04 Mengakhiri

1436 Kata
Sinar mentari mulai menembus jendela yang gordennya masih tertutup rapat. Perlahan, ruang temaram itu menjadi lebih terang. Namun, hal itu belum mampu membangunkan sosok yang masih meringkuk di bawah selimut tebalnya. Barulah beberapa menit kemudian terdengar suara lenguhan yang beradu dengan deru pendingin udara. Zen menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dengan sebelah tangan memijit kepala yang terasa berat. Matanya perlahan memindai keadaan sekitar. “Di mana?” gumam pemuda itu dengan suara serak khas bangun tidur. Punggungnya bersandar di kepala ranjang dan Zen terdiam beberapa saat, mengumpulkan seluruh kesadaran yang sempat hilang. Kepalanya mulai bekerja, mengingat alasan dirinya tidak terbangun di ranjang kamarnya pagi ini. Ruangan itu begitu asing, tetapi sangat rapi, bersih, dan bernuansa putih. Tak ada tanda-tanda kehidupan lain selain dirinya. Masih dengan kepalanya yang terasa berat, Zen mencoba mencari ponselnya yang ternyata berada di sisi bantal. Segera dioperasikannya benda pipih itu yang membuat kedua bola mata Zen terbuka lebar. Puluhan panggilan tak terjawab serta pesan yang berasal dari Gladys. Zen ingat, semalam ia menemani Gladys menghadiri pesta pernikahan teman gadis itu, sekaligus menjadi penanda berakhirnya hubungan Zen dengan Gladys. Namun, itu masih belum menjawab bagaimana Zen bisa berakhir di kamar yang asing ini. Gladys Sayang, lama banget ke toiletnya? – 20.35 Pesan tersebut dikirim semalam. Saat itu, Zen memang berpamitan pada teman kencannya untuk pergi ke toilet. Namun, sebenarnya ia tidak benar-benar ke toilet, hanya melipir ke taman atap yang berada satu tingkat di atas aula hotel tempat acara dilangsungkan. Zen menyingkir dari keramaian sambil membawa beberapa makanan dan minuman kemasan dari acara. Sayangnya, ia tidak tahu jika minuman yang dibawanya adalah minuman beralkohol. Zen sempat meminum dua teguk, tetapi segera membuangnya begitu sadar jika minuman itu tidak seharusnya ia konsumsi. Meskipun demikian, dua teguk itu mampu membuat Zen hilang kesadaran dan memorinya terputus. Sepertinya ia mabuk dan bangun-bangun sudah berada di atas ranjang kamar asing ini. Pemuda itu menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Matanya kembali fokus pada ponsel yang menampilkan deretan pesan dari Gladys yang bertubi-tubi. Gladys Aku nungguin di depan toilet cowok, nih! Buruan! – 20.50 Sayang! – 20.55 Kok kamu gak ada di dalam kata orang yang aku tanyain? – 20.56 Ih, malah gak dibaca. Kamu ke mana sebenernya? Aku mau pulang! – 21.10 Astaga, Sayang! Jawab dong teleponku! – 21.25 Kalau gak mau nganterin aku pulang, harusnya bilang! Jangan cuekin aku begini! – 21.27 Aku terima kok kita putus malam ini, tapi masa’ kayak gini putusnya? – 22.30 KAMU JAHAT! – 22.31 KITA PUTUS! – 22.32 Ingat! Aku yang putusin kamu, bukan kamu yang putusin aku! – 23.03 ZEN NYEBELIN! – 23.45 DASAR BUAYA GAK PUNYA SOPAN SANTUN! – 23.46 Pemuda itu mengusap wajahnya dengan kasar. Beragam kata u*****n dikirimkan oleh Gladys yang kini telah menjadi mantan kekasih entah yang nomor berapa. Namun, sepertinya kali ini Zen tidak benar-benar layak menerima u*****n itu. Ia memiliki alasan kuat atas sikap abainya. Hanya saja, pemuda itu tidak ingin menjelaskan yang terkesan sebagai pembelaan. Itu bukan gayanya. Ia tetap akan memutuskan hubungan mereka dengan cara yang benar. Namun, sebelum melakukan hal itu, ia harus keluar dari tempat ini terlebih dahulu. Lagipula, Zen juga penasaran dan ingin tahu, bagaimana ia bisa berakhir di kamar asing ini. Pemuda itu beranjak, membuka selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Tubuhnya kemudian membungkuk, memunguti pakaiannya yang tercecer di bawah ranjang. Zen sama sekali tidak heran atau curiga mengapa ia bisa berakhir tanpa pakaian di balik selimutnya. Salah satu hal yang tak banyak diketahui orang adalah kebiasaannya untuk tidur tanpa mengenakan pakaian. Sekitar empat puluh menit kemudian, pemuda itu telah selesai membersihkan diri di kamar mandi. Walau kembali mengenakan pakaiannya yang semalam, tetapi tampilannya sudah jauh lebih segar dan kepalanya sudah mampu berpikir dengan lebih jernih. Ternyata ia masih berada di hotel yang semalam ia datangi bersama Gladys. Segera ia menuju resepsionis untuk menuntaskan rasa penasarannya. “Saya mau check out,” ujar Zen menyerahkan kartu kamarnya. “Sudah dibayar belum, ya? Maaf, saya lupa.” “Saya cek dulu sebentar, Tuan,” balas resepsionis itu dengan ramah. “Sudah lunas, Tuan. Atas nama Tuan Zenvo Prasetio, bukan?” “Saya sendiri yang check in?” Zen memekik ragu. “Benar. Apa ada masalah, Tuan?” Pemuda itu terdiam sesaat lalu menggeleng kecil. Ia benar-benar tidak ingat. “Saya sendirian?” tanya Zen memastikan. “Tidak, Tuan! Kebetulan semalam saya yang menginput reservasi kamar Tuan,” sahut pria yang tidak memakai seragam. Sepertinya ia juga seorang resepsionis, tetapi jam kerjanya sudah berakhir. “Seorang bapak-bapak paruh baya membopong Tuan yang sepertinya tidak baik-baik saja. Beliau menyampaikan maaf, karena sudah mengambil dompet Tuan tanpa izin untuk melakukan reservasi. Saya juga membantu bapak-bapak itu mengantar Tuan ke kamar,” jelas resepsionis itu yakin. Akhirnya rasa penasaran Zen terjawab dan tak lupa ia mengucapkan terima kasih. Sebagai seseorang yang tidak pernah mengkonsumsi alkohol, hanya dua teguk saja sudah membuatnya black out. Nantinya ia harus lebih teliti lagi. “Apa bapak-bapak itu meninggalkan kontak informasi? Saya ingin mengucapkan terima kasih,” tanya Zen merasa berhutang budi. “Tidak ada, Tuan. Beliau langsung pergi begitu saja,” jawab sang resepsionis pria. “Sepertinya beliau juga tamu di acara resepsi semalam. Saya tidak terlalu yakin.” “Boleh lihat CCTV? Saya tidak tenang kalau belum berterima kasih secara langsung,” tanya Zen lagi. Para pegawai hotel itu saling berpandangan dengan ragu. Secara regulasi, orang luar memang tidak diizinkan untuk melihat rekaman CCTV tanpa dibarengi dengan surat perintah kepolisian. Namun, dalam kasus ini, jelas Zen tidak memiliki niat buruk. Mereka pun memutuskan untuk bertanya terlebih dahulu pada manager, supaya tidak ada kesalahan. Setelah beberapa saat berdiskusi, Zen diizinkan melihat rekaman tersebut. Sayangnya, pria paruh baya itu tidak pernah terlihat menatap ke arah kamera. Ia selalu dalam posisi menunduk atau memalingkan wajah dari kamera. Dari ciri fisiknya, pria itu mungkin berusia antara lima hingga enam puluhan. Tubuhnya sedikit lebih pendek dari Zen. Posturnya agak tambun, tetapi masih tegap dengan rambut yang berwarna hitam kelam tanpa uban. Satu hal yang paling mencolok dan bisa menjadi pengingat adalah keberadaan tato bintang jatuh di punggung tangan kanannya. Hanya lima menit pria paruh baya dan resepsionis itu berada di kamar Zen. Setelah itu tak ada lagi pergerakan apa pun, sampai pagi ini Zen keluar dari dalam sana. “Tidak kelihatan wajahnya, Tuan,” gumam resepsionis pria yang menemani Zen menyaksikan rekaman tersebut. Zen mengangguk membenarkan. “Semoga kebaikannya menolong saya dibalas melalui tangan lain,” gumam Zen tulus. “Terima kasih juga Mas sudah membantu. Kalau lain kali ketemu sama bapak itu, tolong hubungi saya.” Pemuda itu mengulurkan kartu namanya sekaligus berpamitan pergi. Hatinya merasa lega. Setidaknya saat ia dalam kondisi yang buruk masih ada orang baik yang mau membantunya. Selesai dengan masalah hotel, Zen berpindah ke gedung apartemen tempat di mana Gladys tinggal. Dalam perjalanan ia sempat menghubungi gadis itu yang dijawab dengan ketus. Keduanya pun bertemu dan Zen memberikan alasannya yang tidak mengakhiri hubungan mereka secara baik-baik semalam. “Kamu gak bisa kasih aku kesempatan lagi? Maaf, semalam aku emosi sampai ngomong jahat,” bujuk Gladys dengan mata memelas. “Gue ke sini cuma untuk mengakhiri semuanya dengan benar, bukan ngasih harapan,” balas Zen kukuh. Gladys menghela napasnya panjang dan perlahan melepas genggaman tangannya dari lengan sang mantan kekasih. Bahunya luruh, bibirnya mengerucut, dan pandangannya pun redup. “Ya, aku tahu, memang begini perjanjian kita sejak awal,” cicit gadis itu setengah tidak rela. “Tapi kalau kamu berubah pikiran, aku bisa nunggu kamu.” “Itu tidak akan terjadi,” timpal Zen yakin. Bagaimana mungkin Zen berubah pikiran jika Audi sudah kembali? Walaupun nyatanya wanita itu sudah berkeluarga, tapi tetap saja Zen sangat senang bisa bertemu dengan wanita itu lagi. Zen yang hanya menemui Gladys di lobi apartemen itu pun segera berpamitan dan pergi. Saat hendak membuka kunci pintu mobil, matanya menangkap sosok paruh baya berkemeja batik yang cukup familiar. Itu adalah pakaian yang sama dengan pria yang menolongnya semalam. Belum lagi gerakan pria itu yang sedang menyugar rambutnya, memamerkan tato yang sama dengan yang Zen lihat melalui CCTV pagi ini. Tidak salah lagi, itu adalah pria yang semalam menolongnya. Sepertinya Zen sedang sangat beruntung dan senyum pun segera mengembang di wajah tampannya. Akhirnya, ia bisa mengucapkan terima kasih secara langsung pada pria itu. Tanpa ragu, Zen segera menghampiri si pria yang hendak keluar dari halaman gedung apartemen tersebut. Tangannya segera menepuk bahu si pria paruh baya yang segera berbalik badan. Secara bersamaan, Zen dan pria paruh baya itu membelalakkan mata. Keduanya terdiam kaku bagaikan patung dengan degup jantung yang meningkat tajam. Senyum di wajah Zen menghilang, tatapan lembutnya berubah tajam, begitupula dengan rahangnya yang mengeras. Ia mengenali pria itu. “Papa?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN