“Sayang, abang pergi ke kantor dulu ya.” Fathan sedang merapikan dasi di depan cermin lalu dia bergerak memakai sepatu pantofel Louis Vitton dengan tampak tergesa-gesa. Inilah hasil kerjanya yang terusan berkurung diri di dalam kamar. Tidak sadar waktu. Mana dia harus menghadiri meeting penting pula siang ini. “Eh, abang tunggu sebentar. Esha baru siap.” Muncul Meysha yang baru selesai mandi. Dia sedikit terkejut melihat Fathan yang tengah memakai sepatu, “Cepatnya abang siap-siap.” “Ya bagiamana lagi sayang, abang sudah hampir telat. Sayang tidak perlu antar abang sampai depan. Abang tidak sempat menunggu sayang mengenakan baju dulu.” Ujar Fathan sambil menyorongkan sepatu terakhir. Dia berdiri lalu mengambil kunci mobil dan ponsel di atas nakas, lalu menghampiri Meysha. “Abang pergi

