Gue sebenarnya kasian lihat Yeonjun yang daritadi bergiliran kena marah. Semenjak Daddy dan maminya datang, semua malah tampak begitu runyam.
Mami Yerin memang agak drama kalau melihat Yeonjun babak belur begitu.
Kata mami Yerin malah, Mau nangis darah lihat kelakuan kurang ajar putranya.
Mana putra tunggal lagi, Mami Yerin sama Daddy Tae belum bisa program punya anak lagi, katanya.
"Udah mi, Dad, Kasian Yeonjunnya kalau dimarah terus." Gue akhirnya buka suara, gak tahan juga diem ngeliatin Si Yeonjun yang pasrah-pasrah aja, dengan muka babak belur begitu.
Diruangan ini cuma ada gue berempat, Mama sama Papa bawa kak Soobin pulang sebentar, biar gak makin kesetanan katanya.
Emang kak Soobin kudu didoain supaya berhenti gebukin anak orang. Cukup gue akui, Kak Soobin ternyata peduli banget sama gue.
"Han, Kamu tenang aja, sebagai gantinya mami siapin pesta pernikahan yanh megah banget. Mau tema apa hm? Disneyland?" Ujar Mama semangat. Gue menggeleng, bukannya mau nolak, tapi gue rasa pernikahannya yang sederhana aja.
"Hana lebih suka kalau jalan dialtar dengan desain sederhana." Mami tersenyum kemudian mengelus puncak kepala gue dengan sayang.
"Daddy niatnya mau nambah anak, Tapi berhubung lagi bentar punya cucu, mending kita tunda dulu mi." Ucal Daddy setelah puas membuat Yeonjun terkapar diatas sofa.
Pipi gue memerah, astaga pembicaraan macam apa ini? Tau gitu mending tadi nahan Somi buat diem sebentar.
"Hhh... Ini salah Daddy juga, Han, Maafin kelakuan Yeonjun ya." Gue tersenyum lalu mengangguk.
"Daddy belum pernah lihat papa kamu sekecewa tadi, Daddy paham perasaannya. Anak ini emang udah terlalu lama dibiarin bebas." Daddy Tae menggeleng, melirik putranya yang kini terlelap diatas sofa, Gue yakin, Daddy Tae sebenarnya sayang banget sama Yeonjun.
Dia pasti terkejut, Udah pulang sekali sebulan, terus sekarang dapet kabar mau punya cucu. Gue gak bisa bayangin, apa yang terjadi kalau misalnya Gue adalah Daddy Tae? Mungkin gue udah ngambil bolpoint buat nyoret nama dia dari Kartu keluarga.
"Hana, Kalau kamu mau apa-apa bilang sama Mami ya, Mami titip kamu di Yeonjun. Malam ini Mami sama Daddy mau kerumah kamu buat bantu diskusi masalah pernikahan kalian." Ucap Mami, Gue mengangguk pelan.
Daddy sama mami pamit, Walau esoknya mereka pasti kembali kesini untuk membawa kabar mengenai pernikahan gue sama Yeonjun.
Setelah pintu tertutup dengan sempurna, barulah gue berani menatap Yeonjun yang tampak damai dalam tidurnya.
Seharusnya libur musim dingin berakhir indah ditutup natal. Tapi sepertinya, Gue akan melewati Natal tahun ini dengan konsep berbeda.
Gue gak ngerti, dan masih gak percaya. Beneran ya gue lagi hamil? Inituh kaya masih diluar rencana gue.
Hhh... Kadang hidup itu memang berat, Gue bener-bener gak nyangka kalau suami gue nanti, tetangga gue sendiri. Seharusnya kisah gue diangkat jadi kisah dalam Drama keluarga yang tayang setiap sabtu dan minggu.
Entah kenapa tiba-tiba kepikiran, Konsep pernikahan Disneyland kayanya lucu. Tapi, biayanya gak mungkin murah.
Gue dengan cepat menggeleng, Astaga han, sok-sokan mau jadi putri padahal mah upik abu. Udah jangan pake Disneyland segala, temanya kaya kerajaan inggris aja. Gue cekikikan sendiri sama pikiran gue, Tanpa sadar Yeonjun malah menggeliat tak nyaman.
"Hati-hati, Awas jatuh." Gue langsung pamit tidur, semoga gak mimpiin dia.
###
"Jun, Gue titip corndog nanti pulang lo sekolah." Yeonjun ngangguk sambil ngerapiin rambutnya yang baru gue sadar, kalau tu anak semir rambut warna biru.
"Tenang kak, jangankan corndog, lautanpun aku sedot." Gue ketawa kecil dengernya, pengen deh rasanya gue timpuk pake nampan makanan rumah sakit.
"Nanti pulang lewat hongdae kan?"
"Hmm... Ya begitulah, Ck, kenapa rumah aku jauh dari sekolah ya kak?" Gue menggeleng, "Kenapa gak lo tanyain aja sama Daddy kemarin." Yeonjun yang udah selesai sisiran menoleh kearah gue.
Lalu mendekat, menghampiri gue yang lagi makan pisang. "Mau ngapain?" Gue mengernyit.
"Morning kiss."
"Gue timpuk mampus lo!"
Yeonjun gak akan kehabisan akal kayanya, Dia malah nahan kedua tangan gue, Lalu menatap kedua manik mata gue.
Deg!
Deg!
Deg!
Suara detak jantung kami berdua malah terdengar begitu jelas didalam ruangan ini.
Gue udah tutup mata takut, pasrah ajalah gue, toh juga lagi bentar gue jadi istrinya.
Chup!
"Hahaha..." Yeonjun malah ketawa setelah berhasil mengecup kening gue. Sialan emang tu anak, gue kira bakal dibibir.
"Kak, emangnya kakak ngira aku bakal cium dimana?" Setan Yeonjun! Emang sengaja dia mau goda gue. Keliatan alisnya naik turun.
"Gak tau."
"Ih bohong!"
"Aku ulang ya."
"JANGAN MACEM-MACEM!" Yeonjun makin terkekeh.
Astaga! Kenapa gue baru sadar kalau Yeonjun seganteng ini tiap ketawa. "Kenapa kak?" Tanya Yeonjun.
"Kenapa apanya?"
"Kenapa ngeliatin aku terus?"
Gue mendengus, "Yaudah minggir." Ketus gue.
Yeonjun cemberut, "Gak ah."
"Yeonjun, lo gak takut telat apa?"
Yeonjun menggeleng, "Nanti kalau gue telat, paling disuruh pulang lagi." Ujarnya santai.
Emang udah gak waras ini bocah, "Nah, kalau tau begitu ngapain masih disini hah?!" Yeonjun malah keliatan mikir.
"Aku juga lupa kak, menurut kakak bagaimana?"
"Ya mana gue tau!"
Yeonjun kembali terkekeh, "Kak, aku boleh izin nyentu perut kakak gak?"
Gue mengernyit, "Gak! Udah sana pergi." Usir gue.
Yeonjun cemberut, Dia kelihatan gak terima dan malah tetep diam ditempatnya.
"Aku mau pamit sama anak aku kak, Masa gak boleh sih?"
"Gak! Udah nanti pas lo pulang sekolah baru gue izinin." Mata dia berbinar.
"Beneran kak?"
"Yaudah kalau--"
Chup!
"SAMPAI JUMPA SAYANGKU!"
"YEONJUN SIALAN!"
###
Wkwkw terimakasih buat yang udah komen, ehehehe...
Maaf kalau emang gak suka sama namanya, Tapi masih mau tetep bertahan...