Pactum | 61

1935 Kata

Usai merias wajahnya, Natasya cemberut menatap ke arah Kenan. Suaminya itu sangat sibuk dengan laptopnya. Lagi-lagi mereka bertengkar soal benda mati yang sangat tidak berfaedah itu. Jika bukan laptop, maka keduanya akan berdebat soal tablet. Kenapa Kenan begitu menggilai benda itu? Natasya merasa jika dirinya terabaikan. "Ken, apa aku sudah cantik?" Berkali-kali Natasya bertanya pada Kenan, sepanjang dia merias wajah pun pertanyaan itu berulang-ulang keluar dari mulutnya. Kenan menghembuskan napas. "Cantik, Sayang." Tanpa menoleh. Bahkan Kenan juga sudah berulang kali menjawab dengan kalimat yang sama. Anehnya Natasya tak bosan mengulanginya. Natasya berdecak kesal. "Apa kamu bisa menaruh laptop itu dulu? Kamu mengabaikanku sejak tadi!" dengkus Natasya tak terima sama sekali dengan pe

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN