Sementara itu di Rumah Sakit pagi itu Naya sedang menyuapi Nenek perlahan.
" Sudah." Nenek menjauhkan kepalanya.
" Baiklah.... " Naya meletakkan mangkuk bubur dan menyuapkan air minum sesendok demi sesendok.
" Kamu sudah sarapan? “
" Sudah tadi sama Kakek. Tuh.... " ditunjuknya bungkus makanan di meja lalu beranjak membereskannya.
" Nay.... " Panggil Kakek setelah istrinya memberi kode dengan mengangguk lemah.
" Ya.... "
" Sini...... " ditepuknya kursi disamping tempat tidur, " Duduklah."
Naya duduk disamping kakeknya, sambil memijat lembut kaki nenek.
" Ujianmu gimana? “
" Lulus, tinggal sedikit revisi dan sudah aku setor lewat email semalam."
" Kapan wisuda?“
" Bisa ikut gelombang pertama tahun depan. Pengennya barengan sama Riska dan Winda, karena semester depan mereka baru ujian. " ditatapnya kakek, " Ataubkalek nenek pengen aku wisuda tahun ini? Masih bisa ngejar untuk gelombang ketiga. "
Kakek menggeleng, " Cuma wisuda, seremonial. Bisa kamu nikmati bersama teman temanmu. Yang penting sudah lulus. "
" Sudah. Setelag revisi diacc, tinggal bereskan administrasi untuk Ijazah."
" Lalu kerjamu? Atau mau lanjut kuliah lagi? "
Naya mengangkat bahu, " Toko, beberapa kerjaan freelance sudah cukup untuk sementara. Apalagi Prof Arini sudah bilang akan memberikan slot untuk asistensi mengajar dan penelitian."
" Lalu.... bagaimana dengan kehidupan pribadimu? “ tanya Nenek hati hati.
" Nay baik baik aja. "
Kakek menghela nafas, menepuk pipi cucunya, " Kehidupan asmaramu? " terkekeh melihat rona merah menjalar diwajah Naya, " Narend ?"
Naya menggigit bibir dengan wajah bimbang.
" Masih bingung dengan rasamu? "
" Nay gak tahu, nek.... apa rasa yang seperti itu yang dibutuhkan untuk pacaran. "
Kakek terkekeh saat Naya memelankan suaranya menyebut kata terakhir.
" Seperti apa? Nyaman bersamanya? “
Naya mengangguk.
" Bisa jadi dirimu sendiri? “
Naya mengangguk.
" Kangen? "
Naya menggaruk kepalanya, " Apa mungkin karena terbiasa? “
" Cemburu saat dia ada didekat perempuan lain? “
Naya tertawa kecil, " Mana sempat? Kak Narend di kampus dan kantor dikenal cowok kulkas." Bibirnya manyun, " Makanya heboh banget waktu kami bareng si kampus."
" Dia pamer kebersamaan kalian. "
" Menyebalkan, seneng banget dia. Yang jemput ke fakultas, di perpustakaan, malah kemaren bikin heboh ruang sidang karena duduk manis disana dengan pasang tampang dingin gitu."
Kakek dan nenek berpandangan sambil bertukar senyum.
" Jadi kalian sekarang pacaran? "
" Daripada langsung diajak nikah? "
" Narend ngajak nikah? Kalian bisa pacaran setelah menikah. "
" Kek... aku masih dua satu, mau dua dua."
" Kenapa? Sudah cukup umur untuk menikah di usia ini. "
" Tapi aku masih mau fokus kerja.... "
" Kamu selama ini juga sudah fokus kerja sambil kuliah. Mengurusi sekian anak di rumah sakit bisa, tambah satu orang seperti Narend gak akan susah mengurusnya."
Naya menghela nafas, " Kakek nenek ingin aku menikah sekarang? “
Keduanya diam sejenak.
" Dokter menyarankan mengangkat ginjal nenek satu. "
" Jalani saja, daripada merembet."
" Resikonya cukup tinggi mengingat usia dan gula darah nenek. " ujar kakek pelan, " Kami paham itu. "
Tentu saja.... kakeknya dulu adalah dokter penyakit dalam seperti halnya opa Raharsya.
" Misalnya... kalian menikah dalam waktu dekat? “