Sejauh Mana?

362 Kata
Pagi yang dingin, ketika Narend keluar dari kamar menemui opa dan papanya yang tengah duduk di teras samping, " Pagi. " " Pagi, kopi boy? “ Sahut Opa Raharsya " Boleh juga, opa. " Naeend menuang kopi kedalam cangkir. " Datang jam berapa semalam ?" " Hampir jam sebelas. Opa dan Oma sudah tidur. " " Naya? " " Sudah bisa ditebak, dia memilih tidur di rumah sakit menemani kakek dan nenek. " Opa Raharsya menghela nafas, " Kamu sudah sampaikan kondisinya? " " Untuk kondisi kesehatan nenek, aku rasa lebih baik Naya tanyanpada dokter yang merawat nenek. Aku hanya menberitahu ini tentang ginjal nenek. " " Dan tentang kalian? " Narend menggeleng, " Biar Naya fokus pada nenek dulu. " " Narend... " " Hmmm.... " Narend meminum kopinya pelan sambil menatap papanya. " Bagaimana hubunganmu dengan Naya? " " Baik baik saja." " Sejauh mana ?" Narend meletakkan cangkirnya, " Ehm.... sederhananya, kami pacaran." " Naya bersedia? " " Karena penawaran pertamaku adalah mengajaknya menikah... " Narend tersenyum tipis, " Berhubung dia masih ragu, grade kami turun jadi pacaran. " Opa mengerutkan kening. " Kalau aku mengajaknya pacaran dulu, saat turun gradenya hanya akan sebatas sahabat keluarga atau kakak." Ketiganya tertawa kecil. " Licik." " Itu cerdas, opa. " Narend membela diri, " Sambil menunggu dia lulus. " " Lalu, kalau kondisinya memaksa untuk dipercepat? " Narend bersandar sambil membawa kembali cangkirnya, " Dengan senang hati aku akan menurut. " Keduanya tergelak. " Ada apa ini? “ Mama dan Oma menghampiri sambil membawa sarapan. " Anakmu sudah kebelet nikah." " Tapi Naya butuh waktu. " Oma mengusap kepala Narend sebelum duduk disamping cucu kesayangannya itu. " Bantu aku untuk memberi dia pengertian oma." Narend memeluk omanya, " Please..... " " Gak malu sama umur. " mama menjitak Narend pelan, " Gak berhasil meyakinkan Naya? “ Narend mendesah, " Aku bingung dia benar benar tidak merasakan apapun atau terlalu polos. " " Dia tahu... tapi berusaha menampik itu. Bersamamu menjadikan dia pusat perhatian, itu yang membuatnya merasa tidak nyaman. " " Sementara kamu tidak ingin menutupi kedekatan kalian." ujar papa, " Sudah seyakin itu, boy? " " Seyakin itu, Pa. "
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN