Bab 18

1760 Kata
Nice adalah salah satu kota yang terkenal memiliki beberapa pantai indah. Kota Nice ini terletak di Perancis. Pantai-pantai indah tersebut masing-masing bernama La Reserve, Coco Beach, Villefranche-sur-mer, Castel Plage, dan Ruhl Plage. Castel Plage dan Ruhl Plage salah satu pantai pribadi yang memiliki suasana damai / jauh dari kerumunan orang-orang, baik lokal maupun mancanegara. Selain itu, di sekitar pantai tersebut ada banyak restoran mewah yang disediakan. Sementara pantai lainnya termasuk dalam kategori pantai umum yang ramai dikunjungi. Salah satu pantai umum yang dikunjungi oleh Zehra dan Michaël adalah Villefranche-sur-mur. Butuh waktu 15 menit untuk sampai di pantai tersebut dengan menggunakan kendaraan umum ataupun pribadi. Pantai ini dikenal memiliki kerikil berukuran kecil, tampak seperti pasir. Di sisi jalan pantai, ada beberapa restoran terbaik dan kedai es krim. Saat ini, Zehra dan Michaël tengah bersantai di tepi pantai sambil memakan es krim yang sudah dibeli sebelumnya. Zehra sendiri sangat menikmati suasana pantai yang indah ini. Sudah berapa hari ia hanya duduk diam di mansion milik Athan. Rasanya sangat-sangat membosankan dan mengerikan. Dengan melihat keindahan pantai, pikiran serta hati Zehra bisa sedikit lebih tenang dari sebelumnya, walaupun nanti ia akan merasakan hal yang mengerikan setelah kembali ke mansion. Salah satu hobi Zehra sebenarnya adalah travelling. Mengunjungi tempat-tempat wisata yang indah seperti ini. Sewaktu dirinya masih bekerja sebagai model, sering sekali Zehra menghabiskan waktu luang untuk pergi berwisata bersama Emir dan Michèle. Mereka bertiga memiliki kebiasaan dan hobi yang sama pula. Itu sebabnya, mereka sangat akrab dan tidak mudah untuk dipisahkan. Bagi mereka, travelling bisa membuat pikiran mereka menjadi lebih fresh dan siap menghadapi hari selanjutnya. Tidak ada salahnya meluangkan waktu sejenak untuk berekreasi, bukan? "Michaël, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Zehra membuka pembicaraan. "Tentu saja boleh, Madame," jawab Michaël. Kali ini, Zehra memilih duduk di pasir yang sedikit jauh dari air laut, diikuti oleh Michaël di samping kanannya. Zehra pun menatap Michaël. "Apakah Athan pernah mengalami sebuah trauma dalam percintaan? Maksudku, seseorang bisa saja menjadi jahat karena pernah disakiti sebelumnya oleh orang lain. Mungkinkah hal itu yang menjadikan Athan seperti sekarang ini?" "Untuk identitas keluarganya, saya memang tahu banyak. Tapi untuk masalah pribadi seperti itu, saya tidak mengetahuinya, karena Monsieur tidak pernah terbuka soal itu, Madame. Memang waktu itu, saya sempat mendengar sebuah rumor bahwa Monsieur pernah ditinggal menikah oleh kekasihnya yang berasal dari Santorini. Tapi saya tidak tahu apakah rumor itu benar atau hanya sekedar gosip buatan semata. Saya tidak pernah menanyakan kebenaran rumor itu pada Monsieur, karena beliau tidak suka orang lain mencampuri urusan pribadinya," ujar Michaël menjelaskan. Zehra berpikir sejenak sambil kembali menatap ke arah lautan. "Jika memang rumor itu benar, artinya Athan pernah menjalin hubungan serius dengan seorang wanita dan merasa terkhianati, karena wanita itu pergi meninggalkannya demi pria lain." "Tapi menurut saya, tidak semua orang yang bersifat jahat pernah memiliki masalalu yang kelam, Madame. Bisa saja mereka memang sudah memiliki sifat itu sejak lahir dan saat sudah besar, sifatnya itu baru jelas terlihat," ujar Michaël beserta opininya. "Kau benar. Mungkin harapanku terlalu besar agar Athan bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Padahal, harapan itu belum tentu jadi kenyataan." Michaël tersenyum sambil menatap Zehra. "Berharap untuk kebaikan tidak ada salahnya, Madame. Saya juga berharap seperti itu untuk Monsieur. Bagaimana pun juga, beliau pernah membantu saya melewati masa-masa sulit saat salah satu pihak keluarga terlilit hutang. Itu sudah menjadi poin penting bagi saya selama bekerja dengannya." "Ah, begitu ya." Zehra mengangguk-angguk paham, "Lalu, bagaimana denganmu? Apa kau sudah menikah? Atau belum sama sekali?" lanjutnya. "Saya pernah hampir menikah, Madame. Dia juga seorang model, sama seperti anda. Tapi, dia tidak tinggal di Perancis, melainkan menetap di Amerika Serikat," jawab Michaël. Zehra yang tertarik dengan kisah hidup Michaël pun langsung mengubah posisi duduknya agar bisa melihat Michaël yang masih duduk menyamping. Zehra bersila dan bersiap untuk mendengar lanjutan kisah yang menarik itu. "Apa yang membuatmu batal menikah dengannya?" "Itu karena, dia mengetahui pekerjaan saya, Madame. Saat menjalin hubungan dengannya selama kurang lebih satu tahun, saya sudah bekerja dengan Monsieur. Awalnya, hubungan kami ditentang oleh keluarganya karena salah satu sepupu saya bermusuhan dengan kakak laki-laki mantan kekasih saya. Tapi hal itu tidak dihiraukan olehnya dan sampai akhirnya, dia mengetahui pekerjaan saya sebagai kaki tangan seorang mafia yang pernah membunuh ibunya secara brutal. Itu sebabnya, dia membatalkan pernikahan dan memilih untuk meninggalkan saya." "Ya Tuhan. Itu benar-benar menyakitkan," ujar Zehra. Michaël tersenyum. "Itu memang hari yang sangat berat untuk saya, Madame. Pihak keluarga juga malu pada tetangga sekitar, karena beberapa undangan pernikahan sudah tersebar. Saya sempat mengalami depresi ringan saat memikirkan hal buruk itu. Tapi, seiring berjalannya waktu, saya sadar bahwa mencintai tidak harus memiliki. Melihatnya bahagia bersama orang lain, jauh lebih baik daripada dia harus hidup tertekan bersama seorang kaki tangan mafia seperti saya. Setelah itu, saya memutuskan untuk membuang semua kenangan yang ada dan mencoba mengikhlaskan semuanya." "Hhh! Kau orang baik, Michaël. Walaupun kau bekerja menjadi kaki tangan ketua mafia, hatimu tidak seperti mafia lainnya. Kau tetap mengutamakan hati nurani ketimbang rasa ego. Hanya wanita bodoh yang meninggalkanmu hanya karena pekerjaanmu. Jika dia memang mencintaimu, dia akan berpikir dua kali untuk melepaskanmu, sekalipun pekerjaanmu bertentangan dengan prinsipnya." "Saya tidak bisa memaksanya untuk menetap, Madame. Saya juga memikirkan resiko-resiko buruk yang akan menimpanya ketika kami resmi menikah. Anda sendiri tahu bagaimana tabiat Monsieur. Bisa saja beliau menggodanya dan mereka berselingkuh di belakang saya. Itu akan lebih menyakitkan lagi nantinya," ujar Michaël yang selalu memiliki pemikiran luas. Zehra menatap iba pada Michaël. "Kau manusia yang tegar ya, Michaël. Jika aku jadi kau, mungkin aku akan mengakhiri hidupku detik itu juga. Ditinggalkan seperti itu rasanya tidak adil bagiku. Aku pernah merasakan kehilang seseorang yang kusayang dan itu benar-benar menyakitkan." "Apa anda pernah melakukan percobaan bunuh diri saat kedua orang tua anda meninggal?" tanya Michaël penasaran. "Pernah." Michaël terkejut mendengarnya. "Benarkah itu, Madame?" "Ya, itu benar," jawab Zehra. "Saat itu, usiaku masih sangat muda dan aku belum siap untuk kehilangan mereka. Karena setelah mereka meninggal, tidak ada satupun saudara yang datang menjengukku. Mereka semua mengabaikanku dan tidak menganggapku sebagai bagian dari keluarga mereka, karena orang tuaku bukan orang yang sukses seperti keluarga lainnya. Kami hidup sederhana. Sejak mereka pergi dari dunia, aku merasa kesepian. Setiap hari aku hanya akan menangis di kamar tanpa penerangan sedikitpun. Dan disaat itu pula, aku memutuskan untuk pergi ke sebuah jembatan kota. Aku naik di atasnya dan berniat untuk menjatuhkan diri. Tapi, seorang pria baik datang menyelamatkanku. Dia bernama Emir. Dia juga yang menyemangatiku untuk tetap semangat menjalani hidup meski tanpa orang tua di sampingku. Dan berkat dialah, aku bisa sampai di sini dan bekerja sebagai model." "Saya turut berduka atas kepergian orang tua anda, Madame," ucap Michaël tulus. Zehra tersenyum. "Terima kasih, Michaël." "Ayo, kita kembali ke mansion, Madame. Saya khawatir, Monsieur pulang lebih awal." "Ayo." Zehra dan Michaël berdiri bersamaan, kemudian bergegas masuk ke mobil untuk kembali ke mansion. Sementara di hotel, Athan terlihat sedang mengenakan pakaiannya kembali setelah puas b******a dengan Elmira. Setelah selesai memakai pakaiannya, Athan mengeluarkan amplop berwarna cokelat berisi sejumlah uang tunai dari saku jasnya, lalu memberikannya kepada Elmira. Wanita tersebut menerimanya dengan senang hati. Elmira turun dari tempat tidur dengan piyama mininya. Kedua tangannya bergelayut manja di lengan kekar Athan sambil menempelkan tubuhnya ke tubuh pria tersebut. "Athan, aku masih menginginkanmu ada di sini." "Aku tidak bisa berlama-lama. Masih ada urusan lain di mansion," ujar Athan sambil tersenyum manis pada Elmira. "Besok, kita akan bertemu lagi di sini. Aku janji." "Hhm. Bagaimana kalau aku ikut denganmu ke mansion." Athan terkekeh lalu mengangguk. "Boleh saja. Tapi, apa kau tidak takut terkena rumor buruk saat media tahu hubungan kita? Karirmu pasti akan memburuk." "Aku tidak akan takut selagi kau bersamaku," jawab Elmira. "Ah, baiklah. Kalau begitu, ayo ikut denganku ke mansion. Kita akan menghabiskan banyak waktu di sana." Athan langsung mengajak Elmira keluar dari kamar dan melarangnya untuk berganti pakaian. Di sepanjang koridor, setiap orang yang lewat selalu menatap rendah Elmira. Tapi Elmira berusaha mengabaikannya, karena yang terpenting baginya adalah Athan. Pria itu akan menjadi sumber uang baginya. Di sepanjang perjalanan, tangan kanan Athan berada di dalam piyama seksi yang dipakai oleh Elmira. Dibiarkannya Elmira mengeluarkan suara-suara seksinya, karena Athan sangat menyukai hal tersebut. Hal itu terus terjadi sampai akhirnya mobil Athan berhenti di halaman depan mansion. Pria itu langsung turun dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Elmira. Dengan santai, keduanya berjalan bersama memasuki mansion. Tepat setelah Athan masuk, Zehra baru saja kembali dari dapur sambil memegang segelas jus jeruk buatan Adèle. Sepasang suami-istri itu saling bertatapan sejenak, kemudian Zehra memutus pandangan itu secara sepihak dan beralih menatap Elmira yang juga menatapnya sinis. Zehra berjalan mendekati suaminya. "Siapa dia, Athan?" "Dia kekasihku," jawab Athan datar. Elmira langsung mengulurkan tangannya ke arah Zehra, berniat untuk memperkenalkan diri. Tapi sayangnya, Zehra tidak membalas uluran tangan itu. Elmira yang kesal langsung menurunkan tangannya sambil memasang wajah tidak suka pada Zehra. "Athan, dia siapa?" tanya Elmira. "Aku istrinya," sahut Zehra. Athan justru mendecih mendengar pernyataan Zehra. "Jangan mengaku sebagai istriku, karena kau tidak penting bagiku. Kau hanya pemuas napsuku di sini, tidak lebih dari itu." "Cih! Jika aku jadi kau, mungkin aku sudah membenturkan kepalaku di dinding," ujar Elmira sarkas. "Wajah buruk sepertimu, tidak mungkin disukai Athan. Jangan bermimpi." "Sudahlah. Jangan hiraukan dia. Lebih baik kita ke kamar dan bersenang-senang." Elmira mengangguk lalu mengikuti langkah Athan menuju kamar utama yang harusnya ditempati oleh Zehra. Athan seakan melupakan statusnya yang masih sah menjadi suami Zehra. Bagaimana bisa Athan menganggap Zehra tidak penting dan hanya diperlakukan sebagai pemuas napsu saja? Zehra tidak habis pikir dengan Athan. Pria itu bisa berbicara selembut kain sutra saat bersama wanita lain. Tapi, kenapa Athan selalu kasar pada Zehra? "Apa ini karena kesalahanku yang bersikap tidak baik padanya sejak awal bertemu?" gumam Zehra. Zehra lantas memegang dadanya yang berdebar cukup kencang. Ada sedikit rasa cemburu di hatinya saat melihat Athan bersama wanita lain. Mungkinkah Zehra sudah melanggar sumpahnya untuk tidak mencintai Athan? Zehra langsung menggelengkan kepalanya, menepis semua kemungkinan buruk itu di pikirannya. Ia tidak mau menaruh hati pada pria bengis seperti Athan. Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Zehra bergegas kembali ke dapur. Ia memilih untuk membantu Adèle ketimbang memikirkan Athan dengan wanita itu. Zehra harus bisa mengendalikan perasaannya. Tapi, Zehra tidak tahu bagaimana takdirnya akan berlanjut. Bisa saja Tuhan membuatnya jatuh cinta pada Athan, dan Athan perlahan mengubah sikapnya saat mengetahui perasaan Zehra. Tidak ada yang tahu bagaimana skenario yang ditulis oleh Tuhan. Manusia hanya bisa menjalaninya dan mengikuti takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan pada masing-masing umat-Nya. Tapi untuk saat ini, Zehra masih belum siap mencintai Athan. To be continue~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN