menggigit bibir melihat kilatan sedih di mata tenang itu.
Radith mengerjap lalu tersenyum, mengusap kepala yang tertunduk dihadapannya ,” Kamu benar, rasa bersalah ini masih menghantuiku.”
“ Maafkan dirimu sendiri kak …. kakak sudah menarik pelajaran dari hal itu. Bukan jalan yang mudah, tapi hampir dua tahun terakhir kakak selalu berusaha mengatakan kebenaran dan tetap menjaga rasa optimis pasien pasien kakak. Teteh pasti senang di atas sana.” digenggamnya tangan Radith erat.
Lelaki itu menarik nafas dan menghembuskannya perlahan lalu tersenyum ,” Aku ingin jatuh cinta pada perempuan sepertinya dan sepertimu di kemudian hari …. “
Naya menggeleng ,” Jangan jadikan seseorang patokan untuk mencintai orang lain, gak ada perempuan yang mau disamakan atau dibandingkan dengan perempuan lain tahu ?”
“ Termasuk kamu ?”
“ Iyalah …. Naya adalah Naya …. kalau mau seperti ini, gak mau ya sudah.” sahutnya lalu kembali mendekati anak anak yang sedang melukis ,” Setelah ini kalian mandi lalu istirahat sebentar ya … besok boleh dilanjutkan. Simpan baik baik perlengkapannya.”