“Coba nanti Saras lihat kondisinya dulu, Bu. Saat ini Saras masih bingung,” balas Saras.
“Rencanakan dari sekarang, agar ke depannya tidak banyak salah paham,” tambah Ibu lagi.
“Ya, Bu.”
Malam itu, Saras kesulitan untuk tidur. Percakapan tadi sore dengan Ibu membuatnya resah. Rasa bahagia yang sempat memenuhi relung hati, kini pudar secara perlahan.
Awalnya Saras senang dan bersemangat karena dapat membawa kabar gembira yang telah lama dinanti oleh kedua orangtuanya, rencana pernikahan. Ternyata semua itu hanya awal dari sesuatu yang lebih besar dan rumit.
Pantas jika dikatakan pernikahan bagaikan bahtera. Selepas berlayar, mungkin ada banyak badai dan gelombang yang akan dihadapi di perjalanan.
Setelah berulang kali membolak-balik badan dengan gelisah, akhirnya Saras tertidur juga.
Ia bermimpi, berada di halaman sebuah rumah besar mirip puri. Ia melangkah melalui jalan berbunga. Setibanya di depan pintu utama, ia mengetuk daun pintu berkali-kali tapi tak ada yang membuka.
***
Pada hari ahad malam, Saras sudah kembali ke rumah kosnya. Esok, ia harus kembali bekerja seperti biasa.
“Sudah pulang, Dik?” tanya Erwin di telepon, pada keesokan paginya.
Saras sudah siap duduk di atas motor matic. Hampir saja ia melaju pergi, ketika tas kerjanya bergetar dan mengalunkan lagu dari ponsel yang berada di dalamnya.
“Sudah, Mas. Tadi malam aku sampai di kos. Ada apa, Mas?” Saras bertanya balik.
“Nanti sore aku jemput, ya. Aku ingin makan bareng kamu. Sekalian ada yang ingin aku sampaikan,” tutur Erwin.
“Boleh, Mas. Tentang lamaran?” tebak Saras.
“Iya, Dik. Sudah dulu, ya. Mas juga mau ngantor,” pungkas Erwin sebelum menutup telepon.
Saras berangkat dengan perasaan senang dan berbunga.
***
“Dik, aku sudah mengatur rencana tentang acara lamaran nanti. Aku akan datang bersama ibu dan Omku, juga sepupuku,” lapor Erwin.
Saat ini, mereka sudah berada di rumah makan rawon langganan. Tempat makan ini tidak seterkenal Rawon Setan Mbak Endang, tapi rasanya tidak kalah menggoyang lidah. Sambil menunggu pesanan datang, Erwin memulai percakapan.
“Kapan jadinya, Mas? Biar aku kabari Bapak dan Ibu di rumah,” sambut Saras.
Senang dan berdebar hati Saras mendengar ucapan Erwin. Tak sabar rasanya ia untuk segera bersanding di pelaminan.
“Kami perlu waktu mempersiapkan semuanya. Jadi aku baru bisa melamarmu dua minggu lagi. Nggak apa-apa, kan?” tanya Erwin.
Dalam sorot matanya, terpancar pengharapan akan pengertian Saras.
“Iya, Mas. Aku tunggu,” angguk Saras.
Senyum lebar terbentuk di bibir kecilnya, sedangkan matanya berbinar. Kemudian Saras teringat pada pertanyaan ibunya tentang pekerjaan dan rumah tinggal mereka kelak.
“Oh iya, Mas. Setelah menikah aku masih boleh kerja, kan?” tanya Saras.
Sekarang sorot mata Saras yang memancarkan pengharapan. Erwin membalas tatapan Saras. Teduh pandangan Erwin saat bibirnya mengucapkan kalimat yang menyejukkan perasaan Saras.
“Tentu, Dik. Mengapa aku harus melarangmu? Apa yang membuatmu gembira, juga akan membuatku senang.”
Hati Saras bungah.
“Setelah menikah kita akan tinggal di mana, Mas?” lanjut Saras.
“Kita tinggal di rumah ibuku dulu ya, Dik? Kamu kan tahu aku anak tunggal. Kalau kita tinggal di rumah terpisah, kasihan Ibu sendirian," jawab Erwin lembut.
Saras diam. Ia mempertimbangkan alasan yang dikemukakan Erwin. Kedengarannya cukup masuk akal. Ia memutuskan untuk mengalah dulu.
***
“Saras, tolong bawa dan tata buah potong ini ke meja di depan ya, Nak,” pinta Ibu.
Ibu menyerahkan sebaki besar berisi aneka buah-buahan meja yang sudah dipotong kepada Saras. Saras menyambut baki itu. Sekilas ia melirik isinya, ada buah pepaya, buah melon, dan buah semangka. Potongan-potongan buah itu telah ditata berkelompok, sehingga enak dipandang.
Saras membawa baki buah itu ke meja makan yang telah dipindahkan ke dekat ruang tamu. Semalam, meja makan itu telah diberi taplak bersih dari lemari dan dihias dengan vas bunga agar indah. Di sana, ia lihat hidangan utama telah ditata apik oleh Ibu. Saras meletakkan baki buah di tepi hidangan utama.
Saras sendiri telah siap dengan gaun yang baik dan pantas untuk menyambut tamu istimewa, keluarga Erwin. Hari ini keluarga Saras menunggu kedatangan keluarga Erwin yang akan melamar Saras secara resmi.
“Ibu, air minumnya mau dibiarkan di kardus saja atau ditata di meja?” Adila berseru kencang.
“Oh, iya! Ibu lupa saking repotnya. Tolong tata air minum itu di meja ya, Dil,” titah Ibu.
Sigap, Adila membawa kardus berisi air mineral dalam gelas plastik ke dekat meja makan. Gadis kecil yang trengginas itu menata gelas-gelas ke meja dengan formasi yang menarik.
“Wah. Kok pintar kamu, Dil. Belajar di mana menata meja seperti ini?” tanya Saras kagum.
Tak disangkanya, adik yang biasa usil dan jail itu ternyata pintar juga mengatur meja.
“Weh ... Jangan remehkan aku, Mbak. Jelek-jelek begini aku sering lho bantu-bantu Ibu bila ada arisan,” sahut Adila.
Mulutnya dimonyongkan, sedangkan matanya mendelik. Saras tertawa melihat tingkah Adila yang berpura-pura merajuk.
“Mbak nggak nyangka kalau kamu sudah bertambah besar, Dil,” ujar Saras.
“Nah, itu sadar! Artinya Mbak Saras sudah tua,” cetus Adila.
“Apa?!” Saras melotot.
Adila yang sudah selesai menata gelas sedari tadi, buru-buru kabur saat melihat pancaran bara di mata kakaknya.
“Tolong!” serunya usil, sengaja berpura-pura takut untuk meledek sang kakak.
Tiba-tiba ada deru mesin mobil memasuki halaman rumah. Perhatian Saras teralih dari adik bungsunya yang usil. Ia terkejut. Jangan-jangan itu Erwin dan keluarganya. Saras bergegas menuju pintu depan. Bagian bawah gaunnya diangkat sedikit agar langkahnya leluasa.
“Permisiii ... Assalamu’alaikum,”
Sebuah suara lelaki dewasa yang tak dikenal Saras melempar salam, sebelum Saras mencapai pintu depan yang memang terbuka.
“Silakan. Wa’alaikumussalam,” sahut Saras spontan.
Saras keluar dari pintu. Ternyata betul dugaannya. Keluarga Erwin telah datang. Saras semringah saat pandangannya tertumbuk pada Erwin yang tengah membantu ibunya turun dari mobil.
Kemudian, pandangannya beralih. Ia mengangguk sopan pada lelaki paruh baya berjanggut putih yang tadi mengucapkan salam. Di belakang lelaki itu, ada seorang pemuda yang dari wajahnya Saras perkirakan umurnya sepantaran Erwin. Jujur saja, Saras tak mengenalnya. Dugaannya, bapak tua itu merupakan salah satu keluarga Erwin.
“Silakan masuk, Pak,” kata Saras ramah.
Bibirnya mengulas senyuman, sementara tangannya terbentang menyilakan bapak tua tersebut untuk masuk. Saras bergerak mendekati Erwin dan ibunya yang berjalan tertatih menuju pintu depan.
“Apa kabar, Ibu?” sapa Saras.
Saras mencium tangan ibu Erwin, lalu mencium pipi kiri dan kanannya. Lalu, ia menggamit tangan calon ibu mertuanya itu untuk masuk ke dalam rumah.
“Wah, Nak Erwin dan Ibu sudah datang,” sapa ibu Saras.
Ibu muncul dari dalam rumah diikuti oleh Ayah. Agak jauh di belakang mereka, ada Adila yang berjalan pelan-pelan dalam diam. Bajunya sudah diganti dengan baju yang pantas untuk menyambut tamu kebesaran.
“Mari, mari ... Silakan duduk,” ujar Bapak, ramah.
Acara ramah tamah mengawali pertemuan keluarga Saras dan Erwin. Sepanjang percakapan, Om Erwin lah yang lebih mendominasi pembicaraan dibandingkan dengan ibu dan sepupunya. Tampaknya Om Erwin sudah didapuk menjadi juru bicara oleh keluarganya. Selanjutnya, keluarga Erwin memperkenalkan diri secara resmi.
“Saya Tirta, adik dari ibunya Erwin. Sementara ini anak saya, Saujana, sepupu Erwin,” ujar Om Erwin.
Bapak dan Ibu mengangguk-anggukkan kepala disertai senyum yang tak lepas dari bibir mereka.
“Saya Suryono dan ini ibu Saras, Sunarti. Keluarga kami memiliki tiga orang anak. Saras yang sulung, adiknya Shasa, sudah menikah dan tinggal di kota lain, dan yang bungsu ini bernama Adila,” Bapak membalas perkenalan Tirta.
Keluarga Erwin sekarang yang mengangguk-angguk disertai senyuman.
“Jadi begini, Bapak dan Ibu. Kedatangan kami kemari dengan maksud baik. Tentu Bapak dan Ibu sudah dapat menduga niat kami. Dengan rendah hati, keluarga Danuredja ingin mempersunting putri Bapak untuk menjadi pendamping anak kami, Erwin,” tutur Om Tirta.
“Dengan senang hati kami menerima lamaran dari keluarga Danuredja untuk mempersunting putri kami, Saras. Semoga Saras dan Erwin nantinya dapat berbahagia selamanya,” balas Bapak mantap.
“Alhamdulillah,” cetus Om Tirta dan ibu Erwin hampir bersamaan.
Kedua orangtua itu tampak amat lega. Pun dengan ayah dan ibu Saras, binar bahagia terlihat dari sepasang mata keduanya.
“Sekarang tinggal menentukan tanggal pernikahan,” ujar Om Tirta.
“Kalau bisa secepatnya saja, Pak,” celetuk Erwin.
Derai tawa membahana setelah ucapan Erwin terlontar.
“Ada yang sudah nggak sabaran, nih,” goda ibu Erwin.
“Jangan-jangan Erwin mau akad sekarang juga?” timpal Om Tirta.
Lagi-lagi tawa bergemuruh di ruang tamu kecil rumah orangtua Saras. Seloroh Om Tirta berhasil membuat wajah Erwin memerah malu.
“Sabar, Mas,” ujar Saujana.
Sepupu Erwin menepuk pelan pundak sepupunya, disertai senyuman geli.
“Kalau dari Bapak dan Ibu sendiri kapan baiknya? Mengingat pernikahan akan diadakan di kota ini,” tanya Om Tirta.
“Kalau ingin secepatnya, paling tidak dua bulan lagi,” jawab Ibu.
“Bagaimana, Er? Bisa tahan dua bulan?” Om Tirta menoleh ke arah Erwin.
“Bisa, Om,” jawab Erwin disertai senyum malu.
Tawa dari para orangtua kembali riuh. Saras dan Erwin sama-sama mengulum senyum tersipu.
Akhirnya diputuskan tanggal pernikahan Erwin dan Saras akan diadakan pada tanggal 5 dua bulan lagi.
“Nah, karena semua sudah beres. Ayo, ayo, mari makan dulu,” ajak ibu Saras.
Beliau bangkit lebih dulu, lalu mempersilakan para tamu untuk memasuki ruang keluarga yang telah disulap menjadi ruang makan besar. Serentak, para tamu mengikuti petunjuk dari nyonya rumah.
Keluarga Erwin berbaris rapi mengambil makanan di meja saji, sedangkan keluarga Saras mengantre di belakang mereka. Saras sibuk menyiapkan peralatan makan dan tisu meja yang terlupa disiapkan.
“Dil, tolong ambil tisu di belakang,” pinta Saras kepada adiknya.
Adila berlari ke dapur, sementara Saras menambahkan sendok dan garpu ke wadah di dekat ceting.
Setelah semua tamunya duduk dan menikmati hidangan, barulah Saras sadar bahwa Erwin tak tampak diantara keluarganya. Saras kebingungan, ke mana Erwin?
Sayup-sayup ia mendengar orang berbicara dari teras. Saras menduga di sanalah Erwin berada. Ia tarik langkah menuju ke luar rumah, untuk memanggil Erwin masuk kembali.
Di sudut teras terjauh, Saras dapati Erwin berdiri dengan ponsel di telinga. Ia tengah menelepon seseorang dengan posisi memunggungi Saras. Saras mendekat.
“ ... Iya, Dev. Aku berharap kamu datang nanti.”
Sepenggal kalimat Erwin membuat telinga Saras panas. Hati Saras terbakar cemburu. ***