01 Hanya Ilusi

1512 Kata
Mencintai bukanlah sebuah pilihan. Menyimpan nama dan sosoknya rapat-rapat dalam hati juga bukan keinginannya. Namun, semua itu terjadi begitu saja tanpa bisa direncanakan ataupun dicegah. Sepuluh tahun berlalu sejak pertemuan terakhir Zen dan Audi, tetapi nama wanita itu masih tetap melekat erat dalam sanubari sang pemuda. Walau momen kebersamaan mereka sangat singkat, entah mengapa Zen begitu sulit untuk melupakan sosok wanita yang kala itu masih seorang gadis muda nan rupawan. Jangan menyarankan pemuda itu untuk merelakan apalagi melupakan, sudah tak terhitung berapa banyak cara yang Zen gunakan untuk melakukannya. Namun tetap saja, alam bawah sadar yang tak bisa dikendalikannya itu akan selalu mengingat sosok seorang Audi Bavaria. Bahkan terkadang, tanpa ada angin ataupun hujan, nama itu tanpa sadar terucap begitu saja dari bibir tipisnya. Remaja itu telah tumbuh menjadi pemuda tampan dan mapan. Mengawali karir sejak lulus SMA di dunia otomotif, saat ini ia telah berhasil menjadi kepala cabang Showroom mobil mewah di Ibukota. Hal itu semakin menambah nilai plus dirinya di mata para kaum hawa. Tunggangan mantan kapten futsal itu tidak pernah kaleng-kaleng. Zen tahu betul bagaimana memanfaatkan kelebihan tersebut untuk membantu hatinya menyingkirkan nama Audi. Berganti pasangan ibarat semudah ganti baju untuknya. Terlalu mudah, hingga membuat keluargnya pun lelah. Hari ini adalah perayaan ulang tahun keponakan Zen yang ketujuh, sehingga seluruh keluarga hadir untuk merayakannya. Tak terkecuali Zen yang datang dengan menggandeng seorang perempuan jelita dengan tubuh semampai. Tentu saja berbeda dengan yang pernah diajak ikut dalam acara keluarga sebelumnya. “Kak, Ma, kenalin ini Gladys,” ujar Zen mengenalkan perempuan yang digandengnya pada sang kakak dan mama. “Selamat siang, Tante, Kak! Aku Gladys, pacarnya Zen,” sapa gadis itu sambil mengulurkan tangan. Bibir merah delimanya mengulas senyum seramah mungkin. Kakak dan mama Zen membalas uluran tangan itu sambil tersenyum pula. Hanya saja senyum itu sekedar untuk beramah tamah. Tak perlu serius, bahkan keduanya juga tidak perlu repot-repot menghafal nama gadis itu, karena mungkin minggu depan mereka akan bertemu dengan perempuan lain lagi. “Terima kasih sudah ikut datang,” balas Safira, kakak Zen dilanjutkan oleh sang mama, Ratih. “Zen tidak bilang kalau keponakannya sedang berulang tahun dan aku baru tahu saat mengunjunginya untuk makan siang bersama, jadi maaf ya, Kak, aku tidak membawa kado untuk anak Kakak,” ungkap Gladys dengan sorot mata bersalah. Namun, kedua bola mata Safira justru berbinar dan bibirnya mengulas senyum yang lebih lepas daripada sebelumnya. “Gak apa-apa, gak perlu repot!” serunya antusias. “Malah kami nanti yang repot harus menyingkirkan barang pemberian lo setelah kalian putus,” tambahnya dengan lebih lirih, bahkan bibirnya pun sama sekali tidak bergerak. “Kenapa, Kak?” Gladys mencoba memastikan. “Enggak, bukan apa-apa,” sahut Safira sambil tertawa. Setelah itu Safira menatap sang adik dengan penuh isyarat. Matanya mengerling ke samping, mengarahkan Zen untuk bicara berdua saja. “Gue tinggal dulu sebentar,” pamit Zen pada Gladys. Gadis itu mengangguk tanpa mengendurkan senyumnya. “Jangan lama-lama!” peringatnya seraya meninggalkan sebuah kecupan di pipi Zen. Tanpa menjawab, Zen hanya mengangguk singkat sebelum mengikuti langkah sang kakak menuju ke sudut yang lebih sepi. “Nemu cewek darimana lagi, huh?” tanya Safira sambil mengedikkan dagu ke arah Gladys. “Dia yang nyamperin gue, bukan gue yang nemuin dia,” sahut Zen tak ambil pusing, bahkan sambil menyunggingkan senyum tanpa dosa. “Jangan lupa kalau kakak lo ini perempuan, ponakan lo perempuan, dan mama juga perempuan! Hati-hati sama perilaku lo, jangan sampai kebablasan!” peringat wanita berusia tiga puluhan itu sembari menghela napasnya panjang. Zen menatap Safira dengan cepat sambil menyipitkan mata. Peringatan serupa memang bukan yang pertama ia dengar, tapi tetap saja terdengar memuakkan. Seolah pemuda itu benar-benar sudah keluar jalur dan menjadi begitu liar hanya demi melampiaskan rasa kosong dihatinya. “Gue berani jamin kalau gak pernah ngapa-ngapain, bahkan masih perjaka sampai sekarang,” balas Zen membela diri sambil menunjukkan dua jarinya membentuk peace. Sayangnya, wanita berusia tiga puluh dua tahun itu justru memutar kedua bola matanya malas. Sulit dipercaya jika seorang Zenvo Prasetio yang hampir setiap minggu berganti kekasih itu masih belum melepas keperjakaannya. Apalagi Safira juga kerap kali mendengar deretan mantan kekasih sang adik yang tanpa tahu malu membual tentang betapa hebatnya pemuda itu di atas ranjang. Bukan hanya satu atau dua perempuan saja yang melakukannya, jadi tidak heran jika Shafira tidak percaya dengan pembelaan sang adik. Bahkan saat ini saja perempuan yang dibawa oleh Zen juga tak jauh-jauh dari tipe genit yang pandai merayu. Pakaiannya yang ketat serta minim memamerkan seluruh aset yang dimilikinya. Sangat tidak pantas digunakan untuk menghadiri pesta ulang tahun seorang anak kecil. Namun, Zen sama sekali tidak terganggu oleh sikap gadis itu. “Gue gak acc kalau lo serius sama dia,” bisik Safira sekali lagi. “Lagian cari cewek kenapa semuanya gak bener sih, Zen?” “Pernah serius, tapi dianggap bercanda. Sekarang main-main dianggap serius. Cewek emang ribet,” sanggah pemuda itu seraya melambaikan tangan pada sang keponakan yang girang melihat kehadirannya. “Lo masih inget sama Audi?” tanya Safira memastikan. Sebenarnya wanita itu juga mengenal Audi. Keduanya sempat berkuliah di fakultas yang sama meskipun berbeda jurusan. Safira pun sempat menjadi bulan-bulanan Zen saat Audi pergi tanpa berpamitan padanya. Pemuda itu kira Safira masih bisa bertemu dengan sang pujaan hati saat berada di kampus, tetapi nyatanya tidak. Safira sama sekali tidak pernah bertemu. Bahkan guru pujaan hati sang adik itu juga tidak menghadiri wisuda seperti dirinya meskipun namanya tercatat lulus di waktu yang sama. “Sudah sepuluh tahun, Dek! Kalian kenal juga gak lebih satu semester dan setelah itu sama sekali gak ada komunikasi. Gimana lo masih bisa terus inget sampai sekarang, bahkan gak pernah lagi bisa serius sama cewek lain?” selidik Safira. Pandangan mata Zen jatuh pada jemarinya yang saling bertaut di depan tubuhnya. Pertanyaan yang kakaknya lontarkan bukanlah yang pertama, tetapi hingga kini ia tidak bisa memberikan jawaban yang bisa memuaskan rasa penasaran tersebut. Selalu jawaban serupa yang bisa ia berikan. “Dia gak punya rekam jejak buruk dalam memori gue, Kak! Sejauh ini, belum ada yang lebih baik dari dia,” jawab pemuda itu lemah. “Mungkin karena lo selalu mengambil perempuan secara acak. Coba lo cari bener-bener dan jalani dengan serius, pasti ada yang jauh lebih baik dari Audi dan bisa bantu lo lupain dia,” saran Safira sambil menepuk bahu sang adik. “Susah, Kak,” bantah Zen sambil menyunggingkan senyum garingnya. Jawaban itu membuat Safira berdecak kesal dan mengeraskan tepukannya di bahu Zen, hingga pemuda itu merintih, mengaduh kesakitan. “Sakit tahu, Kak!” protes Zen berlebihan. “Makanya kalau dibilangin tuh di denger! Ngebantah mulu!” dengkus Safira. “Abis, bosen petuahnya itu-itu mulu. Mabok petuah gue,” pemuda itu berseloroh tanpa merasa bersalah. “Serah lo, deh! Mabok juga gue ngingetin tiap hari tapi gak digubris,” kesal Safira seraya hendak beranjak kembali ke pesta. “Tungguin aja terus mantan guru lo itu sambil berdoa semoga dia masih hidup.” “Nyumpahinnya yang bagusan dikit kenapa, Kak?” protes Zen mengikuti sang kakak. “Bodo!” Zen menyunggingkan senyum jahil dan segera menghampiri sang keponakan. Selama hampir dua jam ia berada di pesta itu bersama sang kekasih. Begitu pesta usai, ia segera kembali ke tempat kerjanya tanpa perlu repot-repot mengantar sang kekasih pulang. Mereka bertemu di dealer, maka akan kembali ke dealer, begitulah prinsip Zen yang sama sekali tidak mendapatkan protes. Mustang convertible berwarna kuning itu cukup lancar membelah jalanan ibukota, mengingat saat ini telah lepas jam makan siang. Waktu telah menunjukkan hampir pukul dua siang saat mobil itu harus berhenti di persimpangan dengan lampu merah. Zen mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas kemudi dengan kepala manggut-manggut mengikuti irama musik. Ia sama sekali tidak terganggu oleh keberadaan Gladys yang bergelayut manja di lengan kirinya. Pandangan mata Zen memindai sekitar yang terlihat ramai dan terik. Tepat di sisi kanan jalan terdapat sebuah sekolah dasar yang ramai anak-anak, pedagang kaki lima, sekaligus orang tua yang menjemput. Angka indikator berwarna merah itu terus menghitung mundur, bersamaan dengan Zen yang terperanjat tiba-tiba. “Kenapa, Sayang?” tanya Gladys yang cukup terkejut dengan gerakan tiba-tiba sang kekasih. Namun, Zen seolah tidak mendengar pertanyaan tersebut. Sejenak degup jantung Zen melonjak tajam. Matanya terkunci pada sosok berseragam PNS di depan gerbang sekolah dan tengah merentangkan kedua tangannya. Seorang anak laki-laki berseragam merah putih lengkap dengan topi, dasi, serta tas ransel besarnya itu berlari kecil dan segera menubruk perempuan berseragam PNS. “Audi,” gumam pemuda itu lirih Sosok itu begitu mirip dengan wanita itu dan Zen enggan melepaskan pandangannya. Namun, ia harus menghela napas kecewa saat perempuan berseragam PNS itu berbalik sambil menggendong anak laki-laki dalam dekapannya. “Cuma ilusi lagi,” keluh Zen lemah. Wanita itu sangat berbeda dengan sosok Audi yang ada dalam ingatannya. Di waktu yang bersamaan, indra pendengar Zen menangkap bunyi klakson dari belakang serta guncangan di Gladys di bahunya. Buru-buru ia mengembalikan konsentrasinya lalu kembali mengubah persneling untuk menjalankan mobilnya. “Ada apa sih, Sayang? Kenapa kamu bilang Audi? Mau ganti mobil Audi, ya?” tanya Gladys agak mencecar dengan binar penuh kekaguman di matanya. Namun, Zen hanya menggeleng kecil sambil menjawab, “Bukan. Lo salah denger.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN