Bab 7

1822 Kata
Selama kurang lebih satu jam, Zehra menangis tersedu-sedu di dalam kamar luas nan mewah milik Athan. Ia masih berada dalam posisi yang sama, di atas tempat tidur sambil menutupi tubuh polosnya dengan selimut. Zehra teringat akan kedua orang tuanya yang sudah tinggal di alam lain. Hidup tanpa orang tua begitu berat bagi Zehra. Ketika dirinya sedang berada dalam masalah seperti ini, ia selalu berharap orang tuanya muncul dalam mimpi untuk menenangkannya. Tapi, itu tidak pernah terjadi. Zehra hanya bisa menangis, menangis, dan menangis. Semua mimpi indah yang ia raih dengan susah payah, sirna dalam sekejap hanya karena bermasalah dengan orang yang salah. Zehra mendadak menghapus airmatanya, lalu mengeratkan selimut yang menutupinya ketika pintu kamar terbuka perlahan. Ia mengira Athan yang masuk ke kamar, namun ternyata tidak. Sosok Michaël muncul dibalik pintu tersebut, kemudian berjalan menghampirinya. Tak lupa Michaël menutup pintu tersebut setelah sadar bahwa kondisi Zehra sangat tidak baik. Dengan santai, Michaël mengambil sesuatu di dalam kotak P3K yang tergantung di dinding sebelah kanan. Beberapa obat luka sudah ada di tangannya, lalu ia duduk di salah satu kursi yang berada di dekat tempat tidur, tepat di samping Zehra. Michaël menampilkan senyuman manisnya. "Boleh saya obati luka anda?" Zehra lantas menggeleng ketakutan. Ia mengira, Michaël sama seperti Athan, kejam dan tidak berperikemanusiaan sama sekali. Tapi tatapan mata teduh serta senyuman tulus Michaël membuat prasangka buruk Zehra lenyap seketika. "Ka-Kau tidak akan menyakitiku, kan? Kau tidak diperintahkan untuk memukulku, kan?" "Hhh!" Helaan napas berat terdengar dari Michaël, "Saya tidak mungkin melakukan itu. Saya memang anggota mafia, tapi saya masih memiliki hati nurani untuk siapa saja, termasuk anda. Melihat anda seperti ini, saya juga prihatin. Tapi saya tidak bisa membantu apapun. Saya hanya bisa berdoa untuk anda." Zehra menghela napas lega. "Syukurlah. Ternyata, masih ada orang baik di sini. Maaf jika aku mengira kau sama seperti Athan." "Tidak apa-apa. Saya sudah terbiasa dengan itu," ujar Michaël. "Saya obati luka anda ya." Zehra mengangguk dan membiarkan Michaël mengompres luka di wajahnya dengan alkohol, kemudian mengoles obat luka pada kulitnya yang terluka. Setelah itu, Michaël meletakkan kembali obat tersebut ke tempat asalnya. Zehra tersenyum senang. Ia tidak menyangka hati Michaël bisa sebaik itu. Meskipun Michaël tidak bisa membantunya untuk menjauh dari Athan, setidaknya Zehra masih bisa merasa aman karena ada orang baik di mansion ini. "Apa anda butuh sesuatu?" tanya Michaël. "Ah, tidak," jawab Zehra sambil menggeleng. "Terima kasih sudah mau membantuku mengobati luka ini. Aku benar-benar memuji kebaikanmu." Michaël mengangguk. "Setiap manusia memang diwajibkan untuk berbuat baik pada sesama. Saya hanya mengikuti apa yang diajarkan oleh orang tua saya. Tapi tidak semua anak akan mengikuti sifat baik orang tuanya. Jadi, semuanya kembali lagi pada diri masing-masing." "Orang tuamu pasti bangga padamu," ujar Zehra. "Setiap orang tua pasti bangga saat melihat anaknya berbuat baik. Tapi sejujurnya, orang tua saya tidak suka dengan pekerjaan saya ini. Berulang kali mereka meminta saya untuk berhenti, tapi saya tidak bisa menuruti mereka. Saya sudah terlanjur menandatangani kontrak dengan Monsieur Athan. Jika saya melanggar kontrak, maka taruhannya adalah nyawa keluarga saya." Zehra terkejut sampai menutup mulutnya yang menganga. Jadi, ini alasan Michaël tidak bisa berbuat apa-apa di sini? Nyawa keluarganya masuk ke dalam kontrak gila itu? Sungguh mengerikan. Bagaimana bisa Athan sekejam itu? Kenapa dengan mudahnya Athan mempermainkan nyawa orang lain demi keuntungannya sendiri? Zehra tidak sanggup memikirkannya terlalu lama. "Jadi, ini juga yang menjadi alasanmu tidak bisa membantuku?" tanya Zehra ragu. Michaël mengangguk. "Maafkan saya. Saya hanya ingin menyelamatkan keluarga. Tapi sebisa mungkin, saya akan selalu ada untuk anda. Jika anda butuh bantuan, panggil saja saya." "Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti," ujar Zehra. "Sekarang, keluarlah. Aku tidak ingin Athan tahu dan kau dihukum karena ini." "Baik. Saya permisi." Michaël sedikit membungkuk untuk memberi hormat, kemudian berjalan keluar meninggalkan Zehra sendiri di kamar. Sementara Zehra mulai termenung, memikirkan betapa berat beban yang ditanggung Michaël saat ini. Michaël harus berpura-pura menyukai pekerjaan ini untuk melindungi seluruh keluarganya dari amukan Athan Doxiadis Carras. Zehra jadi penasaran bagaimana seluk-beluk keluarga Athan. Zehra yakin, Athan bukanlah keturunan asli Perancis, karena dari postur wajahnya saja sudah berbeda. Wanita itu meraih ponselnya, kemudian mulai mencari profil dari Athan di laman web pencarian. Ia mengetikkan nama lengkap Athan dan ternyata ada di beberapa situs web. Athan Doxiadis Carras lahir di Pyrgos dari pasangan Chrysanthos Carras dan Teresa Longobardi (Teresa Carras). Memiliki darah campuran Yunani dan Italia. Ayahnya dikenal sebagai mafia berhati baik dan memimpin kelompok mafianya yang bernama Mávro Chéri, berpusat di Prygos, Santorini. Sedangkan Ibunya merupakan penulis terkenal di Italia. Chris berteman baik dengan mafia asal Italia bernama Enzo Giovinco, dan Teresa berteman baik dengan istri dari Enzo yaitu Nieve Valente. Athan memiliki seorang adik perempuan bernama Nàtasa Kontogouri Carras. Usianya hanya berbeda setahun dengan Athan. Kini, Nàtasa yang meneruskan organisasi Mávro Chéri karena Athan tidak suka dengan organisasi lama tersebut. Zehra mengangguk-anggukan kepalanya saat membaca background singkat dari keluarga Athan. Ia baru mengetahui jika ayahnya Athan juga merupakan ketua mafia. Tapi, tidak sekejam Athan. Zehra bahkan mencari background tentang Chris di laman web dan hasilnya sangat mengejutkan bagi Zehra. Ternyata, sifat Chris tidak sama dengan Athan. Chris cenderung memakai hati nuraninya dan sangat menghargai wanita dan anak-anak. Sedangkan Athan, sifatnya sangat bertolak belakang dengan sang ayah. "Ya Tuhan, aku tidak menyangka jika sifatnya sangat berbeda dengan ayahnya. Ayahnya bukan mafia yang kejam dan masih menggunakan hati nuraninya dalam bertindak. Ibunya juga terkenal ramah dan sopan. Tapi sayang, sifat baik kedua orang tuanya justru tidak ditiru oleh Athan." Zehra meletakkan kembali ponselnya di atas tempat tidur. Ia memutuskan untuk membersihkan diri, namun saat berdiri, di bagian intimnya masih terasa sakit karena permainan Athan tadi. Zehra mencoba menahan rasa sakit itu dan berjalan perlahan menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi yang luas dan mewah itu, Zehra mulai menghidupkan shower. Ia membasuh seluruh tubuhnya mulai dari atas kepala, hingga ujung kaki. Rasanya sangat segar, meski ia harus menahan perih dari luka yang terkena air. Baginya, rasa sakit di luka itu tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Kenapa takdirnya bisa semengerikan ini? Zehra tidak tahu lagi harus dengan cara apa menghadapi Athan untuk seterusnya. Kepalanya sudah sangat sakit memikirkan hal ini. Beberapa menit berlalu, Zehra pun selesai dengan ritual mandinya. Ia mengambil jubah handuk untuk menutupi tubuhnya. Setelah itu, Zehra keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk lain. Saat ingin duduk di meja rias, seketika Zehra terlonjak kaget. Ia menatap pantulan Athan sedang tertidur di atas kasur dengan posisi tengkurap. Wajahnya menghadap ke arah Zehra, namun kedua matanya sudah tertutup dengan rapat. Dengkuran halus pun terdengar di telinga Zehra. Wanita itu duduk perlahan di kursi rias sambil tetap menatap Athan dari cermin. Melihat Athan tenang seperti itu, Zehra sedikit merasa kagum, apalagi wajah Athan memang sangat tampan, persis seperti Chris. Tapi saat mengingat kembali kejahatan Athan, mendadak perut Zehra mual, ingin muntah dan merasa jijik dalam sekejap. "Seandainya kau pria yang baik, mungkin aku akan berusaha mencintaimu. Tapi setelah tahu perlakuanmu seperti itu, hatiku pun menolak untuk menerimamu," gumam Zehra pelan. *** Malam ini, Zehra tampak duduk bersantai di kursi tepi kolam renang. Zehra memang dibebaskan oleh Athan, namun Athan menambah jumlah penjaga untuk mengawasi Zehra agar tidak kabur dari mansionnya. Lagipula, Zehra juga tidak ada niat untuk kabur dari sana. Wanita itu seakan sudah pasrah dengan takdir yang ada di hadapannya. Untuk apa ia berlari dari takdir yang sudah digariskan Tuhan? Zehra menikmati teh hangat yang dibawakan oleh kepala pelayan mansion bernama Gilbert Le Sueur yang berusia 40 tahun. Gilbert sangat ramah pada Zehra sejak kedatangan Zehra untuk pertama kalinya hari ini ke mansion itu. Pria itu merasa senang karena berharap Zehra bisa mengubah pola pikir Athan nantinya. "Madame (Nyonya), jika perlu sesuatu, panggil saya ya," ujar Gilbert. Zehra mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih. Kau sangat baik padaku." "Itu sudah kewajiban saya, Madame." "Zehra!" Teriakan itu mengejutkan Zehra dan Gilbert. Mereka berdua menoleh ke arah pintu depan mansion. Terlihatlah sosok Athan di sana. Gilbert bergegas meninggalkan Zehra untuk melakukan tugas yang lain, sementara Zehra masih berada di tempat yang sama. Athan yang melihat Zehra pun langsung menghampiri wanita itu. "Kenapa kau tidak memakai jaket? Di luar sangat dingin," ujar Athan saat berada di samping Zehra. "Kau ingin mati kedinginan di sini, hah?" Zehra menatap Athan. "Aku tidak apa-apa. Gilbert sudah membuatkan teh hangat untukku. Jadi, jangan risaukan aku." "Aku tidak risau. Hanya mengingatkan," ujar Athan ketus. "Hhh!" Zehra menghela napas lelah. Ia sedang tidak bersemangat untuk meladeni ucapan Athan hari ini. Tubuh dan hatinya sudah sangat lelah. "Kau ingin duduk bergabung bersamaku, atau tidak? Aku sedang tidak ingin berdebat tentang apapun." "Aku mau lagi." Seketika Zehra mengernyit, tidak mengerti dengan maksud ucapan Athan. Ia menatap pria itu dengan tatapan kebingungan. Ucapan Athan barusan terkesan ambigu baginya. "Aku tidak mengerti maksud ucapanmu." "Ya, aku mau lagi," Athan mengulang kalimatnya. Zehra menggaruk kepala kanannya karena masih belum memahami kalimat Athan. "Coba tolong jelaskan dengan detail maksud dari kalimatmu, Athan. Aku tidak mengerti." "Hhh! Aku ingin b******a!" tegas Athan. "Jangan berpura-pura tidak tahu tentang hal itu. Kau pasti sangat menikmatinya tadi." Wanita itupun memejamkan matanya sambil menghela napas berat. Sejujurnya, ia benci dengan hal itu, mengingat perlakuan kasar Athan padanya. Timbul rasa trauma dalam dirinya. Tapi, jika ia menolak, Athan pasti akan semakin kasar dengannya. "Athan suamiku, aku akan menurutimu. Tapi, bisakah kau tidak kasar padaku? Kau tidak lihat luka yang ada di wajah dan pergelangan tanganku akibat ulahmu tadi? Ini sangat sakit dan aku trauma." "Ya, baiklah. Aku tidak akan kasar, asalkan kau bersikap baik padaku." Athan langsung menggendong Zehra dan membawanya menuju kamar utama. Zehra sudah pasrah saja dan tidak mau menentang pria itu, karena dampaknya akan sangat fatal. Beberapa pelayan di sana menatap iba ke arah Zehra. Mereka kasihan pada Zehra, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Saat berada di kamar, Athan langsung merebahkan Zehra di atas tempat tidur. Pria itu mulai membuka piyama hitamnya dan melemparnya ke sembarang arah. Ia menindih Zehra, kemudian mencium bibir indah Zehra yang begitu memabukkan bagi Athan. Perlahan tapi pasti, tangan Athan sudah berhasil melepas piyama merah muda yang dikenakan oleh Zehra. Dan adegan mesra itupun berjalan sesuai dengan keinginan Zehra, tidak kasar seperti sebelumnya. Namun belum selesai dengan itu, tiba-tiba saja mansion Athan di serang oleh sekelompok orang berseragam hitam. Semula Athan tidak mendengarnya karena kamar itu kedap suara. Sampai akhirnya, alarm peringatan di kamar langsung menyadarkan Athan. Athan berhenti dari aktifitasnya dengan Zehra, lalu bergegas turun dari tempat tidur. Zehra langsung menahan lengan Athan karena terkejut dengan bunyi alarm itu. "Athan, ada apa ini? Apa ini alarm kebakaran?" tanya Zehra panik. "Ck! Jangan banyak tanya. Segera pakai bajumu dan bersembunyi di kamar mandi. Aku akan keluar untuk memeriksanya," ujar Athan dan bergegas pergi. Sementara Zehra menuruti perintah Athan dan langsung masuk ke kamar mandi untuk bersembunyi. Zehra sama sekali tidak bisa mendengar apa yang sedang terjadi di luar. Seluruh ruangan di kamar itu kedap akan suara-suara berisik dari luar. Zehra hanya bisa meringkuk ketakutan di dekat bath-up sambil memanjatkan doa agar Tuhan melindunginya dari apapun. To be continue~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN