AGVI (Agression Violente) merupakan p*********n secara berkala dengan berbagai macam bentuk kekerasan, bertujuan untuk membuat musuh menyerah. AGVI adalah strategi p*********n yang hanya dimiliki oleh Raid King, karena serangannya yang sangat dahsyat. Bahkan dalam serangan ini, Raid King bisa sampai membuat markas lawan runtuh dalam seketika. Jumlah anggota yang dikerahkan lebih banyak dari jumlah p*********n biasanya. Semua anggota ikut turun dalam melancarkan strategi ini, termasuk anggota mafia lain yang bekerjasama dengan Raid King. Jika Athan sudah mengeluarkan strategi ini, artinya tidak ada kata ampun untuk musuhnya. Semua harus lenyap detik itu juga. Begitulah prinsip Athan dalam menyerang lawan.
Rencana p*********n ini harusnya dilakukan sesuai dengan perjanjian antara Athan dengan Alphons saat di klub. Tapi Athan sudah tidak bisa lagi meredam amarahnya kali ini. Alphons mencoba untuk bermain-main dengannya. Jadi, sekalian saja Athan habisi Alphons beserta pengikutnya, tidak boleh ada yang tersisa. Athan memutuskan untuk berangkat pada pukul 02.00 dini hari dan setibanya di sana, ia akan langsung menyerang tanpa menunggu sang lawan terbangun dari tidurnya. Athan dan anggotanya sudah menyiapkan beberapa perlengkapan perang dan beberapa mobil untuk membawa mereka ke markas Alphons yang kebetulan masih berada di sekitar Kota Nice.
Zehra yang kebetulan terbangun dari tidurnya pun mencoba berjalan keluar, meski tubuhnya terasa sakit. Ia hanya ingin melihat kondisi di luar kamarnya. Zehra juga memerlukan bantuan dari Michaël untuk hal penting. Tapi saat berada di luar, ia terkejut melihat begitu banyak pria berpakaian seragam perang berwarna hitam. Semuanya memakai pakaian yang sama, termasuk suaminya. Zehra berjalan perlahan menuruni anak tangga untuk menghampiri suaminya. Entah kenapa, firasatnya sungguh tidak enak.
"Athan, kau mau kemana?" tanya Zehra dengan suara lemahnya.
Athan menoleh sambil menatap datar. "Bukan urusanmu."
"Aku hanya mencemaskanmu. Firasatku tiba-tiba tidak enak," ujar Zehra yang masih tetap memperhatikan suami kasarnya itu. "Bisakah kau tidak pergi?"
Athan yang baru selesai memakai rompi anti pelurunya pun langsung mendekati Zehra, lalu menekan kedua rahang Zehra dengan kuat. Tatapannya sudah berubah menjadi sangat tajam. Seakan ia tidak suka dengan larangan Zehra barusan. "Sudah kukatakan, ini bukan urusanmu. Kau tidak kuanggap berharga di sini. Jadi, jangan melarangku."
Pria itu melepaskan cengkeramannya dengan kasar, sampai Zehra hampir saja akan terjatuh ke lantai. Untungnya Michaël dengan sigap menahan tubuhnya dari belakang. Michaël pun langsung mendapat tatapan tajam dari Athan. Alhasil, Michaël menjauhkan tangannya dari Zehra, setelah ia memastikan Zehra berdiri dengan baik. Sementara Damien sudah mengepalkan tangan kanannya di belakang, karena merasa kesal dengan sikap kasar Athan pada istrinya sendiri. Bagi Damien, semua wanita itu berharga dan tidak pantas diperlakukan kasar. Damien heran, kenapa masih ada pria seperti Athan di dunia ini? Kenapa ia tidak mati saja? Timbullah doa-doa buruk dalam pikiran Damien.
"Gilbert!" teriak Athan.
Gilbert langsung berlari menghampiri Athan. "Ya, Monsieur?"
"Bawa wanita ini ke kamar," ucap Athan sambil menunjuk ke arah Zehra. Bahkan ia tidak menyebut Zehra sebagai istrinya. "Pastikan dia tidak pergi kemanapun. Jika hal itu sampai terjadi, kau tanggung sendiri akibatnya. Mengerti?!"
Gilbert mengangguk. "Saya mengerti, Monsieur."
"Satu lagi. Jika dia bertingkah macam-macam, langsung hajar saja dia. Jangan kasih ampun."
"Baik, Monsieur," jawab Gilbert sambil menunduk.
"Bagus."
Athan mengambil pistolnya di atas meja, kemudian berjalan lebih dulu di depan, diikuti oleh anggota Raid King lainnya. Sebelum berangkat, Michaël meminta Zehra untuk tetap di kamar sampai mereka kembali. Karena bisa saja, musuh yang lain memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang mansion. Michaël hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada Zehra. Bagaimanapun juga, Michaël merasa bertanggung-jawab dengan keadaan buruk Zehra karena ulahnya yang memberikan data pribadi Zehra pada Athan. Rasa bersalah masih tetap menyelimutinya sampai detik ini.
Setelah kepergian Athan, Gilbert pun mengajak Zehra untuk masuk ke kamar. Tapi Zehra merasa bosan karena terus-menerus berada di kamar. Ia ingin sekali berjalan-jalan di taman mansion ini, namun Gilbert tidak mengizinkannya.
"Madame tidak diizinkan keluar oleh Monsieur. Saya hanya tidak ingin anda dipukuli lagi seperti tadi. Sungguh, hati saya sakit melihatnya," ujar Gilbert sedih saat mengingat perlakuan kasar Athan pada Zehra. "Anda wanita yang baik. Tapi kenapa Tuhan menakdirkan anda menikah dengan pria seperti Monsieur?"
"Hhh!" Zehra menghela napas berat sambil duduk di sofa. Ia juga berpikiran seperti itu. Kenapa dirinya bisa bertemu dengan Athan? Apalagi sampai menikah. Zehra tidak pernah membayangkan hal ini bisa terjadi dalam kehidupannya. "Aku juga tidak mengerti. Takdirku begitu buruk. Ditinggalkan orang tua sejak usia muda, sampai aku harus berjuang sendirian untuk mencapai kesuksesan. Setelah sukses, Athan datang dan mengacaukan semuanya. Bahkan sampai detik ini, dia belum menepati janjinya padaku."
"Monsieur bukanlah orang yang baik dalam soal janji, Madame. Dia mengganggap sebuah janji itu tidak penting. Saya sudah mengenal beliau dan semua janjinya memang tidak ada yang ditepati. Bahkan perjanjian tertulis dengan para pekerjanya saja diabaikan olehnya. Apalagi perjanjian yang tidak tertulis. Mungkin dia hanya menganggapnya sebagai angin lalu saja."
Zehra langsung menatap Gilbert. "Benarkah begitu?"
"Benar, Madame. Sudah berulang kali kami dijanjikan bisa pulang untuk bertemu keluarga, tapi saat kami menagih janji itu, dia marah dan mengancam akan membunuh kami. Itu sebabnya, kami tidak berani keluar dari mansion ini tanpa izin darinya," Gilbert menjelaskan bagaimana perangai asli dari Athan Doxiadis Carras.
"Apakah sebelumnya, pernah ada pelayan yang berusaha keluar dari sini?" tanya Zehra penasaran.
Gilbert lantas mengangguk. "Pernah, Madame. Tapi pelayan itu sudah ditembak mati oleh Monsieur. Satu hal yang harus anda tahu, Monsieur sangat rajin melihat CCTV untuk mengetahui hal apa saja yang terjadi di mansion ini, saat beliau tidak ada. Bahkan Monsieur Michaël dan Damien juga ditegur karena sudah mengeluarkan anda dari kamar mandi. Beliau marah dan hampir saja nyawa mereka dalam bahaya. Untungnya, Monsieur Serge langsung menghentikan Monsieur Athan."
"Pantas saja kau melarangku untuk keluar. Ternyata ini alasannya?"
"Iya, Madame. Syukurlah jika anda mengerti," ucap Gilbert lega.
Zehra tersenyum lantas berdiri dari tempat duduknya. "Baiklah. Kalau begitu, aku akan tetap berada di kamar sampai dia pulang. Tapi tolong, buatkan aku makanan ya. Aku sangat lapar."
"Baik, Madame. Makanan akan saya antarkan setelah selesai dimasak," ujar Gilbert.
Zehra pun bergegas menuju ke kamar agar Athan tidak kembali menghajarnya. Lebih baik ia cari aman saja, daripada harus mendapat pukulan keras lagi dari suaminya. Bahkan tubuhnya saja masih terasa sakit sampai detik ini. Mata kirinya juga masih bengkak.
***
Athan dan rombongannya sudah tiba di lokasi markas Alphons Silva. Athan turun dan berada dibarisan depan. Salah satu mata-mata yang dikirimnya sebelum ini, sudah menginfokan bahwa Alphons dan anggotanya tengah tertidur pulas. Kesempatan Athan untuk melenyapkan mereka semua akan berjalan dengan lancar. Tapi sayang, salah satu anggota Raid King tak sengaja menginjak sebuah ranjau yang ditanam di tanah. Seketika semua terkejut, termasuk Athan. Mereka tidak memperkirakan ranjau tersebut. Bahkan mata-matanya juga tidak mengatakan soal ini. Apa mungkin ini konspirasi? Pikir Athan.
"Monsieur, bagaimana ini?" tanya Damien.
"Tenang. Jangan panik. Sepertinya kita telah masuk kedalam perangkap Alphons. Aku yakin, ada konspirasi di sini. Tidak mungkin mata-mataku seceroboh ini," ujar Athan. Mencoba untuk melangkah mundur secara perlahan, diikuti yang lainnya.
Tiba-tiba, dari arah belakang, salah satu mobil rombongan Athan meledak. Bahkan serpihannya hampir mengenai kepala Athan. Untung saja, Michaël dengan cepat melindungi Athan dari bahaya tersebut. Michaël memang memiliki gerakan yang cepat dalam hal perlindungan. Itu sebabnya, Athan suka mempekerjakan Michaël, walaupun terkadang mengesalkan di mata Athan.
"Monsieur, anda baik-baik saja?" tanya Michaël cemas.
Athan mengangguk. "Aku tidak apa-apa."
"Sepertinya, mereka sudah mengetahui kedatangan kita, Monsieur," ucap Michaël dengan asumsinya. Hal itu diangguki oleh Athan.
"Kau benar. Mereka pasti sudah menangkap mata-mataku untuk menjebak kita semua di sini dengan informasi palsu. Sial! Ternyata dia sangat licik!" umpat Athan kesal.
Michaël memperhatikan keadaan sekitar. "Lebih baik, kita kembali ke mansion sekarang. Ini sangat berbahaya, Monsieur. Saya bisa melihat, ada ranjau dimana-mana. Kita tidak mungkin bisa menerobos masuk."
"Apa kau gila, hah? Kau ingin menghancurkan reputasiku?!" teriak Athan tidak suka.
"Bukan begitu maksud saya, Monsieur," ujar Michaël meluruskan. "Saya hanya tidak ingin anda terluka. Kejadian ini mengingatkan saya tentang kecemasan Madame Zehra. Apa yang dikhawatirkannya memang benar."
Athan mendecak kesal lalu berdiri dan seketika itu juga, lengan kanan Athan tertembak. Athan kembali berlutut di tanah sambil memegangi lengannya yang sudah tertancap peluru. Michaël dengan sigap membalutkan lengan Athan dengan kain. Dalam hati Michaël sedang mengumpat kesal, karena keegoisan Athan. Padahal baru saja Michaël mengatakan kata bahaya dan sekarang musuh sudah menembak tuannya itu.
"Monsieur, apa yang dikatakan Michaël memang benar. Harusnya kita kembali ke mansion sebelum sesuatu terjadi pada anda. Ini demi kebaikan anda juga," sahut Damien yang masih fokus pada area sekitar.
"Diam!" teriak Athan. "Aku tidak akan pergi sebelum menghabisi Alphons!"
Athan tiba-tiba saja berlari menuju markas Alphons dan berhasil melewati ranjau tanah dengan baik. Beberapa tembakan pun mengarah ke Athan, namun pria itu mampu menghindarinya. Sementara Damien dan lainnya menembaki anggota Alphons yang bersembunyi di semak-semak. Michaël sendiri berusaha menyusul Athan masuk ke dalam markas musuh tersebut.
Sesampainya di dalam, Michaël terkejut melihat Athan sudah dikepung oleh banyak orang dari kelompok Alphons. Dilihatnya Athan berusaha keras menahan rasa sakit di lengannya. Athan berusaha melawan orang sebanyak itu dengan tangan kosong sambil tetap berusaha mengabaikan rasa sakit di lengannya. Michaël pun bergegas membantu Athan. Michaël termasuk petarung yang baik, bahkan tanpa senjata sekalipun.
"Monsieur, pergi dan temui Alphons!" teriak Michaël sambil menghajar musuhnya.
Athan mengangguk dan bergegas lari mencari Alphons. Athan tampak bersemangat saat dirinya berhasil menemukan ruangan Alphons, karena ada tulisan nama tersebut di depan pintu. Athan langsung mendobrak pintu itu dengan kaki kanannya. Alhasil, pintu itu rusak dan terlihatlah Alphons tengah berdiri sambil menyandera mata-mata yang sebelumnya sudah dikirim oleh Athan. Salah satu tangan Alphons mengarahkan pisau di leher tawanannya, kemudian menggoroknya sekali saja. Mata-mata tersebut terkapar di lantai dengan kucuran darah segar di lehernya, sementara Alphons tertawa puas. Athan mengeratkan kepalan tangannya sambil berjalan maju untuk menghabisi lawannya. Tapi sebelum itu, Athan harus menghabisi beberapa orang penghalang di depannya. Ia seakan tidak takut jika dirinya mati di tempat itu.
"Kau tidak akan bisa mendekatiku, Athan," ucap Alphons meremehkan dan terus menambah jumlah pasukannya sebagai benteng.
Athan menyeringai. Ia tetap melawan satu per satu yang menghalanginya. Bahkan Athan tak segan mematahkan kaki serta tangan dari anggota musuh. Saat melihat anggotanya semakin sedikit, Alphons langsung terdiam sambil menampilkan wajah cemas. Athan tahu hal itu.
"Bagaimana? Kau masih ingin menambah lagi?" tanya Athan santai.
Alphons menatap ke arah kanan sambil memberi aba-aba pada seseorang. Tak lama kemudian, muncullah dua orang pria bertubuh kekar dan lebih tinggi dari Athan. Alphons kembali tertawa, namun Athan tidak takut akan hal itu.
"Hanya ini?" tanya Athan sambil menyeringai.
"Lawan saja jika kau merasa kuat," ujar Alphons.
Athan mendecih dan langsung menghajar dua pria bertubuh kekar itu. Memang tidak mudah bagi Athan, namun ia tidak mudah menyerah begitu saja. Untung saja, Michaël datang tepat waktu dan bergegas membantu Athan. Dengan kerjasama yang kompak, kedua pria bertubuh kekar itu jatuh seketika. Athan pun menginjak tubuh salah satu musuhnya dengan satu kaki.
"Bagaimana, Alphons Silva?" Athan kembali bertanya.
Alphons yang sudah terjebak oleh ulahnya sendiripun langsung mengambil senjata dan menodongkannya ke arah Athan. "Kau harus mati!"
Sebuah tembakan pun diberikan oleh Alphons untuk Athan tepat di d**a. Athan masih selamat karena ia memakai rompi anti peluru. Hanya saja, ia terkejut dengan tembakan tiba-tiba itu. Saat Athan sedikit membungkuk, memegangi dadanya, Alphons memanfaatkan kesempatan itu untuk menembak lengan kiri Athan. Alhasil, Athan terduduk di lantai. Michaël pun turut ditembak oleh Alphons tepat di paha kanannya saat ingin maju melawan Alphons.
Athan yang murka, segera bangkit berdiri dan mengeluarkan pisaunya. Tanpa menunggu lama, Athan melemparkan pisau itu tepat ke arah Alphons. Pisau tersebut seketika menancap di area d**a Alphons. Seketika Alphons terjatuh, namun masih sempat menekan pelatuk untuk menembak Athan. Tapi tembakan itu meleset karena Michaël berhasil mendorong tubuh Athan agar terhindar dari peluru tersebut. Jika Michaël tidak bergerak cepat, mungkin peluru itu sudah mengenai kepala Athan.
To be continue~