Bab 8

1705 Kata
Saat Athan keluar dari kamar, ia terkejut melihat lantai bawah sudah sangat berantakan. Dilihatnya beberapa anggota tampak bersembunyi dicelah masing-masing pilar mansion untuk berlindung. Sementara dari arah pintu depan, sudah ada rombongan musuh yang terus menembaki anggotanya. Salah satu Don utama dari Raid King, Alexandre Naviaux yang berusia 40 tahun, tampak maju digaris depan, sedangkan Don kedua, Damien Bachelet yang berusia 39 tahun, berada digaris belakang. Michaël sendiri terlihat berlari menuju ke arah Athan yang masih berada di lantai atas untuk melindunginya. Athan masih mengenakan piyama tidur dan belum memiliki persiapan apapun, karena serangannya terkesan mendadak. Michaël langsung membawa Athan untuk pergi ke tempat lain, saat salah satu dari rombongan musuh menembak ke arah Athan. Sesampainya di ruangan rahasia, Michaël meminta Athan untuk bersiap, sedangkan dirinya berjaga di pintu. Athan dengan cekatan mengenakan rompi anti pelurunya dan mengambil salah satu senjata andalannya ketika menyerang musuh. "Michaël, tolong kau berjaga di depan kamarku. Zehra masih ada di dalam. Jangan sampai mereka masuk ke dalam dan menyakiti Zehra." "Baik, Monsieur." Michaël bergegas keluar menuju kamar utama dan berlindung di salah satu pilar, sedangkan Athan dengan cepat menembaki beberapa rombongan musuh menggunakan pistol jenis Glock yang sangat dikenal akurat dalam menembak. Sudah ada sekitar 10 orang dari rombongan itu terkapar di lantai dengan darah yang mengucur deras. Salah satu sniper Athan yaitu Eric Achille, berusia 35 tahun, juga berhasil membunuh setidaknya sekitar 12 orang dari jarak jauh sekitar mansion. Ada sekitar 28 orang lagi yang masih bertahan. 5 orang diantaranya berusaha menghabisi Athan, namun dihalangi dengan cepat oleh Alexandre. Sementara Damien menghabisi 13 orang dengan senjata laras panjangnya. Sekitar 40 orang sudah tewas di tangan Raid King dan tinggal tersisa 10 orang lagi yang memilih untuk kabur. Tapi sayang, 5 orang diantaranya berhasil dihabisi oleh sniper handal Raid King, Eric. Sementara 1 orang berhasil ditangkap hidup-hidup oleh anggota Raid King yang lain dan 4 orang berhasil kabur. Peperangan pun dimenangkan oleh Raid King kali ini. Total yang tewas dari pihak musuh adalah 45 orang dari 50 orang yang datang, dan 1 orang berhasil menjadi tawanan mereka. Sementara dari pihak Raid King sendiri hanya ada 10 orang yang mengalami luka akibat tembakan secara tiba-tiba di bagian depan gerbang. 10 orang yang terluka langsung dibawa ke rumah sakit oleh Konselor dari Raid King yaitu Serge Lavigne, berusia 40 tahun. Salah satu tawanan diikat dan sudah berada di hadapan Athan. Alexandre memaksa tawanan itu untuk berlutut di depan Athan. "Siapa yang menyuruhmu?" tanya Athan. Tapi tawanan itu justru hanya diam sambil mendongak menatap tajam ke arah Athan. Athan yang melihat tatapan itu pun langsung memukulnya dengan ujung pistol yang masih ia pegang. "Berani sekali kau menatapku seperti itu! Cepat jawab pertanyaanku!" bentak Athan. "Aku lebih baik mati daripada harus mengatakannya." Athan kembali memukul pria itu dengan ujung pistolnya, sampai wajah pria itu berlumuran darah. Tapi pria itu tetap pada pendiriannya untuk tidak memberitahu siapa yang menyuruhnya menyerang mansion Athan. "Cepat katakan!" Kali ini Alexandre yang berteriak memaksa. Bahkan Alexandre sampai menjambak rambut pria itu. "Kau jangan main-main dengan ketua kami ya! Harusnya kau bersyukur masih bisa bernapas hingga detik ini!" Pria itu tertawa setelah mendengar ucapan Alexandre. "Bukankah sudah kukatakan tadi? Aku lebih baik mati. Apa kau tuli, hah? Bagaimana bisa orang tuli sepertimu bergabung dalam kelompok ini?" Alexandre yang sudah terlanjur emosi pun hendak menembak pria tersebut, namun langsung dicegah oleh Athan. Alexandre pun menurunkan senjatanya. "Kau masih beruntung kali ini," gerutunya kesal. "Alex, bawa dia ke ruang bawah tanah," titah Athan. "Baik, Monsieur." Tawanan itupun dijambak dan diseret paksa oleh Alexandre menuju mansion kedua. Di ruang bawah tanah, pria itu pasti akan kembali disiksa, sampai akhirnya ia mengakui siapa yang menyuruhnya melakukan p*********n secara mendadak itu. Athan meminta beberapa pelayan untuk membersihkan mansionnya yang sudah sangat berantakan, apalagi masih ada noda darah di sana. Untuk musuh yang sudah mati, langsung dibawa oleh anggota lain menuju mansion dua untuk diambil organ-organnya. Athan memang senang menjual organ dalam manusia, apalagi dalam jumlah yang besar. Ia bisa mendapatkan keuntungan berkali-kali dari hasil penjualan tersebut. "Michaël, tolong kau urus semuanya di mansion kedua. Jangan sampai ada yang tertinggal," titah Athan setelah ia naik ke lantai atas untuk menemui Michaël. "Baik, Monsieur. Saya permisi." "Tunggu!" cegah Athan. Michaël pun berhenti dan menoleh ke belakang. "Ada hal lain lagi, Monsieur?" "Obati dulu lukamu," ujar Athan. Michaël menoleh ke arah lengannya yang sudah berdarah karena luka sayatan pisau dari musuh. Ia lantas mengangguk, kemudian menuju kamarnya untuk mengobati luka tersebut. Sementara Athan bergegas masuk ke kamar untuk menemui Zehra yang ada di kamar mandi. Dibukanya pintu kamar mandi dan terlihat Zehra tengah tertidur sambil bersandar di bath-up. Athan menggelengkan kepalanya, lalu menggendong wanita itu untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ditatapnya sejenak wajah tenang Zehra, kemudian ia berjalan keluar kamar. Saat ini, Athan sudah tidak lagi berselera untuk melanjutkan aktifitasnya tadi bersama Zehra. Athan memilih untuk bersantai di ruang bacanya dan meminta dibuatkan makanan oleh Adèle Marais, koki handal di mansion itu. *** Pyrgos, Santorini. Natàsa terlihat sedang bersantai dengan kedua orang tuanya di ruang tengah, Chris dan Teresa. Keduanya saling berbagi cerita dan ada hal yang harus ditanyakan Natàsa kepada Chris, perihal dunia permafiaan. Natàsa sendiri kini sudah resmi menjadi pemimpin Mávro Chéri, karena Athan menolak menjadi ketua dari kelompok tersebut. Natàsa harus lebih banyak belajar lagi pada Chris agar menjadi ketua yang baik dan bijak dalam mengambil keputusan. Jujur saja, Natàsa sangat kagum pada kepemimpinan Chris. Wanita yang saat ini berusia 29 tahun itu tidak menyangka jika ayahnya merupakan mafia yang baik hati, terutama pada wanita dan anak-anak. Dalam pikiran Natàsa, mafia itu kejam dan tidak punya belas-kasih. Tapi setelah mendengar cerita dari ibunya, barulah Natàsa sadar bahwa tidak semua mafia itu kejam. "Natàsa, apa kau sudah mendapat kabar dari Athan?" tanya Chris setelah selesai memberikan arahan seputar mafia pada Natàsa. "Apa dia baik-baik saja?" "Hhh!" Natàsa menghela napas berat. Pertanyaan seperti inilah yang sangat sulit dijawab oleh Natàsa. Ia tahu orang tuanya sangat merindukan Athan. Natàsa sendiri sudah berusaha meminta Athan untuk kembali ke Santorini, namun usahanya tidak membuahkan hasil. Ia sampai lelah memohon pada pria keras kepala itu. "Natàsa," panggil Chris. Natàsa menatap sendu ayahnya. "Bampás (Ayah), lupakan saja dia. Untuk apa mengingat orang yang sama sekali tidak peduli pada keluarganya sendiri? Dia tidak akan pernah kembali." "Kau tidak boleh berbicara seperti itu, Nak," ujar Teresa mengingatkan. "Bagaimanapun juga, dia itu kakak kandungmu. Darah daging Mamá (Ibu) dan Bampás." "Aku tahu, Mamá. Tapi kalian tahu sendiri kan, bagaimana sifat Athan? Dia sama sekali tidak memikirkan kondisi kalian. Aku tidak berharap dia memikirkanku. Yang terpenting bagiku adalah kalian. Jika dia memang menganggap kalian sebagai orang tuanya, harusnya dia datang dan menjenguk kalian. Tapi kenyataannya tidak, kan? Aku saja sudah lelah memohon padanya," ujar Natàsa. Chris menundukkan kepalanya. Sebuah penyesalan muncul di hatinya. Athan pergi karena Chris terus memaksanya meneruskan kelompok Mávro Chéri. Padahal Chris sudah tahu kalau Athan tetap akan menolak permintaan itu. "Ini semua salah Bampás. Harusnya saat itu, Bampás tidak memaksanya untuk menjadi ketua di Mávro Chéri. Kalau saja itu tidak terjadi, mungkin Athan masih tetap berada di sini bersama kita." "Suamiku, jangan menyalahkan dirimu sendiri," ujar Teresa. "Kita sama-sama tahu sifat keras kepala Athan. Dia ingin memilih jalannya sendiri, tapi dijalur yang salah. Itu bukan kesalahanmu." Natàsa mengangguk setuju. "Athan memang keras kepala. Bampás tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Semua ini terjadi karena sifat keras kepala Athan. Aku tahu, Bampás memaksa seperti itu hanya untuk menjauhkan Athan dari pergaulan yang buruk. Didikan kalian sudah sangat bagus menurutku. Hanya Athan saja yang tidak bagus dalam menyerap semua didikan kalian." "Coba kau hubungi lagi dia. Barangkali dia sudah berubah pikiran," pinta Teresa. "Baik, Mamá." Saat Natàsa baru saja membuka layar ponselnya, tiba-tiba saja salah satu mata-mata terbaiknya, Gianluca De Michelis, menghubungi. Natàsa langsung menerima panggilan tersebut. "Ada apa?" "Kyría (Nyonya) Natàsa, ada berita dari Perancis." Natàsa mengernyit. "Berita tentang apa?" "Tentang Kýrie (Tuan) Athan. Saya dengar, mansionnya diserang oleh lima puluh orang dari kelompok musuh." "Apa?!" Natàsa terkejut sambil berdiri, membuat kedua orang tuanya mengernyit heran. "Apakah informasi itu akurat?" tanyanya kemudian. "Informasi ini benar, Kyría. Saya sudah mencari tahu siapa dalang dibalik p*********n itu." "Siapa dia?" "Dia berkebangsaan Portugis. Namanya Alphons Silva, Kyría. Dia salah satu mafia terbengis di Portugis. Kýrie Athan sudah lama berseteru dengan Alphons tentang p***************n dan p*******n. Mereka saling berebut kekuasaan, Kyría." "Ya Tuhan!" Natàsa memijat pelipisnya yang terasa sakit. Tak heran baginya jika Athan memang sangat menyukai perseteruan. Itulah tujuannya membangun kelompok mafia sendiri. Ia tidak ingin diatur oleh siapapun, termasuk ayahnya sendiri. "Baiklah. Terima kasih atas informasinya." "Baik, Kyría." Natàsa mengakhiri panggilan teleponnya, kemudian kembali duduk di sofa sebelumnya. Ia menatap sendu ke arah Chris dan Teresa secara bergantian. Niat hati ingin membahagiakan kedua orang tuanya agar bisa bertemu kembali dengan Athan. Tapi, ternyata keinginan itu sangat sulit bagi Natàsa. Apalagi Athan tidak mudah dibujuk oleh siapapun. "Ada apa, Nak?" tanya Teresa penasaran. "Hhh! Aku baru dapat kabar, ternyata mansion Athan baru saja diserang oleh mafia asal Portugis," jawab Natàsa. "Namanya Alphons Silva. Mereka saling berebut kekuasaan dalam hal p***************n manusia dan pelacuran." "Astaga," gumam Chris pelan. Ia tidak menyangka putranya menjadi seperti itu. Natàsa mengelus pundak ayahnya. "Kita harus bersabar, Bampás. Mungkin Athan belum mendapat teguran dari Tuhan. Aku juga tidak menyangka, saudara laki-lakiku bisa sejahat itu. Apa untungnya melakukan semua ini? Dia hanya akan mencelakai dirinya sendiri." "Bampás tahu siapa Alphons itu, Nak. Dia mafia terbengis dan tidak mudah untuk dikalahkan oleh siapapun. Alphons tidak akan pernah menyerah begitu saja setelah p*********n pertamanya gagal. p*********n lanjutan akan terjadi, bahkan nyawa Athan bisa menjadi taruhannya," ujar Chris khawatir. "Suamiku, bagaimana jika Athan terbunuh nanti?" sahut Teresa yang juga ikut khawatir. Chris menggelengkan kepalanya pelan. "Aku juga tidak tahu, Istriku. Andai saja fisikku masih kuat seperti dulu, mungkin aku sudah membantunya." "Kita tidak bisa berbuat banyak untuknya, Bampás, Mamá," ujar Natàsa. "Ini sudah menjadi resiko dari Athan sendiri. Dia yang memulai permusuhan, dia juga yang harus menyelesaikannya. Kita tidak perlu ikut campur, karena itu percuma saja. Justru dia akan marah jika kita ikut membantunya." Teresa mengangguk setuju. "Kau benar, Nak. Kakakmu itu sangat tidak suka jika masalahnya dicampuri. Mamá saja tidak bisa menasehatinya." "Kita berdoa saja pada Tuhan, semoga Athan selalu dalam lindungan-Nya," ucap Natàsa menutup percakapan malam ini. To be continue~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN