02 Takdir yang Mempertemukan

1745 Kata
Beberapa menit berkendara, mobil yang Zen kemudikan mulai memasuki pelataran tempat kerjanya. Tempat itu bukan hanya sebuah showroom biasa, tetapi juga lengkap dengan bengkel resmi yang selalu ramai pengunjung, terutama saat musim penghujan seperti saat ini. Beberapa wilayah di ibukota seringkali terendam banjir yang berdampak buruk pada mesin kendaraan. Musibah bagi pemilik kendaraan, tetapi rejeki untuk Zen dan para teknisinya yang saat ini begitu sibuk. Begitu kendaraannya terparkir dengan sempurna, Zen segera turun dan Gladys tentu saja mengikuti di belakang. Namun, sebelum gadis itu benar-benar ikut masuk, Zen berbalik sambil menatap arlojinya. “Thanks udah nemenin, hati-hati di jalan,” ujar Zen tanpa basa-basi mengusir kekasihnya. “Kamu gak nawarin aku masuk? Janji deh gak akan gangguin,” rayu Gladys mendekati Zen seraya bergelayut di lengan pemuda itu. “Gue mau ngontrol bengkel. Banyak oli, pelumas, bensin, belum lagi asap pembuangan. Yakin mau ikut?” Zen menyunggingkan satu sudut bibirnya sambil memindai penampilan Gladys. Sudah tentu gadis seperti kekasihnya akan keberatan berada di tempat kotor seperti itu. Kulit mulusnya yang seringkali dipamerkan itu sama sekali tidak bersahabat dengan zat-zat yang Zen sebutkan barusan. “Ya sudah deh, aku pulang duluan,” putus Gladys tidak rela seraya memberikan sebuah kecupan di pipi Zen. Zen tak ingin ambil pusing dan segera melepas pegangan tangan gadis itu sebelum meninggalkannya. Namun, baru beberapa langkah ia kembali berbalik dan mendapati Gladys masih bergeming di tempatnya. Gadis itu berbinar, mengira Zen mengurungkan niat memintanya pergi, tetapi sekali lagi dugaannya salah. “Oh ya, jangan lupa waktu lo tinggal dua hari lagi,” ujar Zen memperingatkan. “Gue harap lo gak ngelunjak seperti kesepakatan awal kita,” tambahnya menegaskan sebelum Gladys sempat melayangkan protesnya. “Oke, dua hari masih cukup buat aku,” putus Gladys percaya diri. “Tapi sebagai ganti hari ini aku udah nemenin ke ulang tahun keponakan kamu, besok malem gantian kamu temenin aku.” Sebelah alis Zen menukik, secara tersirat menanyakan maksud sang kekasih. Namun, Gladys justru tersenyum simpul sembari berbalik badan. “Nanti aku kirim chat undangannya ke kamu!” seru gadis itu semakin jauh meninggalkan pelataran showroom sang kekasih. Zen tak acuh dan mengedikkan bahunya. Segera pemuda itu menuju bengkel seperti rencana awal. Atensinya kini terpusat pada para teknisi yang tengah bekerja. Tak lupa pula ia memeriksa laporan harian dari kepala teknisi yang sudah berusia paruh baya. Bagai anjing dan kucing yang seringkali tak akur, begitupula hubungan Zen dengan kepala teknisinya yang bernama Surya. Bahkan para karyawan sudah tak lagi heran jika melihat keduanya saling adu mulut. Zen yang merasa memiliki posisi lebih tinggi dan Surya yang lebih tua merasa memiliki pengalaman yang lebih banyak daripada pemuda itu. Sepertinya siang ini pun perdebatan itu juga tak bisa terelakkan. “Sudah berapa kali saya bilang, Pak? Kalau ada barang apa pun, terlebih suku cadang yang persediaannya menipis, segera buat laporan supaya saya bisa minta dikirim lagi ke kantor pusat. Kalau terlalu mepet begini dan keburu habis, bisa menghambat pekerjaan kita semua,” cecar Zen saat menemukan minimnya persediaan suku cadang yang sangat sering di butuhkan. “Dua hari lalu saya periksa itu sepertinya masih cukup sampai seminggu ke depan, Pak Zen, bahkan lebih. Tapi ternyata kemarin dan hari ini banyak banget yang butuh water hammer. Sore ini rencananya mau laporan sama Pak Zen,” jelas Surya membela diri. “Pak Surya ini ada aja alasannya. Sudah tahu kalau musim hujan bakalan banyak yang terjebak banjir, harusnya bisa memperkirakan,” dengkus Zen kesal. “Kalau sudah begini, pasti bakalan ada yang tertunda selesainya, nunggu barangnya datang.” “Daripada ngomel, mendingan segera buat laporan saja, Pak, biar gak makin tertunda,” saran Surya seolah tanpa ada rasa penyesalan. “Pak Surya ngajarin saya?” protes Zen tak terima. Nada suara Zen pun meninggi hingga orang-orang yang tidak mengenal keduanya merasa sangat terkejut. Tak terkecuali sosok setinggi lengan Zen yang segera ikut membentak pemuda itu. “Jangan marahin Kakek!” Seruan cukup melengking bernada marah itu mengalihkan perhatian semua orang yang mendengar. Begitupula Zen dan Surya yang segera berbalik dan menemukan sosok anak laki-laki yang masih berseragam merah putih di belakang Zen. Saat anak itu tampak terengah dan menatap permusuhan pada Zen, Surya justru membelalakkan matanya dan buru-buru menghampiri anak kecil itu. “Enggak, udah! Om itu gak marahin Kakek,” ujar Surya buru-buru mengusap bahu serta kepala anak itu dan menenangkannya. “Tapi tadi teriak-teriak sama Kakek,” ungkap anak itu tidak terima. “Teriak kaget itu, Rom, bukan marah,” jelas Surya lebih halus. “Beneran?” anak itu masih belum yakin. Surya mengangguk mengiyakan. “Oh ya, kenapa kamu bisa ada di tempat kerja Kakek? Sama siapa?” Belum sempat anak itu memberikan jawaban, Zen yang tengah bersedekap dan memberikan tatapan lekat pada anak itu sudah terlebih dahulu bersuara. “Benar, kenapa anak kecil kayak kamu bisa ada di sini? Memangnya kamu siapa?” tanya Zen dengan suaranya yang berat. Anak itu beralih menatap Zen. Bukannya takut oleh tatapan lekat dan mengintimidasi pemuda itu, ia justru membalas dengan tatapan yang serupa. Bahkan kedua tangannya saling bersedekap, seperti ingin balas mengintimidasi. “Duh, maaf, Pak Zen. Ini cucu saya, Romeo. Saya juga tidak tahu kenapa dia bisa ada disini,” sela Surya tak enak. Ia kemudian menegur Romeo supaya bersikap lebih ramah dan lebih dulu menyapa Zen, meskipun tak segera di turuti. “Gak mau, Kek! Om itu jahat, teriak-teriak sama Kakek,” sanggah Romeo sambil menghentakkan sebelah kaki tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Zen. Tak tahan rasanya jemari Zen untuk tidak meremas wajah anak itu. Kalimatnya terdengar ketus dan tingkahnya begitu menyebalkan. Namun, semakin diperhatikan, wajah anak itu terasa cukup familiar untuknya. “Romeo, jangan gitu sama Pak Zen!” tegur Surya yang meskipun lembut tetapi masih menyiratkan ketegasan. “Jadi, nama kamu Romeo?” tanya Zen memastikan sambil menelengkan kepalanya beberapa derajat. “Disini bukan tempat untuk bermain, bagaimana kamu bisa ada disini?” lanjutnya. Di saat yang sama, seseorang kembali hadir di tengah-tengah mereka. Seorang wanita dengan rambut sepunggung yang diikat rendah serta mengenakan seragam dinasnya buru-buru menghampiri Romeo. Kakinya segera tertekuk, sehingga tubuhnya kini sejajar dengan anak itu. “Mama cari kemana-mana, kenapa kamu malah ada disini?” tegur wanita itu dengan nada panik. “Aku ingat Kakek kerja di sini, Ma, jadi pengen cariin. Tapi malah lihat Kakek dimarahin sama Om jahat itu,” keluh dan adu Romeo sambil menunjuk Zen yang kini terperanjat. Wanita itu merasa tidak enak dan mengangkat wajahnya. Tanpa memperhatikan dengan jelas, ia segera meminta maaf atas perilaku Romeo yang mungkin mengganggu pekerjaan orang-orang di sana. Tanpa wanita itu sadari, sekali lagi Zen terhenyak dan mematung. Awalnya ia tidak mengenali sosok yang tengah berbicara dengan anak kecil di hadapannya. Bahkan suaranya pun tak lagi Zen kenali. Namun, setelah wanita itu mengangkat kepalanya, menunjukkan seluruh wajahnya, Zen langsung mengenali sosok tersebut. Betapa tidak, wajah itulah yang selalu terbayang pertama kali saat ia bangun tidur. Wajah dengan senyum lembut itu pulalah yang tergambar jelas menjelang ia terlelap di ujung harinya. Sepuluh tahun tak mampu membuatnya lupa akan sosok itu. “Audi?” gumam Zen tanpa sadar, seolah memastikan jika dirinya tidak sedang berhalusinasi kembali seperti sebelumnya. Gumaman itu ternyata terdengar oleh orang-orang di sekitar Zen. Wanita yang tak lain adalah Audi itu menghentikan aksi meminta maafnya dan segera menegakkan tubuhnya. Ia terdiam, menelengkan kepala ke kiri dengan dahi mengernyit. Berbeda dengan Zen yang segera mengenalinya, wanita itu sama sekali tidak bisa mengingat sosok gagah di hadapannya. Sepertinya wajar, mengingat Zen telah tumbuh dewasa dan ciri fisiknya juga mulai berubah. Jambang tipis menghiasi rahang serta sekitar filtrumnya. Otot lengan serta dadanya terbentuk dengan sempurna, hingga tubuhnya yang saat remaja dulu masih tergolong kurus kini semakin terlihat maskulin. Namun, saat melihat t**i lalat kecil di sudut kiri bawah mata Zen, kernyitan di dahi Audi semakin tampak jelas. Samar ia mulai mengingat sosok yang sepuluh tahun lalu sempat melamarnya. “Zenvo?” tanya Audi ragu. Tanpa disadari siapa pun, pertanyaan bernada memastikan itu membuat pupil Zen membesar dan melonjakkan ritme jantungnya. Demi apa pun, wanita itu adalah benar Audi. Audi Bavaria ada di hadapannya. Entah angin apa yang membawa wanita itu mengunjungi tempat kerjanya, Zen sama sekali tidak peduli. Saat ini, ia hanya ingin melompat dan memeluk wanita itu, mencurahkan segala rasa rindunya yang sudah sangat menggebu. Namun, ukiran senyum samar di wajah Zen dengan cepat menyusut saat matanya kembali menangkap sosok di samping Audi. Romeo. Audi membahasakan dirinya sebagai mama di hadapan anak itu. Bukankah itu artinya Romeo adalah anak Audi? Kalau begitu, dulu Audi tidak berbohong saat mengatakan akan menikah? Dalam sekejap, ritme jantung Zen kembali melemah. Bahkan bahunya pun ikut merosot bersamaan dengan kelopak matanya yang turun ke bawah. Rasanya sia-sia penantiannya selama ini. Audi telah memiliki keluarga, lalu untuk apa ia menunggu? “Anak kamu?” Hanya itu yang bisa Zen ucapkan untuk membalas pertanyaan Audi. Tatapannya lekat pada Romeo yang berdiri tegak di sisi sang mama. “Ya, Romeo anak saya,” jawab Audi lembut. Senyum itu masih menghasilkan dampak yang sama terhadap jantung Zen. Meskipun saat ini juga terselip rasa nyeri yang mengikuti. “Tunggu, barusan kamu panggil saya apa? Audi? Dan bahasa kamu juga begitu santai, huh?” tanya Audi dengan memicingkan mata. Zen berdecih. Bukannya saling bertanya kabar, wanita itu justru mempersoalkan tentang cara bicaranya. “Aku bukan murid kamu lagi dan kita cuma beda lima tahun. Apa salahnya?” pemuda itu mengedikkan bahu tak acuh. “Tetap saja saya pernah jadi guru kamu,” sahut Audi menegaskan. “Kalian saling kenal?” sela Surya yang sejak tadi memperhatikan dan Audi pun segera memberikan penjelasan. Sial. Zen melupakan sosok paruh baya itu. Double sial karena Zen juga baru ingat bahwa Romeo memanggil Surya dengan sebutan kakek. Benar-benar sebuah mimpi buruk. Sosok yang hampir setiap hari selalu dimarahi Zen ternyata adalah ayah dari wanita yang disukainya. Mata Zen melirik jam dinding tak jauh darinya. Tiba-tiba ia ingin menghindar dari situasi tak menyenangkan yang hadir secara tiba-tiba ini. “Senang bertemu denganmu lagi, Audi, tapi aku harus kembali bekerja. Pak Surya juga sebaiknya kembali ke pos,” ujar Zen buru-buru mengakhiri pertemuan. Ia kemudian beralih pada Romeo dan mengacungkan telunjuknya pada anak itu. “Dan kamu! Sebaiknya menjauh dari sini, bahaya buat anak kecil!” seru Zen memperingati yang dibalas Romeo dengan memutar kedua bola matanya malas. Pemuda itu segera meninggalkan keluarga tiga generasi tersebut. Ia perlu mencerna semua informasi yang baru diperolehnya menjelang sore ini. Hati dan otaknya pun perlu ditenangkan sekaligus diluruskan. “Bukan pertemuan seperti ini yang gue mau,” keluh Zen frustrasi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN