Sekitar pukul 05.00 pagi, Zehra terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata berulang kali sampai pandangannya normal kembali. Diliriknya jam dinding sambil mengambil posisi duduk dan bersandar. Setelah itu, Zehra menoleh ke samping kanan, berharap ia bisa melihat suaminya tidur di sana. Tapi sayang, harapannya tidak terwujud. Wanita malang itu menghela napas berat sambil turun dari tempat tidurnya. Sekilas, ia teringat akan kepergian suaminya pukul 02.00 dini hari tadi. Sepertinya, Zehra tahu Athan akan pergi menyerang musuh, karena bisa dilihat dari seragam yang dikenakan oleh suaminya. Mendadak, hati Zehra menjadi gelisah dan cemas. Jika memang Athan pergi untuk menyerang musuh, ia khawatir firasat buruknya akan terjadi. Zehra bergegas keluar dari kamar, mencari keberadaan seseorang yang bisa ditanyai olehnya. Dan kebetulan sekali, ia melihat Michaël baru saja keluar dari ruangan rahasia yang tidak boleh dimasuki oleh orang lain, kecuali Athan dan anggota Raid King lainnya.
Sejak datang ke mansion tersebut, Zehra memang sudah diperingati oleh Athan untuk tidak memasuki area yang dilarang. Zehra pun menurut dan tidak pernah masuk ke dalam sana. Ia tahu resiko apa yang akan diterimanya jika larangan itu dilanggar. Zehra menghampiri Michaël dan terkejut melihat kondisi Michaël saat ini. Ada luka lebam di wajahnya, namun sudah diobati. Dengan raut kecemasan, Zehra pun langsung bertanya kepada Michaël perihal Athan.
"Michaël, dimana suamiku?" tanya Zehra. "Apa dia baik-baik saja? Lalu, kenapa wajahmu penuh luka lebam seperti itu? Apa yang terjadi?"
Michaël tersenyum. Ia senang melihat Zehra begitu mencemaskan kondisi tuannya. Meskipun sikap tuannya sangat tidak baik pada Zehra. "Monsieur ada di ruangan pribadinya, Madame. Kondisinya saat ini sudah baik-baik saja. Ada dua luka tembak di kedua lengannya, tapi dokter sudah menanganinya. Saat ini Monsieur sedang tertidur."
"Luka tembak? Bagaimana bisa?" tanya Zehra terkejut.
"Luka tembak itu berasal dari musuh. Terjadi kesalahan komunikasi antara Raid King dan pihak musuh. Pihak musuh sudah mengetahui tentang rencana p*********n ini. Itu sebabnya, mereka menyandera mata-mata yang dikirim Monsieur untuk mengelabui kami," Michaël menjelaskan masalah yang terjadi pada Zehra agar wanita itu mengerti apa yang biasa dilakukan oleh Raid King. "Kami sudah terbiasa dengan hal ini. Biasanya, strategi Raid King tidak pernah meleset. Tapi kali ini, kami kecolongan. Ternyata pihak musuh lebih cerdik dari yang kami duga. Itu sebabnya, kami terjebak di sana dan sulit untuk kembali. Saya sempat mengajak Monsieur untuk kembali ke mansion, sesuai dengan peringatan Madame sebelum kami berangkat. Tapi beliau menolak mundur sebelum melenyapkan pihak musuh."
Zehra mendadak lemas mendengar hal itu. Ia terduduk di sofa sambil mengingat bagaimana firasat buruknya sebelum sang suami pergi. Ternyata itu benar terjadi. Beruntungnya, Tuhan masih menyelamatkan nyawa suaminya. "Tapi, kau membantunya kan, Michaël? Kau membantu suamiku, kan?" tanyanya kemudian.
Michaël mengangguk. "Tentu saja, Madame. Itu sudah menjadi tugas saya untuk selalu melindungi Monsieur. Saya tidak mungkin membiarkan beliau sendirian di sana, sekalipun itu juga berakibat buruk pada saya."
"Syukurlah," ucap Zehra sedikit merasa lega. "Beruntung sekali suamiku mendapatkan orang kepercayaan sepertimu, Michaël. Kau selalu siap melindunginya. Terima kasih untuk jasamu itu."
"Tidak perlu berterima kasih, Madame. Sudah sewajarnya saya melindungi beliau. Jika musuh ingin membunuh beliau, maka saya-lah yang harus terbunuh lebih dulu. Walaupun terkadang saya tidak suka dengan sikap kasar beliau, tapi saya tidak ingin mencelakainya. Beliau pada dasarnya baik. Hanya saja, pemikirannya yang terlalu egois. Sifat ingin menang sendiri dan tidak suka diatur itulah yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini."
Zehra mengangguk setuju. Ia pun juga merasakan sisi kebaikan Athan. Setiap manusia pasti memiliki sisi baik dan buruk. Tergantung kepada individunya masing-masing. Ingin menonjolkan keburukan, atau kebaikan. Zehra yakin, suatu hari nanti, Athan pasti bisa berubah menjadi lebih baik lagi, terutama padanya. Itulah harapan Zehra saat ini. Semoga saja, Tuhan mengabulkan harapannya. Jika belum terkabulkan, mungkin Zehra yang harus lebih bersabar lagi dalam menghadapai sikap Athan.
"Apa kau sudah sarapan?" tanya Zehra.
"Belum, Madame."
"Pergilah ke ruang makan. Kau juga pasti lelah. Biar aku yang menjaga suamiku di sini," ujar Zehra.
Michaël terdiam beberapa saat, kemudian berkata, "Tapi, anda tidak dibolehkan masuk ke ruangan itu, Madame. Beliau bisa marah lagi pada anda."
"Aku tidak akan masuk ke dalam," Zehra terkekeh. "Aku akan menunggunya di sini sampai dia keluar dari ruangan itu. Kau tenang saja, aku tidak akan melanggar larangannya."
"Hhh! Baiklah. Kalau begitu, saya permisi, Madame."
Michaël sedikit membungkuk untuk memberi hormat pada Zehra, kemudian beranjak pergi menuju ruang makan. Sementara Zehra masih menunggu di sofa ruang tengah untuk melihat Athan saat keluar dari ruangan tersebut. Sejujurnya, Zehra sangat penasaran dengan kondisi suaminya di dalam sana. Tapi apa daya, ia tidak bisa masuk begitu saja tanpa persetujuan dari Athan. Alhasil, Zehra hanya bisa bersandar di sofa sambil menonton acara televisi.
***
Tepat pukul 10.00 pagi, Zehra melihat Athan keluar dari ruangan rahasia tersebut. Zehra yang baru saja kembali dari taman setelah bosan menonton acara televisi pun langsung mendekati suaminya. Dilihatnya kedua lengan Athan sudah terbalut oleh kain kasa dan suaminya hanya mengenakan kaos tanpa lengan. Saat Zehra menghampiri, Athan justru hanya menatap datar tanpa mengatakan apapun. Kecemasan Zehra tak dihiraukannya sama sekali.
"Athan, bagaimana kondisimu sekarang? Apa sudah lebih baik?" tanya Zehra yang masih mengikuti langkah Athan menuju meja makan.
"Kau bisa melihat sendiri dengan matamu. Tidak perlu bertanya," jawab Athan sarkas.
Zehra menghela napas sambil mengelus d**a. Menghadapi Athan memang memerlukan kesabaran ekstra. Tidak boleh melawannya, karena Athan akan semakin murka nantinya. "Aku ambilkan nasi ya? Kau pasti lapar."
"Ck! Tidak perlu," Athan menolak dan mengambil kembali piringnya yang sudah dipegang Zehra. "Pergilah. Jangan menggangguku. Aku sedang tidak ingin melihat wajahmu. Kau sangat membosankan."
"Hhh!" Zehra pun menyerah dan memilih pergi dari hadapan Athan. Ia mengambil ponselnya yang berada di kamar, kemudian ia berjalan keluar menuju tepian kolam renang. Lebih baik ia merilekskan dirinya di sana, daripada harus berhadapan dengan pria angkuh seperti Athan.
Zehra duduk di kursi santai, lalu memutar musik di ponselnya menggunakan earphone. Musik klasik mampu membuat Zehra merasa sedikit lebih tenang. Wanita itu bersandar di kursi santai sambil memejamkan mata, menikmati setiap lirik dan alunan musik yang ia dengar. Tapi ketenangannya terusik karena panggilan telepon dari nomor yang tidak bernama. Seketika Zehra membuka matanya untuk melihat siapa yang menghubunginya. Ia teringat saat semua nomor kontak teman-temannya dihapus oleh Athan.
Zehra menerima panggilan tersebut. "Allô (Halo). Zehra Ergen di sini."
"Zehra!"
Seketika Zehra melepas earphone-nya karena terkejut mendengar suara teriakan yang berasal dari Michèle. Setelah beberapa saat, barulah Zehra memakai kembali earphone tersebut untuk berbicara pada sahabat baiknya itu. "Michèle, bisakah kau tidak berteriak saat ditelepon? Gendang telingaku seakan pecah saat mendengar teriakanmu," protesnya.
"Bagaimana aku tidak teriak, hah? Kau menikah dengan mafia jahat itu dan tidak memberi kabar sama sekali padaku. Kau bilang tidak akan menerimanya sebagai suamimu, tapi kenyataannya kau menikah juga dengannya. Apa kau sudah mulai kehilangan akal sehat, hah? Kau bahkan tidak memberitahu Emir tentang pemecatanmu dari Lemaire Entertainment. Sudah berulang kali dia datang ke sini dan tidak percaya dengan pemecatanmu itu. Dia juga mendatangi apartemenmu, tapi kau tidak ada di sana. Kau sengaja ingin menyembunyikan ini, hah? Jawab!"
Zehra memijat pelipisnya. Setelah mendengar seluruh omelan Michèle, kepala Zehra mendadak pusing. Jujur, ia juga ingin mengatakan hal ini. Tapi, semua nomor kontak di ponselnya sengaja dihapus agar dirinya tidak bisa mengatakan pada siapapun, termasuk Emir dan Michèle. Bahkan seluruh media sosial Zehra tidak dapat diakses kembali olehnya sendiri. Sudah pasti yang melakukan semua ini adalah suaminya.
"Dengarkan aku. Aku bukan sengaja tidak ingin memberitahukan hal ini pada kalian. Tapi, semua nomor kontakku dihapus oleh Athan dan aku tidak bisa mengakses akun media sosialku sendiri. Bagaimana aku bisa menghubungimu? Harusnya kau dengarkan aku dulu sebelum berasumsi buruk tentangku," ujar Zehra sedikit kesal. "Dan soal pemecatan itu, aku sengaja tidak memberitahu Emir karena takut dia tidak fokus pada pekerjaannya. Aku sudah terlalu banyak merepotkan dia, Michèle. Aku tidak ingin menambah bebannya lagi."
"Lalu, apa alasanmu mau menikah dengan pria kejam seperti Athan? Kau bahkan sangat membencinya dan bersumpah untuk tidak menikah dengannya. Bagaimana bisa kau melanggar sumpahmu sendiri, hah?"
"Hhh! Alasannya karena dia ingin melenyapkanku jika aku menolak menikah dengannya. Itu sebabnya aku menerima pernikahan ini untuk menyelamatkan diriku sendiri. Aku memang bersumpah untuk tidak menikah dengannya. Tapi aku belum siap untuk mati konyol di tangan orang jahat seperti dia. Aku harap, kau bisa mengerti alasanku ini," kata Zehra lirih.
"Ah, jadi begitu. Maafkan aku, Zehra. Aku tidak bisa membantumu, tapi justru aku yang memarahimu. Aku tidak bisa membayangkan betapa sulitnya kau saat itu. Tapi yang aku kesalkan, kenapa kau tidak mengabariku sebelum pernikahan itu terjadi? Jika kau langsung mengatakan padaku, mungkin aku akan menghubungi polisi untuk menangkap Athan."
Zehra menatap lurus ke arah kolam renang. Seandainya polisi tidak bekerjasama dengan Athan, mungkin hal itu akan berlaku bagi Zehra. Tapi pada kenyataannya, kuasa Athan lebih besar dari apapun. Athan punya segalanya, termasuk uang. Sangat mudah bagi Athan membayar orang-orang yang hendak menjebloskannya ke penjara. "Michèle, tidak mudah memasukkan Athan ke penjara. Polisi sudah menerima banyak uang dari Athan dan mustahil untuk melaporkannya. Athan sangat berkuasa di sini. Kita tidak bisa menganggap remeh pria itu."
"Astaga. Aku tidak menyangka pengaruh Athan bisa sebesar itu di Perancis. Lalu, bagaimana perlakuannya terhadapmu setelah menikah? Kau tidak disiksa olehnya, kan? Kau baik-baik saja, kan? Katakan yang jujur."
"Aku baik-baik saja," jawab Zehra berbohong. Ia tidak ingin membuat Michèle semakin cemas padanya. Michèle juga punya kehidupan sendiri yang mungkin lebih rumit darinya. Jadi, Zehra memutuskan untuk menutupi aib suaminya dari Michèle. "Kau tidak perlu mencemaskanku di sini."
"Syukurlah. Jika terjadi sesuatu, segera kabari aku. Mengerti?"
"Baiklah. Aku tutup dulu ya."
Zehra segera mematikan panggilan teleponnya karena baru saja melihat Athan keluar dari mansion. Ia tidak ingin membuat Athan curiga. Zehra pun memutuskan untuk berpura-pura tidur sambil kembali memutar musik di ponselnya. Dan benar saja, tak berapa lama, Athan terlihat berjalan ke arah Zehra yang sudah memejamkan matanya. Athan menatap Zehra dengan kedua tangan masuk ke dalam saku training hitamnya sambil berdiri tepat di samping kiri Zehra.
Athan mengguncang sedikit tubuh Zehra. "Zehra. Zehra."
Tapi sayang, Zehra tidak mendengar panggilan Athan. Pria itu dengan kasar menarik earphone dari telinga Zehra. "Zehra!"
Wanita itu tersentak lalu menatap Athan. Zehra pun langsung berdiri sejajar dengan Athan sambil menunduk ketakutan. Athan yang kesal karena Zehra tidak mendengar panggilannya, langsung menekan rahang Zehra, membuat wanita itu menatap matanya yang tajam.
"Apa kau sengaja menulikan pendengaranmu, hah?!" bentak Athan.
"Ti-Tidak, Athan."
"Lalu, kenapa kau tidak mendengarku?! Padahal aku sudah mengguncang tubuhmu! Kau ingin menentangku, hah?! Atau kau senang mendapat pukulan dariku?!"
Zehra menggeleng. "Tidak. Maafkan aku. Aku ketiduran, Athan."
Athan mendecak lalu melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Kekesalan Athan tidak hanya sampai disitu saja. Pria itu menarik rambut Zehra secara paksa untuk masuk ke dalam sebuah gudang kecil yang gelap dan pengap. Tidak ada fentilasi atau penerangan apapun di sana. Banyak debu dan juga tikus di dalamnya. Ukuran gudang tersebut berkisar 2×2 meter saja. Cukup membuat sesak jika tidak ada fentilasi udara.
Athan mendorong tubuh Zehra sampai tersungkur ke lantai berdebu di gudang tersebut. Zehra menangis sambil meringis karena lututnya terbentur lantai dengan keras. Saat Athan hendak menutup pintu gudang, Zehra bergegas bangkit dan memohon pada Athan untuk tidak mengurungnya di sana. Tapi sayang, Athan tidak menggubris permohonan Zehra. Pria itu tetap mengurung Zehra di sana sebagai hukuman karena telah mengacuhkannya.
To be continue~