Bab 16

1767 Kata
Suara tembakan terdengar dari arah ruang tamu mansion. Satu peluru telah menembus kepala Monica hingga membuat wanita itu terjatuh ke lantai dengan darah yang mengucur deras dari kepalanya. Siapa pelakunya? Sudah jelas Athan Doxiadis Carras. Setelah Monica selesai mengucapkan segala kutukannya, Athan langsung menarik pelatuk di pistolnya untuk melenyapkan Monica. Michaël yang melihat hal itupun hanya bisa menghela napas berat sambil memohon ampunan pada Tuhan, karena telah membiarkan seorang wanita ditembak mati seperti itu. Lagi-lagi, Michaël tidak bisa berbuat apapun selain mendoakan yang terbaik untuk Monica. Begitu pula yang dirasakan oleh Damien. Tapi Damien merasa bangga pada Monica, karena wanita itu bersedia mati demi melindungi Zehra. Setelah menembak Monica, Athan dengan santainya duduk di sofa sambil tetap menatap mayat Monica yang masih tergeletak di lantai ruang tamunya. Senyum seringai sengaja ia tunjukkan ke arah Monica yang kedua matanya masih terbuka, menatap ke arahnya. Dan tak berapa lama kemudian, kedua mata itu terpejam. "Bawa dia ke mansion belakang," Athan berbicara pada Michael. "Perintahkan penjaga di sana untuk melakukan tugasnya seperti biasa. Ambil semua organnya, jangan sampai ada yang tersisa. Dan mutilasi saja tubuhnya lalu buang ke lautan." Michaël mengangguk pasrah. Jika sudah begini, batin Michaël akan merasa tersiksa, karena ia harus memperhatikan setiap hal mengerikan itu sampai selesai. Setiap kali Michaël melihatnya, perutnya terasa mual dan kepalanya akan terasa pusing. Terkadang, ia mencari alasan pada penjaga untuk pergi ke toilet. Selama berjam-jam Michaël akan bersembunyi di toilet sampai proses eksekusinya selesai. Tanpa menunggu lama, Michaël langsung membawa mayat wanita malang itu menuju mansion kedua, dibantu oleh Damien. Sementara itu, para pelayan membersihkan noda darah yang ada di lantai hingga bersih. Athan sendiri pergi keluar menuju gudang. Tujuannya adalah untuk memeriksa keberadaan Zehra. Dibukanya pintu gudang, dan terlihatlah Zehra tengah tertidur beralaskan lantai berdebu di sana. Setelah memastikan Zehra tidur, Athan kembali menutup pintu gudang dan menguncinya dari luar. Kunci itu dicabut dan dimasukkan kedalam saku celananya. Lalu, bagaimana bisa Zehra kembali ke gudang? Gilbert yang melakukannya. Setelah kepala pelayan itu mendengar suara tembakan dari ruang tamu, ia bergegas menuju kamar Adèle dan meminta Zehra untuk kembali ke gudang sementara waktu. Tujuan Gilbert agar Athan tidak murka saat pria kejam itu memeriksa gudang. Untungnya, Zehra sudah terbangun dari tidurnya saat berada di kamar Adèle. Zehra pun menuruti perintah Gilbert dan langsung menuju gudang. Gilbert sengaja menguncinya dari luar agar Athan tidak curiga. Tapi untungnya, Gilbert mempunyai kunci duplikatnya dan sudah memberikan kunci tersebut kepada Zehra sebelum Athan datang. Setelah memastikan Athan telah pergi dari gudang, Zehra langsung membuka kedua matanya yang sengaja ia pejamkan sejak tadi. Zehra mengucap syukur karena Athan tidak menyiksanya kembali. Zehra sendiri masih merasakan ngilu pada sendi-sendinya. Kepalanya juga masih terasa pusing akibat benturan keras yang diterimanya. Tapi, Adèle sudah memberikan obat penghilang rasa pusing sebelum ia kembali ke ruangan tersebut. "Ya Tuhan, takdirku benar-benar menyeramkan. Bisakah aku melewati ini semua, Tuhan? Sungguh, aku ingin sekali terbebas dari tempat ini dalam kondisi hidup. Aku ingin kembali ke negaraku saja. Rasanya, aku lebih aman hidup di sana daripada di sini," gumam Zehra sedih. Wanita itu langsung merogoh saku celananya untuk memeriksa ponselnya. Untung saja, Athan tidak menyita ponselnya. Jadi, Zehra bisa mencari hiburan di ponsel tersebut. Zehra kembali memasang earphone-nya untuk menonton beberapa film kesukaannya. Zehra hanya berusaha untuk tidak memikirkan masalah yang terjadi hari ini. Hari ini, penyiksaan yang dilakukan Athan sungguh mengerikan, sampai membuat Zehra merasa trauma. Hanya film-lah yang akan menjadi penghiburnya. *** Keesokan paginya, Zehra sudah disilaukan oleh cahaya matahari yang berasal dari pintu gudang. Ternyata, pintu itu sudah terbuka. Samar-samar, Zehra melihat ada seseorang yang berdiri di depan pintu tersebut. Zehra mencoba mengerjapkan kedua matanya untuk menetralkan pandangan. Sesaat kemudian, Zehra terkejut sambil memundurkan tubuhnya ke belakang. Dilihatnya Athan sudah mengenakan pakaian formal yang rapi dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana. Athan berdiri tegap di depan pintu dengan tatapan datarnya. "Keluar," perintah Athan. Tapi Zehra masih diam mematung di sana. Athan yang melihat itupun mendadak kesal dan menginterupsi Zehra dengan pukulan tangannya ke pintu. Zehra tersentak dan berusaha berdiri secara perlahan, karena seluruh tubuhnya masih terasa sakit. Ia berjalan perlahan mendekat ke arah Athan, tanpa menatapnya. "Jika kau masih ingin hidup, maka dengarkan segala perintahku. Jangan membantah apalagi mengambil keputusan sendiri. Aku sangat membenci hal itu, karena aku yang berkuasa di sini. Paham?" tegas Athan. Zehra mengangguk patuh. "Aku paham." "Bagus. Sekarang masuk, bersihkan tubuhmu. Pelayan akan mengantarkan makanan ke kamar," ujar Athan. "Dan kau dilarang untuk keluar dari kamar. Jika butuh sesuatu, tekan saja bel yang ada di dekat nakas. Pelayan akan langsung datang." "Baik, Athan." Saat Zehra hendak beranjak pergi, tiba-tiba Athan kembali menahannya. Zehra pun kembali berbalik untuk berhadapan dengan suaminya, tanpa berani menatapnya. "Ada hal yang harus kau dengarkan baik-baik. Jangan pernah pergi ke mansion belakang tanpa persetujuanku. Tempat itu merupakan area privasi dan hanya boleh dikunjungi oleh Raid King. Jika kau melanggarnya, maka jari-jari tanganmu ini yang akan menjadi tumbalnya. Mengerti?" "Aku mengerti, Athan," ucap Zehra. "Baiklah. Sekarang, kau boleh masuk ke dalam." Zehra bergegas pergi dari hadapan Athan menuju kamar utama. Ia pun melakukan apa yang diperintahkan Athan. Mungkin dengan menuruti segala keinginan Athan, Zehra bisa mengubah sifat kasar Athan, meskipun tingkat kesuksesannya sangat kecil. Tapi, Zehra harus tetap optimis. Jika Athan bisa berubah, maka hidup Zehra akan tenang dan bahagia. Setelah selesai membersihkan diri, seorang pelayan masuk ke kamarnya dengan membawa sebuah nampan berisi makanan serta segelas s**u untuknya. Pelayan tersebut meletakkan makanan dan segelas s**u itu di atas nakas. Kemudian, pelayan tersebut membantu Zehra untuk mengobati luka di kepala serta mengompres punggungnya yang masih terasa sakit dengan handuk hangat. Pelayan tersebut sangat telaten dalam memberi pelayanan pada Zehra. Bahkan ia tidak merasa keberatan memijat tangan serta kaki Zehra. Zehra pun merasakan ketenangan hari ini. Semoga tidak akan ada lagi penyiksaan seperti kemarin. "Madame, jika anda perlu sesuatu, tekan saja tombol itu. Saya akan segera datang untuk melayani anda," ujar sang pelayan setelah selesai memijat tangan dan kaki Zehra. "Baiklah. Terima kasih atas pelayanannya," ucap Zehra dengan tulus. Pelayan tersebut mengangguk lalu permisi untuk keluar dari kamar. Setelah itu, Zehra memilih duduk di kursi balkon untuk menikmati sarapannya. Di sana, terdapat sebuah kursi santai beserta meja di sisi kanan balkon. Zehra memakan sandwich yang disediakan oleh pelayan sambil melihat pemandangan dari arah balkon. Dari sana ia bisa melihat mansion yang dimaksudkan oleh Athan. Mansion itu juga kelihatan sangat mewah, meski ukurannya tidak sebesar mansion utama. Zehra juga terkejut melihat halaman belakang yang cukup luas. Sejak datang ke mansion ini, Zehra belum pernah melihat bagian belakang mansion. Ternyata halamannya juga luas, sama seperti halaman depan. "Kau memang berhak berkuasa, karena kau memiliki banyak uang, Athan," gumam Zehra pelan. "Tapi kau harus tahu, kehidupan tak selamanya berada di atas. Suatu saat, mungkin kau akan merasakan bagaimana menjadi rakyat jelata yang hidupnya selalu ditindas oleh orang-orang yang berkuasa atas segala-galanya. Kau pasti tidak akan siap menghadapi itu, karena gaya hidupmu yang sudah terlanjur mewah sejak awal." Zehra menghela napas berat, kemudian mengambil segelas s**u dari atas meja. Ia meminumnya sedikit sambil tetap menatap pemandangan yang ada di belakang mansion. Zehra melihat beberapa tukang kebun tengah membersihkan halaman tersebut dan menyirami tanaman yang ada di sana. Ia juga melihat kandang kuda yang desain begitu mewah. Kuda-kuda milik Athan memiliki harga yang cukup fantastis dan orang biasa tidak akan mampu membelinya. Disaat Zehra tengah melamun, tiba-tiba suara teriakan wanita terdengar jelas di telinganya. Suara itu berasal dari arah mansion kedua. Sontak Zehra langsung berdiri dan melihat ke arah mansion tersebut. Seketika, jantungnya berdegub kencang karena suara teriakan itu terdengar kembali. Kali ini, wanita itu berteriak meminta tolong dengan suara yang sepertinya sedang menahan rasa sakit. "Mungkinkah wanita itu diperkosa oleh mereka? Atau mungkin sedang dieksekusi?" gumam Zehra ketakutan. "Itu benar, Madame." Zehra tersentak dan langsung menoleh ke belakang. Setelah mengetahui siapa yang berbicara, barulah Zehra bisa menghela napas lega. "Michaël. Ternyata itu kau." "Maafkan saya karena sudah membuat anda terkejut," ucap Michaël sopan. "Ah, tidak apa-apa. Tidak perlu minta maaf." Michaël mengulas sebuah senyum, lalu kembali menatap ke arah mansion kedua. Ia menghela napas sejenak, kemudian mulai berbicara pada Zehra, "Mansion itu memang dikhususkan untuk mengeksekusi para tahanan, termasuk wanita dan anak-anak. Yang baru saja anda dengar adalah teriakan dari seorang remaja berusia delapan belas tahun. Tubuhnya dibelah untuk mengambil organ dalamnya, tanpa bius sedikitpun. Kedua bola matanya sudah dicongkel lebih dulu." "Ya Tuhan!" Zehra menutup mulutnya yang menganga tak percaya. "Ba-Bagaimana bisa mereka melakukan hal sekejam itu pada seorang remaja? Mereka sudah merusak masa depan anak remaja itu," lanjutnya. "Itu hanya berlaku untuk orang-orang yang berpikiran normal dan memiliki hati nurani seperti kita, Madame. Tidak untuk orang-orang kejam seperti Raid King. Seorang mafia dituntut untuk mengesampingkan hati nuraninya dan harus lebih menonjolkan kekejamannya. Itu sebabnya, Monsieur Athan sangat sulit untuk dinasehati, karena beliau memegang prinsip bodoh tersebut." Zehra mendengus kesal. "Aturan macam apa itu? Bagaimana bisa mereka dituntut untuk mengesampingkan hati nurani? Dimana pikiran mereka? Mereka punya keluarga. Bagaimana jika hal buruk itu juga menimpa salah satu dari keluarga mereka? Aku tidak habis pikir dengan peraturan aneh seperti itu." "Itulah kenyataannya, Madame. Saya sendiri tidak bisa mengubah peraturan itu." "Lalu, kau sendiri, apa pernah melakukan hal kejam itu?" tanya Zehra. Michaël menggeleng. "Saya sering membunuh musuh, tapi tidak pernah melakukan hal keji seperti itu. Monsieur pernah meminta saya untuk mengeksekusi seorang tahanan lansia. Tapi, saya menolaknya dengan tegas. Lebih baik saya membunuh seribu musuh daripada harus membunuh orang yang tidak berdosa, apalagi seorang lansia." "Hhh! Syukurlah. Aku lega mendengarnya," ucap Zehra. "Bagaimana dengan luka anda? Apa perlu saya panggilkan dokter untuk memeriksanya?" Zehra langsung menggeleng. "Tidak perlu. Aku sudah baik-baik saja. Terima kasih karena kau sudah menolongku kemarin." "Itu sudah menjadi kewajiban saya, Madame." "Kau datang ke sini untuk apa? Apakah Athan memanggilku?" tanya Zehra penasaran. "Ah, tidak, Madame," jawab Michaël. "Beliau meminta saya untuk menjaga anda. Saya dilarang oleh beliau untuk membawa anda keluar dari kamar." Zehra mendecih. "Dia memintamu untuk menjagaku, tapi dia sendiri sering menyakitiku. Pria macam apa itu?" "Anda harus memakluminya, Madame. Sangat sulit untuk mengubah sifatnya. Hanya Tuhan yang mampu melakukan segalanya, tapi kita tidak tahu kapan masa itu akan datang. Tuhan masih menguji kesabaran anda dalam menghadapi Monsieur," ujar Michaël. "Ya, kau benar." "Kalau begitu, saya permisi dulu, Madame. Jika butuh sesuatu, panggil saja saya, karena saya akan berjaga di depan kamar anda." Zehra mengangguk. "Baiklah." Michaël sedikit membungkuk untuk memberi hormat, kemudian beranjak pergi meninggalkan Zehra sendiri di kamar tersebut. Zehra pun kembali menatap ke arah mansion yang masih mengeluarkan suara-suara menyedihkan itu. Wanita cantik itu memutuskan untuk masuk ke dalam dan memilih duduk di dalam sambil membaca beberapa koleksi buku yang ada di laci nakas. To be continue~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN