Zen menutup pintu ruangannya dengan cepat. Kepalanya terus memikirkan sosok-sosok yang ada di balik pintu kaca tersebut. Ingin segera menenangkan diri, ia buru-buru menuju meja kerjanya. Tubuhnya di hempaskan di atas kursi dengan kasar, jemari itu pun beralih mencengkeram rambut hitamnya. Bibirnya terus menggerutu, sementara hatinya masih belum bisa memutuskan bagaimana perasaannya saat ini.
Walau tidak muluk-muluk dalam membayangkan pertemuannya kembali dengan Audi, setidaknya ia ingin momen itu lebih baik daripada saat ini. Tak apa jika wanita itu telah menikah, bahkan telah memiliki putra sebesar Romeo, paling tidak reputasinya tidak seburuk saat ini.
“Kenapa dia harus anaknya Pak Surya?” geram Zen diliputi penyesalan.
Ia bukanlah pemimpin yang arogan, tapi tetap saja selalu tegas pada para anak buahnya, termasuk Surya. Jika sikapnya tiba-tiba saja berubah pada Surya, itu pasti akan terlihat janggal. Terlihat sekali jika Zen ingin mencari muka. Padahal Zen bukan pria yang seperti itu.
Helaan napas kasar tercipta dari bibirnya bersamaan dengan punggungnya yang terhempas pada sandaran kursi. Tiba-tiba saja bibirnya menyunggingkan senyum miris.
“Kenapa juga gue harus cari muka? Kayak masih punya kesempatan aja sama anaknya Pak Surya,” kekehnya menertawakan diri sendiri.
Zen menggelengkan kepala, berusaha menepis semua pemikirannya. Jika mau mengambil sisi positifnya, pertemuan ini bisa ia gunakan untuk membantunya melupakan Audi. Tentu saja ia tahu diri untuk tidak akan masuk ke dalam kehidupan rumah tangga orang lain. Senakal-nakalnya Zen, ia tak akan mau menyandang gelar pebinor atau perebut bini orang.
“Kecuali kalau memang ada kesempatan,” gumam Zen seraya terkekeh tak habis pikir dengan celetukannya sendiri.
Ia hendak memusatkan perhatiannya pada pekerjaan sekaligus menghalau kegelisahan di hatinya. Namun, atensinya terganggu oleh sosok anak kecil yang baru saja duduk di depan ruangannya seorang diri. Kaca yang terpasang sebagai pintu dan tembok itu merupakan jenis cermin satu arah. Zen bisa melihat keluar ruangan dengan jelas, tetapi orang di luar tak akan bisa melihat kegiatannya di dalam ruangan.
Seperti yang ia rasakan saat pertama melihat anak itu, perhatian Zen seperti terhisap untuk memperhatikan Romeo yang termenung sendirian. Entah dimana Audi saat ini sampai-sampai Romeo kembali berkeliaran seorang diri. Tak tahan dengan rasa penasarannya, Zen kembali bangkit dan menghampiri Romeo.
“Heh, anak kecil, ngapain sendirian di sini?” tanya Zen tepat setelah membuka pintu ruangannya dan menarik perhatian Romeo.
Kalimatnya mungkin terkesan ketus, tapi terdengar ramah di telinga anak-anak. Memang begitulah cara Zen berkomunikasi dengan anak kecil, termasuk pada kedua keponakannya.
Romeo menatap sekilas lalu berdecih. Enggan ia menjawab pertanyaan basa-basi Zen dan kembali menatap sekitar yang penuh dengan deretan mobil baik baru maupun bekas.
“Ditanya bukannya jawab malah melengos,” tegur Zen menghampiri Romeo dan duduk di sebelah anak itu.
“Ish, siapa yang bolehin Om duduk di sini? Sana jauh-jauh!” usir anak laki-laki berusia delapan tahun tersebut.
Zen berdecak seraya menyenggol bahu Romeo untuk menggodanya. “Kamu tuh yang harusnya izin sama Om kalau mau duduk di sini! Asal kamu tahu, semua yang ada di sini tuh punya Om,” balas Zen berbangga diri.
“Oh, makanya Om berani bentak-bentak Kakek aku, gitu? Gak sopan,” dengkus Romeo sambil membuang muka.
“Lah, kamu juga gak sopan sama Om. Impas ‘kan?” sahut Zen sekali lagi menyenggol bahu Romeo yang dibalas gerutuan.
Meskipun pemuda itu tidak menyukai situasi pertemuannya dengan Audi, tapi biarlah itu menjadi urusannya sendiri. Tak perlu Romeo ikut terkena imbasnya, karena Zen yakin jika anak itu juga tidak tahu apa-apa.
“Mau es krim, gak?” tanya Zen kemudian, mengalihkan pembicaraan.
Romeo melirik sinis dan terdiam selama beberapa saat.
“Mau, gak? Bisa ambil sendiri, loh,” tawar Zen sekali lagi.
“Beneran?”
Kedua sudut bibir Zen terangkat sembari kembali berdiri. Sebelah tangannya terulur, meminta Romeo untuk mengikutinya.
Memang, tempat kerja Zen menyediakan fasilitas mesin es krim, mesin pembuat kopi, dan berbagai minuman bahkan makanan ringan lainnya. Semua disediakan secara gratis untuk menemani pengunjung menunggu kendaraannya selesai di servis.
Sama seperti anak-anak kebanyakan, Romeo pun antusias saat diizinkan untuk menekan tuas dan menampung es krimnya dalam cone. Sikap ketusnya juga perlahan luntur pada Zen yang ternyata tidak seburuk yang ia pikirkan sebelumnya.
Meskipun tetap saja ia tidak suka Zen mengeraskan suaranya pada sang kakek. Hal itu mengingatkannya pada seseorang yang tak ingin terlalu diingat oleh otak kecilnya.
“Makasih, Om,” ujar Romeo setelah mendapatkan es krimnya.
“Iya,” balas Zen seraya membawa Romeo untuk duduk. “Mama kamu ke mana?” tanyanya kemudian.
“Lagi ngobrol sama Om yang di sana,” jawab Romeo sambil menunjuk deretan mobil yang di pajang. “Kalau jual mobil di sini bisa dibeli mahal gak, Om?”
Zen menengok sesaat dengan sebelah alis yang terangkat lalu balik bertanya, “Mama kamu mau jual mobil?”
“Iya,” jawab Romeo sambil mengangguk seraya kembali menjilat es krim di tangannya.
“Wah, mau beli yang lebih bagus lagi, ya?” tebak Zen menunjukkan antusiasme tinggi.
Sayangnya Romeo justru menggelengkan kepala beberapa kali. “Mama gak punya uang lagi, makanya mobilnya dijual.”
Penjelasan itu sejenak membuat Zen terdiam. Ternyata kondisi mantan guru sekaligus wanita yang masih dicintainya itu tidak terlalu baik, sampai-sampai kendarannya pun harus dijual.
“Om bisa bantuin Om itu biar beli mobilnya Mama, gak?” tanya Romeo kemudian.
“Lagi butuh banget, ya?” Zen balik bertanya sembari menatap sosok Audi serta salah satu anak buahnya yang sedang berdiskusi di sisi lain.
Sekali lagi Romeo mengangguk dengan semangat. “Sebenarnya Mama gak tahu kalau aku tahu, tapi sering ada orang datang dan mengancam mau mengambil rumah kami kalau sertifikat rumah tidak segera di tebus,” curhatnya.
“Mama kamu punya hutang?” Zen terkesiap.
Romeo mengedikkan bahunya. “Gak tahu. Kalau bukan mama yang hutang, ya pasti papa. Gak mungkin aku ‘kan Om yang gadaiin sertifikat rumah,” selorohnya.
“Siapa tahu ‘kan, kamu iseng atau gak tahu tiba-tiba itu sertifikat di sekolahin,” timpal Zen menanggapi. “Tapi, mama kamu bukannya sudah PNS? Gajinya lumayan dan papa kamu juga pasti kerja ‘kan? Kenapa bisa sampai kayak gitu?”
Bukan bermaksud ingin tahu kondisi keuangan orang lain apalagi mencampuri rumah tangga mantan gurunya, Zen hanya tidak habis pikir saja. Seperti yang ia ucapkan, seharusnya kehidupan Audi tidak seburuk itu. Kecuali jika mereka memiliki gaya hidup hedon yang terlalu mewah hingga tidak sesuai dengan kantongnya.
Namun, sepenglihatan Zen siang menjelang sore ini, baik Audi maupun Romeo sama-sama tidak ada yang menunjukkan gelagat tersebut. Keduanya terlihat sederhana, bahkan Romeo juga sangat antusias saat diberikan es krim gratis olehnya. Pasti ada hal lain yang menyebabkan buruknya ekonomi mereka saat ini.
“Maaf ya, Om tanya begitu bukan bermaksud kepo sama keluarga kamu,” ujar Zen buru-buru supaya Romeo tidak salah paham.
Romeo menundukkan kepala sambil menatap es krimnya. Ia tampak kembali murung dan hal itu membuat Zen was-was.
“Papa selalu pergi-pergi, jarang di rumah, jarang kasih uang juga,” ungkap Romeo bernada sendu.
Tak bisa dipungkiri jika hal itu cukup mengherankan dan membuat penasaran. Namun, lagi-lagi Zen ingat pada batasan dan kapasitasnya. Ia tidak memiliki hak untuk bertanya lebih jauh, tak peduli bagaimana perasaannya pada Audi selama ini. Bahkan berbincang dengan Romeo saat ini juga tanpa maksud untuk mendekati serta mengambil hati anak itu. Zen hanya sedang tidak tega saja melihat anak kecil berkeliaran sendirian di tempat kerjanya.
Akhirnya Zen pun mengulas senyumnya sambil mengusap bahu Romeo, bermaksud menenangkan. Sebelah tangannya juga meraih ponsel yang ada di saku celana seraya mengoperasikan benda pipih itu. Tak berapa lama, sosok anak buah Zen yang sedang berbincang dengan Audi pun tampak menerima panggilannya.
“Model sama kondisi mobilnya gimana?” tanya Zen secara langsung setelah menjawab salam sang anak buah. “Jangan nengok, jawab aja!” serunya memerintah saat melihat gelagat anak buahnya yang seperti mencari keberadaannya.
“Fiesta tahun dua ribu empat belas, Pak. Kondisi lumayan, meskipun ada beberapa bagian yang harus di servis. Kilometernya tiga puluh ribu sekian,” jelas sang anak buah.
Sebelah alis Zen menukik, menatap Romeo yang ada di sampingnya. Jumlah kilometer itu tidak banyak, mengingat tahunnya yang sudah cukup lama. Sepertinya Audi jarang menggunakan mobilnya untuk bepergian jauh.
“Minta berapa?” tanya Zen lagi.
“Seratus tiga puluh, Pak.”
“Ya sudah, kasih aja! Tapi jangan bilang kalau saya yang suruh!”
“Tapi, Pak, apa gak kemahalan?”
“Enggak,” sahut Zen tegas dan tanpa pikir panjang. “Sudah, langsung proses saja! Tapi ingat, jangan sebut-sebut nama saya!”
Tak lama kemudian, sambungan telepon pun terputus. Zen mengembalikan ponselnya ke dalam saku seraya menengok pada Romeo di sampingnya.
Raut berbinar anak itu kembali terlihat dan hal itu menumbuhkan senyum di wajah sang pemuda. Rasanya menyenangkan melihat Romeo tersenyum. Zen ingin terus melihatnya. Bukan berarti Zen menyukai Romeo secara spesial, ia memang menyukai anak-anak seperti ia menyukai keponakannya. Setidaknya itulah yang otak Zen pikirkan saat ini.
“Terima kasih, Om. Aku gak jadi sebel sama Om,” ungkap Romeo sambil memamerkan deretan giginya yang rapi.
“Alah, setelah dibaikin baru bilang gak sebel. Dasar modus,” timpal Zen bercanda dan dibalas tawa renyah Romeo.
“Jadi, hari ini mama sudah bisa punya uang ‘kan, Om?” anak itu kembali bertanya untuk memastikan.
“Iya, tadi kamu denger sendiri ‘kan?” Zen balik bertanya yang diangguki dengan lega oleh Romeo. “Paling lambat nanti Isya’ lah sudah di transfer ke mama kamu.”
Tanpa di duga, Romeo menghambur dan memeluk Zen dari samping. Jika di awal-awal perkenalan mereka tadi Romeo bersikap ketus, maka saat ini ia tak hentinya mengucapkan terima kasih, karena Zen telah membantu mamanya menyelesaikan masalah.
Sebenarnya tanpa Romeo minta pun, jika Zen mengetahui Audi tengah dalam masalah, ia siap membantu. Terlepas dari bagaimanapun perasaan Zen pada wanita itu, saling membantu adalah sebuah kewajiban. Begitulah prinsip yang dipegangnya.
“Terima kasih, Om. Sungguh Om Zen baik banget. Tapi bakalan makin keren lagi kalau gak suka marah-marah, apalagi sama kakek,” ujar Romeo tanpa melepas pelukannya.
Zen mendecih, tetapi bibirnya menyunggingkan senyum geli. Ia mendorong dahi Romeo pelan-pelan untuk menjauh dari bahunya menggunakan telunjuk.
“Modus mulu ini bocah kecil. Bisaan banget ngerayu. Perasaan Audi dulu gak begini, pasti nurun dari papa kamu, ya?” Zen menebak.
Niatnya untuk bercanda, tetapi ia tidak tahu dan tidak menyadari bahwa kalimat itu cukup menyentil perasaan Romeo. Terlebih anak itu juga tidak menunjukkan dan justru memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
“Bukannya tadi Om bilang mau kerja, ya? Gak jadi, Om?” tegur Romeo yang serta merta membuat Zen menepuk jidatnya.
“Ah, gara-gara kamu, nih, jadi lupa mau kerja,” gerutu Zen seraya beranjak.
“Bisa-bisanya nyalahin aku, Om sendiri yang nyamperin aku duluan!” seru Romeo membela diri.
“Ngeles aja, Romeong,” sempat-sempatnya Zen mengejek.
“Om Jeeenn!” pekik Romeo kesal, tetapi Zen justru tergelak.
Sebelum benar-benar beranjak pergi, Zen mengulurkan tangannya dan mengusap puncak kepala Romeo yang tengah cemberut.
“Baik-baik sama mama, selalu bantu kalau mama kesusahan,” pesan Zen singkat yang segera diangguki oleh Romeo.