Suhu udara tiba-tiba terasa naik beberapa derjat. AC yang menyala seolah tidak berfungsi sama sekali, karena sejatinya yang panas dan gentar adalah di dalam jiwa. Tangan dan bibir Ami sedikit bergetar. Namun matanya tidak gentar membalas tatapan Ishaq. Ami tersengih seraya menundukkan kepalanya. Dia tertawa mengejek disertai dengan gelengan kecil. “Bagaimana bisa anda mengatakan demikian nak Ishaq. Okey, saya tidak perlu membuat sandiwara dan berdrama non berbayar. Anda juga pasti sudah menyelidiki tentang saya sebelumnya. Saya akui saya salah. Saya memang ada niat buruk pada Esha waktu itu, tapi hanya sebatas meninggalkan bukan untuk menghilangkan nyawa dia. Tapi apa dikata dengan anda? saya sangat yakin anda menabraknya.” Tutur Ami sangat sinis. Ami kembali lanjut berbicara ketika meli

