Sore hari, tepat pukul 18.00 waktu setempat, Emir dan Michèle tiba di depan gerbang mansion Athan. Sedangkan polisi yang datang bersama mereka berada sedikit lebih jauh dari mansion tersebut, hanya untuk berjaga-jaga. Emir dan Michèle awalnya merasa ragu untuk masuk ke dalam, apalagi mereka harus melewati dua penjaga bertubuh kekar dan berwajah menyeramkan. Sebenarnya, Emir sudah siap untuk masuk, namun Michèle yang menahannya. Jadilah mereka berdua masih berada di dalam mobil saat ini. Kedua penjaga gerbang mansion yang merasa curiga pun akhirnya mendekati mobil yang ditumpangi oleh kedua sahabat baik Zehra itu. Melihat kedua penjaga itu menghampiri mobil, nyali Michèle pun semakin menciut, sedangkan Emir tampak biasa saja.
Salah satu penjaga mengetuk kaca mobil sebelah kiri agar si pemilik membukakan kaca tersebut. Saat Emir hendak membukanya, tiba-tiba saja Michèle melarangnya dan mengajaknya untuk pergi saja dari tempat menyeramkan itu. Tapi, Emir memikirkan kondisi Zehra sekarang ini. Emir hanya ingin melihat apakah wanita itu baik-baik saja atau tidak, meskipun hanya sebentar. Pria yang usianya 2 tahun lebih tua dari Zehra itu menolak permintaan Michèle. Ia bergegas membuka kaca mobil dan menatap kedua penjaga tersebut tanpa takut.
"Maaf, apa benar di sini kediaman Athan Doxiadis Carras?" tanya Emir sopan.
"Benar. Anda siapa dan ada perlu apa dengan Monsieur?" Salah satu penjaga balik bertanya pada Emir, dengan tetap memasang wajah seramnya.
"Ah, tidak baik bicara seperti ini. Tunggu, saya keluar dulu." Emir bergegas keluar dari mobil dan berhadapan langsung dengan kedua penjaga. Pria keturunan asli Turki itupun tetap menampilkan senyumannya. "Sebenarnya, saya tidak ada kepentingan dengan Monsieur Athan. Saya hanya ingin bertemu dengan Zehra Ergen. Benarkah dia tinggal di sini?" lanjutnya.
Salah satu penjaga mengangguk. "Benar. Tapi maaf, Madame tidak diizinkan keluar untuk menemui siapapun oleh Monsieur. Jadi sebaiknya, anda pulang saja."
"Oh, begitu."
Emir mulai kebingungan harus mencari alasan apa lagi agar dirinya bisa bertemu dengan Zehra. Selama ini, Emir yang selalu menjaga Zehra dan membantunya disaat wanita itu kesulitan. Tapi sekarang, apa yang bisa Emir lakukan untuk sahabat baiknya itu? Emir tidak mendapatkan ide apapun saat ini.
"Maaf, kami hanya ingin mengundang Zehra ke pernikahan kami. Benarkan, Sayang?" Michèle kini sudah berdiri di samping Emir sambil menggandeng lengan Emir. Entah apa yang ada dipikiran Michèle saat ini. "Kami harus bertemu dengannya sekarang, karena pernikahan kami hanya tinggal sehari lagi. Kebetulan, saya memerlukan bantuannya. Ini sangat penting. Tolong izinkan kami ya."
Emir tersenyum penuh arti ke arah Michèle, lalu kembali menatap sang penjaga. "Itu benar. Kami memerlukan bantuannya. Saya mohon, biarkan kami menemuinya."
Kedua penjaga itu saling bertatapan, kemudian sama-sama mengangguk. Akhirnya, rencana yang dibuat Michèle berhasil. Berpura-pura demi kebaikan, tidak masalah kan? Tapi, tidak dianjurkan dalam kehidupan sehari-hari. Lakukan hal tersebut dikala diri merasa terjebak dalam situasi sulit, seperti halnya yang dialami oleh Emir dan Michèle.
Setelah keduanya berhasil memasuki halaman luas mansion tersebut, mereka secara tak sengaja berpapasan dengan Zehra yang baru saja menikmati sore harinya di taman. Melihat kedua sahabatnya datang ke tempat menyeramkan itu, Zehra langsung meminta mereka untuk diam dan mengikutinya ke halaman samping mansion. Michèle yang sangat merindukan Zehra pun langsung memeluknya dengan erat, begitu juga dengan Zehra.
"Kenapa kau menyuruh kami untuk ke samping mansion? Harusnya kau menyuruh kami duduk di sofa ruang tamu," protes Michèle setelah melepas pelukannya.
Zehra menyengir sambil menggaruk kepalanya. "Maaf ya. Ada hal yang tidak bisa kukatakan pada kalian untuk saat ini."
"Zehra, kenapa dengan wajahmu?" tanya Emir yang sedari tadi memperhatikan seluruh fisik Zehra dan ia melihat wajah Zehra terdapat luka memar yang sedikit memudar, begitu juga di lengannya. "Apa kau disiksa olehnya? Jawab yang jujur, Zehra."
"Ah, tidak. Aku habis kecelakaan kemarin," jawab Zehra berbohong.
Michèle justru memicingkan matanya. Pertanda ia tidak percaya, karena Zehra sama sekali tidak pintar dalam menyembunyikan sesuatu. "Kau tidak pandai berbohong, Zehra. Sudah jelas ini bukan luka akibat kecelakaan, melainkan luka yang disengaja. Jika memang dia menyiksamu, katakan saja pada kami. Kita bisa melaporkannya bersama-sama ke polisi."
"Hhh! Kalian tidak mengerti betapa beratnya berada di posisiku. Jika aku mau, sudah pasti kulakukan sejak awal. Tapi, kondisinya tidak semudah yang dibayangkan. Bahkan orang-orang baik di sini saja tidak mampu melaporkan Athan ke polisi. Athan memiliki pengaruh besar di Perancis. Semua orang tunduk akan perintahnya," ujar Zehra lelah.
"Tapi, kau tidak bisa membiarkannya begitu saja. Kau juga harus mengambil keputusan tegas. Ini semua demi kebaikanmu juga, Zehra," kata Emir.
Zehra menggeleng tidak setuju. "Tidak akan ada yang baik-baik saja, Emir. Yang aku hadapi saat ini bukan orang biasa. Dia sangat kejam, bahkan anggotanya sendiri tidak sanggup melawannya. Apalagi aku. Tolong, mengertilah."
"Mau sampai kapan, Zehra?" sahut Michèle. "Ini kesempatan yang bagus untuk menjauh dari Athan. Kami tidak akan membiarkan kau menderita di sini. Kau juga harus melanjutkan masa depanmu. Aku bahkan siap mati jika memang itu resiko yang harus kuterima setelah menyelamatkanmu."
"Michèle, bukan hanya kau saja yang akan dibunuh, tapi aku juga. Percuma saja kau menyelamatkanku, karena pada akhirnya aku juga akan terbunuh."
"Apa memang harus seperti itu resikonya?" tanya Emir.
Zehra mengangguk. "Tidak akan ada yang selamat darinya. Tidak akan."
"Kau terlalu pesimis, Zehra. Percayalah pada Tuhan. Tuhan pasti akan memberikan jalan terbaik untukmu. Kita tidak akan tahu jika kita tidak mencobanya," kata Michèle yang masih tetap pada prinsipnya. "Jangan pernah takut pada manusia. Sekejam apapun dia, hanya Tuhan yang berkuasa atas segalanya dan kematian hanya Tuhan yang bisa menentukan. Bukan Athan, atau manusia lainnya."
"Zehra!"
Zehra terlonjak kaget saat mendengar suara Athan dari kejauhan. Zehra langsung meminta Michèle dan Emir untuk bersembunyi. "Cepat, kalian bersembunyi. Dia tidak akan mengampuniku jika melihat kalian ada di sini."
"Tapi...."
"Tidak ada waktu untuk berdebat, Michèle. Cepat bersembunyi!"
Michèle dan Emir bersembunyi dibalik tumpukan barang-barang bekas tak terpakai. Dapat dipastikan, Athan tidak akan melihat mereka. Zehra bergegas menemui Athan yang masih berteriak memanggil namanya dari halaman depan. "Ada apa?" tanyanya.
"Darimana saja kau, hah?"
"Aku di dapur. Memangnya kenapa?" Zehra terus mengeluarkan nada ketusnya. Ia benar-benar tidak menyukai Athan bergandengan tangan dengan wanita lain di depannya.
"Aku ada keperluan di luar. Jadi, selama aku belum kembali, kau harus mengurus semua keperluan Elmira. Mulai dari makan malam sampai pemijatan kaki. Kau mengerti?"
Zehra mendecih kecil. "Kenapa tidak kau lakukan saja sendiri? Aku bukan pembantunya. Jadi, jangan pernah menyuruhku, karena aku bertindak sesuai dengan keinginanku. Lakukan saja apa yang kau inginkan, tapi jangan libatkan aku dalam urusanmu."
"Lancang sekali kau!"
Plak!
Elmira yang merasa dirinya berkuasa karena dekat dengan Athan pun langsung menampar pipi kiri Zehra dengan keras. Zehra terkejut melihat perlakuan Elmira padanya. Sementara Athan hanya tertawa sambil menatap rendah Zehra. "Kau itu sedang berbicara dengan Godfather Raid King! Jaga sopan santunmu! Apa orang tuamu tidak mengajarkan hal itu, hah?!"
Plak!
Kali ini, Zehra yang menampar balik Elmira. Ia tidak suka orang tuanya disangku-pautkan dalam kehidupan pribadinya. Orang tuanya tidak salah. "Jangan pernah membawa nama orang tuaku ke dalam masalah ini! Aku bersumpah, akan merobek mulut sampahmu itu jika kau mengulanginya lagi! Camkan itu!"
"Athan, lihat pipiku merah," Elmira mengadu pada Athan.
Athan yang geram langsung menjambak rambut Zehra sampai wanita itu mendongak kesakitan. "Jangan pernah melawan perintahku! Lakukan saja sesuai dengan apa yang kukatakan padamu! Layani Elmira dengan baik sampai aku pulang! Karna mulai detik ini, kau akan menjadi pelayan Elmira!"
"Sampai matipun, aku tidak akan sudi menjadi pelayan kalian berdua," balas Zehra sarkas.
Saat Athan ingin memukul Zehra, Emir pun muncul dan mencengkeram kuat tangan Athan. Postur tubuh mereka sama. Jadi, kekuatan mereka juga seimbang. Emir menatap tajam ke arah Athan sambil mendorong Athan dengan mudah. "Berani sekali kau memukul seorang wanita! Apa kau seorang pecundang, hah?! Jika kau memang pria sejati, harusnya kau tidak akan pernah memukul wanita."
"Siapa kau? Kenapa kau ada di mansionku?" tanya Athan.
"Aku, kekasih dari Zehra," jawab Emir tanpa ragu.
Seketika, Athan mengepalkan kedua tangannya dan memberikan tatapan tak kalah tajam kepada Emir. "Berani sekali kau membawa selingkuhanmu ke mansionku, Zehra!"
"Cih!" Zehra mendecih. "Lalu, kau bagaimana, hm? Kau juga membawa selingkuhanmu ke mansion ini. Bahkan kau memintaku untuk melayaninya. Apa kau sudah tidak waras, Athan Doxiadis Carras?"
Athan ingin kembali menyerang Zehra, namun usahanya digagalkan kembali oleh Emir. Bahkan Emir dan Athan sempat beradu pukul sampai akhirnya Michaël datang untuk memisahkan mereka. Untung saja, Athan meninggalkan senjatanya di kamar. Jika tidak, mungkin Emir sudah ditembak mati oleh Athan.
"Keluar kau dari mansionku!" teriak Athan.
"Baik!" balas Emir, "Tapi, aku akan membawa Zehra bersamaku!"
Athan menggeram marah. "Zehra tidak akan pergi bersamamu! Dia akan tetap di sini!"
"Huh! Kau tidak berhak melarangku," ujar Emir tak mau kalah. "Ayo, Zehra! Kita pergi dari sini. Tempat ini seperti neraka bagimu."
Emir langsung menarik tangan kiri Zehra, namun tangan kanan Zehra ditahan oleh Athan. Keduanya sama-sama memperebutkan Zehra sampai Zehra meringis kesakitan karena kedua tangannya terus ditarik oleh Emir dan Athan secara bergantian. Michaël dan Michèle yang melihat hal tersebut pun langsung meminta keduanya untuk berhenti.
"Sudahlah, Monsieur. Anda menyakiti tangan Madame Zehra," ujar Michaël.
Athan mendecak kesal. "Aku tidak peduli!"
"Emir, lepaskan. Zehra pasti kesakitan," pinta Michèle.
Emir justru menggeleng. "Aku tidak akan membiarkan Zehra menetap di sini. Aku harus membawanya pergi."
"Tapi, Emir, Zehra sudah kesakitan seperti itu. Apa kau tega membuat tangannya tidak bisa digerakkan karena ulahmu, hah?" tegas Michèle. "Lepaskan saja. Lain kali, kita akan coba cara lain untuk membebaskannya dari Athan."
Akhirnya, Emir menuruti permintaan Michèle. Ia melepaskan tangan Zehra secara perlahan, kemudian Zehra secara otomatis mendekat pada tubuh Athan. Zehra ingin menjauh dari Athan, namun Athan justru mendekap Zehra dengan kasar sampai wanita itu meringis kesakitan.
"Kali ini, aku menyerah demi kebaikan Zehra. Tapi aku bersumpah akan kembali lagi untuk membawanya pergi dari sini. Kau ingat itu baik-baik," ujar Emir dan langsung beranjak pergi dari hadapan Athan dan yang lainnya, diikuti oleh Michèle.
***
Setelah kepergian Emir dan Michèle, Zehra mendapat penyiksaan kembali selama berjam-jam yang mengakibatkan tubuh Zehra lemas dan tidak berdaya di atas tempat tidur. Athan benar-benar memukulinya dan juga memaksa berhubungan suami-istri berulang kali tanpa jeda sedikitpun. Tubuh Zehra seakan lumpuh dibuat Athan. Bahkan sampai pukul 21.00 malam ini, Zehra masih ditiduri oleh Athan dan dipukul berulang kali. Zehra sudah tidak mampu lagi untuk melawan. Wanita itu sudah menduga hal ini akan terjadi jika Emir dan Michèle terus memaksanya untuk keluar dari tempat ini. Apalagi kedua sahabatnya itu melakukan hal tersebut secara terang-terangan di depan Athan. Sudah pasti yang menjadi tumbal kemarahannya adalah Zehra.
"Athan, tolong hentikan," pinta Zehra dengan suara lemahnya.
"Aku tidak akan berhenti sampai kau mengaku salah!" bentak Athan. "Kenapa kau membiarkan orang asing masuk ke mansionku, hah?! Kenapa?!"
Zehra menggeleng lemah. "Aku tidak tahu mereka datang ke sini. Aku juga terkejut saat... melihat mereka. Kenapa tidak kau tanyakan pada... penjaga gerbangmu?"
"Ini yang tidak kusuka darimu! Kau selalu mengkambing-hitamkan orang lain untuk menutupi kesalahanmu! Dasar bodoh! Kau pikir aku mudah ditipu, hah?!" teriak Athan yang semakin mempercepat gerakannya di atas Zehra.
Zehra yang sudah merasa kesakitan pun hanya bisa menangis sambil berteriak meminta pertolongan. Sangat susah menjelaskan sesuatu pada Athan, karena Athan tidak percaya pada Zehra sedikitpun. Sementara itu, Michaël yang menunggu di luar merasa cemas. Michaël tahu, pasti tuannya itu menyiksa Zehra tanpa ampun. Ia tampak mondar-mandir di depan kamarnya yang sekarang ditempati oleh Athan dan Zehra.
"Berhentilah mondar-mandir, bodoh!" gerutu Elmira kesal. "Aku lelah melihatmu!"
Michaël menatap tajam Elmira, kemudian ia mencoba untuk meredam emosinya. "Sebaiknya, anda diam dan jangan membuat kekacauan lagi."
"Apa maksudmu?!"
"Apa anda tidak sadar? Semua kekacauan ini karena ulah anda. Jika anda tidak bertingkah manja di depan Monsieur, hal buruk yang menimpa Madame sekarang ini tidak akan terjadi. Sebaiknya anda pulang dan merenungkan ucapan saya," ucap Michaël sarkas.
Elmira berdiri dari sofa. "Beraninya kau!"
"Bukankah sudah saya peringatkan untuk tidak membuat kekacauan? Apa telinga anda tuli? Perlukah saya bawa anda ke dokter spesialis?" Tangan kanan Michaël sudah mencengkeram tangan kanan Elmira yang ingin menamparnya. "Anda akan menyesal jika berurusan dengan saya. Lebih baik, anda pergi dari hadapan saya sekarang, sebelum semuanya terlambat."
Michaël langsung melepaskan cengkeramannya dan membiarkan Elmira pergi dari mansion tersebut. Michaël sendiri sudah menyiapkan jawaban jika nanti Athan bertanya tentang Elmira.
To be continue~