“Mas!” panggil Saras. Erwin seketika berbalik badan. Raut terkejut di wajahnya tak dapat disangkal. “Nanti aku telepon lagi,” Erwin berkata di ponsel. Bagai ada api yang mendidihkan kepala Saras saat ini. Ia yakin tidak salah dengar. Erwin menyebut nama Devi. Saras amat kecewa. Di hari lamaran ini, Erwin justru menelepon Devi. “Kamu telepon Devi? Kenapa, Mas?” tanya Saras. Suaranya serak menahan tangis. Panas terasa di pelupuk mata Saras. Air bening dengan cepat merebak membasahi bulu matanya. Ia tak mengerti mengapa Erwin tega melakukan hal itu, di hari spesial ini. “Dik, aku punya penjelasan untuk semua ini,” kata Erwin panik. Ia melihat bulir-bulir bening berjatuhan dari kedua mata Saras. Seketika hatinya diliputi rasa bersalah. “Mengapa di hari ini kamu lakukan itu, Mas?” tan

