Pagi yang dingin, ketika Narend keluar dari kamar menemui opa dan papanya yang tengah duduk di teras samping, " Pagi. "
" Pagi, kopi boy? “ Sahut Opa Raharsya
" Boleh juga, opa. " Naeend menuang kopi kedalam cangkir.
" Datang jam berapa semalam ?"
" Hampir jam sebelas. Opa dan Oma sudah tidur. "
" Naya? "
" Sudah bisa ditebak, dia memilih tidur di rumah sakit menemani kakek dan nenek. "
Opa Raharsya menghela nafas, " Kamu sudah sampaikan kondisinya? "
" Untuk kondisi kesehatan nenek, aku rasa lebih baik Naya tanyanpada dokter yang merawat nenek. Aku hanya menberitahu ini tentang ginjal nenek. "
" Dan tentang kalian? "
Narend menggeleng, " Biar Naya fokus pada nenek dulu. "
" Narend... "
" Hmmm.... " Narend meminum kopinya pelan sambil menatap papanya.
" Bagaimana hubunganmu dengan Naya? "
" Baik baik saja."
" Sejauh mana ?"
Narend meletakkan cangkirnya, " Ehm.... sederhananya, kami pacaran."
" Naya bersedia? "
" Karena penawaran pertamaku adalah mengajaknya menikah... " Narend tersenyum tipis, " Berhubung dia masih ragu, grade kami turun jadi pacaran. "
Opa mengerutkan kening.
" Kalau aku mengajaknya pacaran dulu, saat turun gradenya hanya akan sebatas sahabat keluarga atau kakak."
Ketiganya tertawa kecil.
" Licik."
" Itu cerdas, opa. " Narend membela diri, " Sambil menunggu dia lulus. "
" Lalu, kalau kondisinya memaksa untuk dipercepat? "
Narend bersandar sambil membawa kembali cangkirnya, " Dengan senang hati aku akan menurut. "
Keduanya tergelak.
" Ada apa ini? “ Mama dan Oma menghampiri sambil membawa sarapan.
" Anakmu sudah kebelet nikah."
" Tapi Naya butuh waktu. " Oma mengusap kepala Narend sebelum duduk disamping cucu kesayangannya itu.
" Bantu aku untuk memberi dia pengertian oma." Narend memeluk omanya, " Please..... "
" Gak malu sama umur. " mama menjitak Narend pelan, " Gak berhasil meyakinkan Naya? “
Narend mendesah, " Aku bingung dia benar benar tidak merasakan apapun atau terlalu polos. "
" Dia tahu... tapi berusaha menampik itu. Bersamamu menjadikan dia pusat perhatian, itu yang membuatnya merasa tidak nyaman. "
" Sementara kamu tidak ingin menutupi kedekatan kalian." ujar papa, " Sudah seyakin itu, boy? "
" Seyakin itu, Pa. "