Bab 19

2050 Kata
Saat sedang asyik membantu Adèle di dapur, tiba-tiba saja Zehra mendengar suara teriakan yang berasal dari arah luar. Seketika, Zehra dan Adèle keluar dari pintu samping mansion menuju halaman depan rumah. Zehra terkejut melihat seorang remaja wanita yang ditarik paksa dan dipukuli oleh dua orang penjaga mansion. Remaja malang itu berteriak histeris saat salah satu penjaga dengan sengaja menginjak perut bagian kanan remaja tersebut yang sedang membelakangi Zehra. Posisinya sedang tergeletak di paving blok halaman. Sontak hal itu membuat Zehra geram dan berniat untuk menghampiri kedua pria yang sama gilanya dengan Athan. Akan tetapi, Adèle melarang Zehra untuk mengambil tindakan seperti itu, karena percuma saja, mereka tidak akan mendengarkan siapapun, kecuali ucapan Athan. Zehra yang sudah diselimuti rasa kesal dan marah pun tidak peduli dengan larangan Adèle. Persetan dengan kemarahan Athan, karena ia benar-benar sudah muak melihat berbagai macam penyiksaan di mansion ini. Memang mansion besar ini harusnya bisa membuat semua orang yang tinggal di sana merasa nyaman, namun jika situasi seperti ini, siapapun tidak akan ada yang mau tinggal di sana. Jujur saja, Zehra memang tidak nyaman setelah pindah di mansion Athan. Lebih baik ia tinggal di rumah sepetak, hidup nyaman dan bahagia daripada harus tinggal di mansion besar yang tidak memberi kenyamanan sedikitpun. "Madame!" panggil Adèle dari kejauhan, namun diabaikan oleh Zehra. Adèle yang merasa khawatir pun langsung masuk ke dalam untuk memanggil Michaël. Michaël yang kebetulan sedang santai di ruangan pribadinya langsung bergegas keluar menuju halaman depan setelah Adèle melaporkan semuanya. Perasaan cemas Michaël semakin bertambah ketika ia melihat Zehra sedang beradu mulut dengan salah satu penjaga yang memang dikhususkan untuk menjaga mansion kedua. Michaël segera menghampiri mereka, diikuti Adèle di belakangnya. "Madame, jangan hiraukan mereka," cegah Michaël saat Zehra mendorong salah satu penjaga. "Anda bisa terkena masalah lagi nanti dengan Monsieur." "Ck!" Zehra mendecak kesal dan menepis tangan Michaël, "Aku tidak peduli dengan pria gila itu. Bagaimana bisa kalian mengabaikan penyiksaan terhadap remaja wanita ini, hah? Bahkan mereka sengaja memukul dan menginjak perut anak ini. Bagaimana kalau nyawanya tidak tertolong karena penyiksaan kejam ini? Apa kalian mau bertanggungjawab di hadapan Tuhan?" "Madame, tolong dengarkan saya." Zehra menggeleng tegas. "Kali ini, aku tidak akan mendengarkan siapapun lagi. Aku akan berbuat sesuai dengan kemauanku. Aku tidak takut lagi dengan Monsieur kalian itu. Bagiku, dia bukan siapa-siapa, karena dia juga menganggapku seperti itu. Sekarang, lepaskan anak ini!" "Anda tidak berhak memerintah kami," ucap salah satu penjaga. "Oh, baiklah. Kalau begitu, aku yang akan membebaskannya sekarang." Zehra langsung membantu remaja wanita itu untuk berdiri. Kondisinya benar-benar memprihatinkan. Rambut acak-acakan dan sangat bau. Seluruh badannya juga sangat kotor dan bahkan tercium bau seperti kotoran manusia. Zehra yang merasa kasihan pun segera membawanya ke halaman samping untuk memandikannya sejenak. Sekujur tubuh kurusnya dipenuhi luka cambuk serta ada memar di sekitar wajahnya. Zehra tidak bisa membayangkan, betapa tersiksanya remaja itu selama berada di mansion ini. Sementara itu, dua penjaga yang baru saja berdebat dengan Zehra, bergegas masuk ke mansion untuk melaporkan hal ini pada Athan. Tapi, Michaël segera mencegah mereka berdua, karena ia tahu, Athan tidak akan mengampuni siapapun jika ada seseorang yang berani membebaskan tahanannya. "Jangan pernah kalian adukan hal ini pada Monsieur Athan. Mengerti?!" tegas Michaël. Kedua penjaga itu mengangguk patuh dan bergegas pergi dari hadapan Michaël. Kali ini, Zehra bisa terbebas dari amukan Athan, namun tidak untuk hari berikutnya. Untungnya, Michaël juga memiliki sebuah kuasa dalam mengawasi para penjaga. Selain takut pada Athan, para penjaga di sana juga takut pada Michaël. Apalagi saat Michaël sudah mengeluarkan tatapan mematikannya pada para penjaga di sana. Sudah pasti mereka tertunduk dan tidak berani menatap ataupun berbicara pada Michaël. Setelah kepergian kedua penjaga tersebut, Michaël bergegas menyusul Zehra yang masih sibuk memandikan remaja malang itu. Adèle bertugas mengambilkan handuk serta memberikan pakaian yang layak untuk sang remaja. Michaël sendiri masih merasa was-was, takut akan kehadiran Athan. "Madame, lebih baik, anda segera menyelesaikan ritual mandi ini. Saya takut, Monsieur Athan tiba-tiba datang dan menyiksa anda lagi. Lebih fatalnya, anak ini juga akan segera dieksekusi setelah tahu apa yang anda lakukan ini." "Jadi, anak ini akan terkena imbasnya juga?" tanya Zehra. "Tentu saja, Madame. Monsieur tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu untuk membunuh anak ini dan menjual organ-organ tubuhnya," jawab Michaël. Mendengar jawaban Michaël, Zehra bergegas memakaikan pakaian pada si remaja, kemudian menyuruhnya untuk bergegas pergi sejauh mungkin dari mansion. Jangan sampai remaja itu menjadi korban kekejaman Athan selanjutnya. Biarlah Zehra yang menanggung semuanya, asalkan remaja itu selamat. Michaël mengantarkannya sampai ke depan gerbang dan memperingati penjaga untuk tidak mengejar si remaja dan tidak melaporkannya pada Athan. Michaël juga memberikan ancaman mengerikan untuk si penjaga gerbang. Setelah semuanya aman, akhirnya Zehra pun bisa bernapas lega. Ia memutuskan untuk kembali ke dapur bersama Adèle, sedangkan Michaël kembali ke ruangan pribadinya untuk melanjutkan waktu santainya. *** Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 malam, namun Zehra belum juga masuk ke kamarnya, karena sejak tadi, Athan dan Elmira tidak keluar dari kamar. Padahal Zehra sudah sangat mengantuk dan ingin sekali segera tidur di kasur empuknya. Setelah menunggu beberapa menit, Zehra memutuskan untuk mengecek langsung bagaimana kondisi Athan di dalam kamar. Saat hendak membuka pintu, Zehra pun tersentak karena Athan sudah lebih dulu membuka pintu kamar tersebut dari dalam. Zehra sedikit memundurkan langkahnya agar jaraknya tidak terlalu dekat dengan Athan. Aroma khas setelah b******a pun masih melekat di tubuh Athan dan itu bisa dicium oleh hidung Zehra. Selain aromanya, Zehra juga melihat beberapa bekas lipstik dan hickey di leher serta d**a Athan. Sungguh menjijikkan. Berapa lama mereka melakukan hal tersebut? Sampai-sampai Zehra harus menunggu sampai jam sepuluh malam dan berusaha menahan kantuk agar tidak tertidur di sofa ruang tengah. "Mau apa kau di sini?" tanya Athan datar. "Aku mau masuk. Ingin tidur," balas Zehra lebih datar. "Minggir." Athan menyeringai. "Mulai malam ini dan seterusnya, kau akan tidur di kamar pelayan. Semua barang-barangmu akan kupindahkan besok, karena mulai malam ini, Elmira akan tinggal di sini bersamaku." "Apa? Kau suruh aku tidur di kamar pelayan?" tanya Zehra tak percaya. "Ya. Kenapa? Kau tidak suka." "Jelas saja aku tidak suka. Yang harusnya tidur di kamar pelayan w*************a itu, bukan aku," ujar Zehra dengan nada kesal. Athan justru tertawa mengejek. "Memangnya kau siapa, hah? Ini mansionku, jadi aku berhak melakukan apapun sesuai keinginanku. Kau tidak berhak mengaturku." "Baiklah. Kalau begitu, biarkan aku kembali bekerja sebagai model, dan kita bercerai. Aku juga tidak ingin tinggal berlama-lama di sini. Aku juga ingin menjalani kehidupanku sesuai dengan keinginanku sendiri dan kau juga tidak berhak mengaturku," balas Zehra sarkas. "Ah, kau sudah berani melawanku ya." Athan memandang Zehra dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan sebelah matanya. Kemudian, ia tertawa mengejek setelah melihat fisik Zehra yang sudah sangat buruk karena masih dipenuhi luka memar di sebagian wajah dan lengannya. "Kau pikir, semudah itu kau bisa masuk kembali di Lemaire Entertainment, hm? Kau lupa kalau pemilik saham terbesar di perusahaan itu adalah aku?" Zehra mengepalkan kedua tangannya karena kesal. "Memangnya, aku mau masuk ke perusahaan itu lagi, hah? Lebih baik aku berkarir di perusahaan lain daripada kembali ke perusahaan yang sudah membuangku." "Dengan kondisi buruk seperti ini?" tanya Athan, menaik-turunkan tangan kanannya sambil menunjuk seluruh tubuh Zehra dengan tatapan meremehkan. "Kau pikir, perusahaan lain mau menerima model dengan tampilan buruk sepertimu, hah? Harusnya kau berkaca sebelum melakukan sesuatu. Malu. Apa urat malumu sudah terputus?" "Aku seperti ini juga karena kau! Kau yang telah merusak tubuhku!" teriak Zehra geram. Athan memberikan tatapan tajam kemudian menjambak rambut belakang Zehra, sehingga membuat Zehra mendongak ke atas sambil meringis kesakitan. "Sudah kukatakan berulang kali, aku tidak suka diteriaki seperti itu! Sudah kuputuskan, kau tidak akan keluar dari mansion ini dan tidak akan pernah kembali menjadi model! Kau juga harus tidur di kamar pelayan, karena kau hanya bertugas sebagai cadanganku saja! Itupun jika aku menginginkannya!" Setelah mengatakan itu, Athan langsung mendorong Zehra hingga terduduk di lantai. Pria kejam itu kembali menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Seketika, airmata Zehra menetes di kedua pipinya dan hal itu dilihat oleh Michaël dari kejauhan. Pria tampan berhati mulia itupun menghampiri Zehra dan membantunya untuk menjauh dari kamar utama. Michaël dengan segala kebaikannya, bersedia memberikan kamarnya untuk Zehra. Pria itu tidak tega jika Zehra harus tidak di kamar pelayan yang sempit dan sesak. "Untuk seterusnya, anda tidur di kamar saya saja, Madame. Kamar saya jauh lebih nyaman untuk anda dibanding kamar pelayan," ujar Michaël. "Lalu, bagaimana denganmu?" Michaël tersenyum. "Masih ada banyak kamar di sini, Madame. Saya akan tinggal di kamar yang tak jauh dari kamar ini. Anda bisa memanggil saya jika memerlukan sesuatu." "Terima kasih banyak, Michaël," ucap Zehra terharu. Hatinya begitu tersentuh melihat kebaikan dari seorang Michaël Magnan. "Andai saja, sikap Athan sama sepertimu, Michaël. Mungkin aku bisa mencintai dan menyayanginya. Tapi sayang, itu hanya angan semu semata." "Saya hanya ingin melakukan yang terbaik untuk anda, Madame. Saya juga bertanggungjawab atas semua yang terjadi pada anda. Maafkan saya yang secara tidak langsung telah menghancurkan masa depan anda." Zehra tersenyum sambil menggeleng. "Tidak perlu meminta maaf. Ini sudah menjadi takdirku. Sekarang, pergilah tidur. Kau juga harus istirahat dan sekali lagi, aku ucapkan terima kasih atas semua kebaikanmu padaku." "Baik, Madame. Saya permisi." Michaël bergegas keluar dari kamarnya yang kini sudah ditempati oleh Zehra untuk seterusnya. Pria itu merasa sedikit lega karena telah memberikan bantuan pada Zehra, walaupun hanya berupa bantuan kecil saja. Semoga suatu saat nanti, Zehra bisa menemukan kebahagiaan yang sebenarnya. Begitulah doa terbaik yang selalu Michaël panjatkan kepada Tuhan saat ia sedang berkunjung ke gereja. *** Pukul 08.00 pagi, Michèle memiliki jadwal untuk menemui Emir. Michèle mendadak khawatir pada kondisi Zehra yang sampai saat ini tidak memberi kabar apapun setelah dirinya berhasil menghubungi Zehra waktu itu. Wanita berusia 26 tahun itu merasa bahwa Zehra tengah menutupi sesuatu darinya. Tidak mungkin seorang Athan akan memperlakukan wanita dengan baik, terutama Zehra. Apalagi, Zehra pernah menamparnya di depan umum. Itu pasti akan menimbulkan dendam yang teramat besar di hati Athan. Jadi, Michèle berinisiatif untuk membicarakan hal ini pada Emir. Selang lima menit menunggu, akhirnya Emir datang dan duduk di hadapan Michèle. Mereka bertemu di sebuah kedai kopi yang ada di sekitaran Lemaire Entertainment. Mereka berdua memesan kopi hangat serta waffle untuk disantap. Setelah pesanan datang, barulah Michèle memulai pembicaraan. "Apa kau sudah mendengar kabar terbaru dari Zehra?" tanya Michèle. Emir menggeleng lesu. "Belum sama sekali. Aku sangat mencemaskannya. Sungguh." "Hhh! Sejujurnya, aku ragu ingin mengatakan ini padamu, karena aku sudah berjanji pada Zehra untuk tidak mengatakannya," kata Michèle lirih. "Apa kau sudah berhasil berbicara dengannya? Lalu, apa yang dia katakan?" Emir terlihat begitu antusias saat Michèle mengatakan hal tersebut. "Cepat, katakan padaku." Michèle menghela napas sejenak sambil menutup matanya. Setelah dirasa siap, barulah ia mulai berbicara. "Zehra sudah menikah dan suaminya adalah Athan Doxiadis Carras." "A-Apa?" Emir kembali lemas setelah mendengar berita yang dianggap buruk olehnya. Meskipun Emir bukan warga negara asli Perancis, ia tahu semua tentang sosok Athan. Dimana semua orang yang ia kenal pasti akan selalu menyebut nama Athan di setiap obrolan mereka. Emir yang penasaran terus mencari tahu siapa Athan sebenarnya dan ia syok saat tahu Athan adalah ketua mafia terkejam di Perancis. Sudah banyak manusia yang dibunuh, diperkosa, serta dijual sebagai p*****r. Dan mendengar sahabat baiknya menikah dengan manusia kejam itu, mendadak kecemasan Emir bertambah seribu kali lipat. "Jujur, aku juga sama terkejutnya denganmu saat mendengar berita ini. Zehra sendiri yang mengatakan padaku," lanjut Michèle, sementara Emir masih terdiam tidak berdaya. "Dia sengaja merahasiakan ini agar kita tidak mencemaskannya. Tapi jujur, aku juga merasa cemas sekarang karena dia belum mengabariku lagi sampai detik ini." "Apa dia baik-baik saja?" tanya Emir dengan suara lemahnya. Michèle menghela napas berat. "Dia bilang dirinya baik-baik saja. Tapi, aku tidak yakin dia berkata jujur. Yang kutahu, Athan bukanlah tipe pria berhati baik. Dia pasti mendapatkan perlakuan buruk di sana tapi enggan mengatakannya padaku. Setahuku, Athan menaruh dendam pada Zehra karena telah menamparnya di depan karyawan Lemaire." "Ya Tuhan. Itu berita yang sangat buruk, Michèle." "Itu sebabnya aku mengajakmu untuk bertemu hari ini," ujar Michèle. "Apa sebaiknya, kita datangi saja Zehra ke mansion milik Athan? Aku tahu dimana lokasinya." "Apa itu tidak terlalu berbahaya?" Michèle menaikkan kedua bahunya, pertanda ia juga tidak tahu. "Aku juga tidak bisa memastikan itu aman atau tidak. Tapi yang jelas, kita harus tahu bagaimana kondisi Zehra di sana. Aku khawatir padanya." "Baiklah. Sore ini, kita akan pergi ke sana. Aku akan membawa salah satu kenalanku dari instansi kepolisian untuk berjaga-jaga," ujar Emir setuju. To be continue~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN