Siang hari yang cukup terik, Zehra memutuskan untuk menemui Athan. Zehra ingin sekali kembali menjadi model, karena merasa bosan terus berada di mansion. Lagipula, itu merupakan janji Athan sebelum menikahinya. Zehra akan mencoba untuk menagih janji itu. Ia benar-benar merindukan suasana pemotretan dan wajahnya terpampang di sebuah majalah ternama yang bekerjasama dengan brand terkenal di dunia. Zehra pun keluar dari kamar untuk mencari keberadaan Athan. Sebelumnya, Michaël menahannya untuk pergi. Tapi setelah Zehra menyampaikan tujuannya, akhirnya Michaël mengizinkan Zehra. Wanita cantik asal Turki itupun bergegas menuju halaman depan dan melihat Athan tengah bersantai di tepi kolam renang. Suaminya hanya mengenakan boxer dan tidak memakai baju.
Zehra langsung duduk di samping kanan Athan dan hal itu membuat Athan terkejut. Pria itu menatap sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Bukankah sudah kukatakan untuk tidak keluar dari kamar? Kenapa kau keluar sekarang? Kau ingin kusiksa lagi?"
"Tidak. Aku ke sini hanya ingin menagih janjimu," ujar Zehra, berusaha bicara baik-baik dengan suaminya. "Sebelum menikah, kau berjanji untuk membiarkanku berkarir di dunia model. Sekarang, aku menagih janji itu. Bisakah kau menepatinya?"
Athan langsung menatap Zehra dengan datar. "Tidak."
"Tapi...."
"Sekali tidak, tetap tidak," Athan menyela sambil berdiri dan berjalan meninggalkan Zehra.
Zehra pun mengikuti Athan dari belakang. Ia terus berusaha memohon pada Athan agar dirinya kembali bekerja di Lemaire Entertainment. Zehra sangat merindukan tempat itu. "Athan, kumohon, izinkan aku bekerja kembali di sana. Aku...."
"Aku bilang tidak," Athan kembali menyela. Pria itu berjalan masuk ke kamar dan mengambil sebuah kemeja berwarna putih, lengkap dengan jas dan celana berwarna hitam. Athan bergegas ke kamar mandi untuk memakai pakaian yang diambilnya dari lemari. Saat Athan hendak membuka boxernya, tiba-tiba Zehra masuk ke dalam dan Athan baru ingat jika dirinya lupa mengunci pintu. "Apa yang kau lakukan, hah?! Aku sedang ganti pakaian! Pergi sana!"
Zehra menggeleng. "Aku tidak akan pergi sebelum kau mengizinkanku bekerja."
"Astaga! Apa kau tuli, hah?! Aku sudah memutuskan untuk tidak mengizinkanmu bekerja! Lagipula, kau juga tidak pantas menjadi model dengan kondisi seperti ini! Lebih baik kau diam di mansion saja!"
Athan langsung mendorong paksa Zehra hingga Zehra terjatuh di lantai. Pintu kamar mandi pun segera ditutup oleh Athan agar Zehra tidak dapat masuk ke dalam. Sementara Zehra sedikit meringis kesakitan, karena pinggangnya terasa sakit. Wanita itu berusaha berdiri sambil memegangi area pinggangnya dan berjalan menuju tempat tidur. Ia duduk bersandar di sana. Seluruh pikirannya bekerja untuk mencari sebuah cara agar Athan memberinya izin. Tapi sayang, tidak ada satupun ide yang muncul di pikirannya saat ini.
"Apa yang harus kulakukan?" gumam Zehra.
"Kau tidak perlu melakukan apapun. Cukup diam di sini dan jangan membantah perintahku jika kau masih ingin hidup," sahut Athan yang sudah selesai berganti pakaian. "Jangan pernah melakukan hal ini lagi, karena aku tidak menyukainya. Paham?!"
Zehra mengangguk pasrah. "Baiklah."
Athan bergegas keluar dan entah kemana pria itu akan pergi. Bahkan ia pergi tanpa membawa pengawal. Athan nekad keluar sendirian, padahal di luar sana banyak sekali musuh yang mengincar nyawanya. Bahkan salah satu dari musuh mereka bersumpah untuk memenggal kepala Athan dan mengaraknya keliling kota.
"Monsieur, tolong jangan pergi tanpa pengawal," cegah Michaël sebelum Athan pergi keluar. "Itu sangat berbahaya. Banyak musuh yang mengincar anda, Monsieur. Mereka pasti akan melakukan segala cara untuk melenyapkan anda."
"Tenanglah. Aku akan baik-baik saja."
"Tapi, Monsieur, kita tidak tahu kapan hal buruk itu akan terjadi. Sebaiknya, anda membawa setidaknya dua pengawal untuk melindungi anda nantinya. Saya melakukan ini demi kebaikan anda juga, Monsieur," Michaël mencoba memberi pengertian pada tuannya. Tapi sayang, Athan justru mengabaikan ucapannya.
Athan masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk berangkat, namun Michaël menghadang mobilnya dari arah depan. Michaël merentangkan kedua tangannya agar Athan tidak bisa pergi meninggalkan mansion sendirian. Athan yang kesal pun langsung membunyikan klakson berulang kali. Tapi Michaël enggan menepi sedikitpun. Pria itu tetap berada di depan, menghalangi jalan Athan.
"Minggir!" Athan mengeluarkan sedikit kepalanya agar Michaël bisa mendengar teriakannya. Salah satu tangannya terus membunyikan klakson, hingga mampu menarik perhatian seluruh penghuni mansion, termasuk Zehra yang baru saja keluar dari kamar. "Kau menghalangi jalanku!" teriaknya lagi. "Kau ingin melawanku, hah?!"
"Maaf, Monsieur! Saya tidak akan membiarkan anda pergi, sampai Monsieur mau membawa dua pengawal!" balas Michaël.
Athan memasukkan kembali kepalanya ke dalam mobil sambil mengumpat kesal. Padahal dirinya sedang terburu-buru, namun Michaël tidak memberinya akses sedikitpun. Karena kesal dengan kelakuan Michaël, Athan pun turun dari mobil dan menarik paksa Michaël untuk menepi. "Apa kau sudah gila, hah?! Aku bisa saja menabrakmu! Jangan memancing emosiku!" teriaknya.
"Tapi, Monsieur, saya hanya...."
"Hanya apa?! Kau sudah membuang waktuku!"
Setelah mengatakan hal itu, Athan berlalu dari hadapan Michaël untuk kembali masuk ke dalam mobil. Ia menginjak pedal gas dengan penuh emosi dan meninggalkan mansionnya. Sementara Michaël hanya bisa menghela napas berat. Memang sangat sulit meyakinkan orang keras kepala seperti Athan. Apapun yang dikatakan, ia tidak akan pernah mendengarkannya. Padahal itu semua Michaël lakukan untuk melindungi Athan dari serangan musuh secara mendadak saat Athan berada di luar. Michaël bergegas masuk ke mansion untuk menghubungi Serge.
***
Beberapa menit yang lalu, Athan sudah tiba di sebuah hotel berbintang untuk bertemu dengan seseorang. Ia menunggu di lobi hotel sambil memainkan ponselnya. Tak berapa lama, orang yang ingin ditemuinya muncul dengan pakaian serba seksi dan modern. Seorang wanita berparas cantik dan memiliki bentuk tubuh yang sangat bagus. Wanita tersebut merupakan model baru di Lemaire Entertainment. Kebetulan, Max memperkenalkan wanita itu kepada Athan sebagai pemegang saham tertinggi di perusahaannya beberapa waktu yang lalu. Setelah berkenalan, mereka saling bertukar nomor ponsel untuk mengenal lebih dekat lagi. Wanita itu bernama Elmira Lavigne yang usianya sama dengan Zehra yaitu 26 tahun.
Athan berdiri menghampiri Elmira lalu mencium bibirnya singkat. Elmira juga terlihat begitu menyukai Athan. Mungkinkah wanita tersebut yang akan merebut semua perhatian Athan nantinya, hingga membuat Athan melupakan Zehra? Entahlah. Sampai sekarang, julukan sebagai pria penggoda wanita itu masih melekat pada Athan. Jadi, tidak mungkin Athan tertarik pada Elmira saja.
"Monsieur, kau sangat tampan," puji Elmira.
Athan tersenyum sambil menyentuh dagu Elmira. "Terima kasih. Tapi, jangan memanggilku dengan sebutan itu. Panggil saja Athan. Bukankah sudah kukatakan waktu itu?"
"Ah, iya, maaf ya," ucap Elmira. "Kalau begitu, ayo kita masuk ke kamarku. Di dalam, kita bisa lebih leluasa melakukan apapun. Kau lihat, mereka semua menatapku dengan serius. Aku takut."
"Baiklah. Lain kali, jangan merasa takut dengan siapapun. Selagi kau bersamaku, kau akan aman dari mereka semua. Mengerti?"
Elmira mengangguk. "Aku mengerti, Athan."
"Ayo."
Mereka berdua pun bergegas menuju kamar Elmira yang ada di lantai tiga. Mereka masuk ke dalam lift yang kebetulan sedang sepi. Keduanya saling berciuman mesra di dalam lift sampai mereka tiba di lantai tiga. Untuk sesaat, mereka menghentikan ciuman itu dan berjalan menuju kamar Elmira. Sesampainya di kamar, Athan langsung mengunci pintu kamar tersebut lalu kembali mencium Elmira sambil menggendongnya di depan. Keduanya sudah berada di atas tempat tidur untuk melakukan aktifitas selanjutnya.
Sementara itu, Zehra yang masih berada di mansion merasa sangat bosan. Ia tidak tahu harus melakukan apa, karena biasanya kegiatan Zehra sangat padat saat masih bekerja dengan Max. Berulang kali Zehra menghela napas berat sambil bersandar di sofa.
"Ada apa, Madame? Anda terlihat sedang memikirkan sesuatu."
Pertanyaan Michaël membuat Zehra membenarkan posisi duduknya dan menatap ke arah Michaël dengan wajah bosannya. "Aku bosan berada di sini tanpa melakukan apapun, Michaël. Aku sudah berusaha menagih janji itu, tapi Athan malah melarangku untuk kembali bekerja. Kau pasti tahu bagaimana kegiatanku dulu sebelum menikah dengannya, kan?"
"Ya, Madame. Saya tahu semua informasi tentang anda," ujar Michaël. "Lalu, apa yang harus saya lakukan agar anda tidak merasa bosan?"
Zehra tampak berpikir sejenak. Kemudian berkata, "Bawa aku jalan-jalan keluar. Apa kau bersedia mengantarku?"
"Anda yakin, Madame? Jika Monsieur tahu, beliau bisa marah besar," kata Michaël.
"Kita akan kembali secepatnya. Jadi, dia tidak akan tahu."
Michaël tersenyum. "Tidak semudah itu membohongi Monsieur, Madame. Beliau sangat teliti dalam segala hal dan tahu siapa saja yang berbohong padanya. Saya hanya tidak ingin anda mendapatkan perlakuan kasar lagi dari beliau."
"Hhh! Jadi, aku harus apa? Semuanya tidak boleh. Aku seperti seekor hewan peliharaan yang dipelihara oleh majikan kejam dan tidak berperasaan seperti Athan," gerutu Zehra kesal.
Michaël menatap iba pada Zehra. Ia pun memutuskan untuk membawa Zehra jalan-jalan sebentar keluar dari mansion menggunakan mobil sedan hitam miliknya. Sebelum pergi, ia meminta semua penjaga untuk merahasiakan itu dari Athan dan para penjaga pun menuruti perintah Michaël. Kali ini, Michaël akan mengajak Zehra untuk pergi ke pantai.
To be continue~