Biarkan Aku Menjagamu

1408 Kata
Ekspresi terkejut tak bisa disembunyikan dari wajah Ibu, ketika mendapati Erwin dan Saras berdiri di depan pintu rumah. Baru beberapa saat yang lalu Erwin memencet bel, alih-alih membuka pintu dengan kuncinya sendiri. “Wah, ada tamu rupanya,” seru Ibu. Wajah beliau cerah dan suaranya riang. Tentu saja Ibu belum tahu identitas Saras, namun ia bisa menduga-duga berdasarkan cerita Erwin tadi pagi. Gadis berwajah ayu ini pastilah Saras. Wajah gadis ini masih kalah cantik dibandingkan dengan Devi, tapi kecantikannya meneduhkan setiap orang yang memandang. “Ayo, mari masuk,” ajak Ibu. Pintu dibuka lebar-lebar, hingga Saras dan Erwin dapat melenggang masuk dengan leluasa. Belum sempat Saras duduk, Erwin telah memperkenalkannya kepada Ibu. “Ibu, ini Saras yang aku ceritakan,” kata Erwin. “Apa kabar, Ibu?” sapa Saras. Spontan saja Saras meraih tangan Ibu untuk dicium, dilanjutkan dengan cium pipi kanan dan kiri. Ibu tertegun dengan perbuatan Saras, lalu tersenyum. “Kamu cantik,” puji Ibu dengan raut wajah senang. Mereka duduk bertiga di ruang tamu. Setelah minuman disuguhkan, obrolan berlanjut pada basa-basi dan saling mengenal. Ibu banyak bertanya tentang latar belakang keluarga dan kegiatan Saras selama ini. “Saya sulung dari tiga bersaudara, Bu. Adik di bawah saya sudah menikah, sedangkan yang bungsu belum,” jelas Saras saat ditanya tentang kedudukannya diantara saudara kandung. “Senang punya saudara, ya. Erwin ini anak tunggal. Setelah melahirkan dia, Ibu sakit dan tidak bisa lagi punya anak,” balas Ibu, turut menceritakan sejarah Erwin. “Ayah dan Ibu Nak Saras bekerja apa?” selidik Ibu. “Bapak bekerja sebagai bagian administrasi di pengadilan negeri, sedangkan ibu saya guru SMP,” jawab Saras sopan. “Dulu ayah Erwin juga bekerja menjadi bagian administrasi Pemda. Cocok kalau begitu, kalian memiliki latar belakang yang hampir sama. Pasti nanti bisa beradaptasi dengan mudah,” kata Ibu puas. Saras dan Erwin bertukar pandang, lalu saling tersenyum tipis. “Nak Saras, Ibu percaya kamu dan Erwin akan saling menjaga,” lanjut Ibu. Tiba-tiba Ibu menggenggam tangan Saras penuh kasih. Saras yang tak menduga tindakan itu, sempat kaget saat tangannya diambil oleh ibu Erwin. Aliran kehangatan dari telapak tangan itu menyelimuti tangan dan hati Saras. Ia tak menduga akan diterima sepenuh hati oleh calon ibu mertua. “Doakan kami ya, Bu. Saya mohon restu,” balas Saras pelan, setelah hilang rasa terkejutnya. “Selalu. Ibu akan selalu mendoakan kalian,” tegas Ibu. “Jadi kapan Ibu bisa datang melamarmu ke rumah?” tuntut Ibu. Saras melirik Erwin dengan wajah tersipu. *** Menjelang senja, Erwin mengantarkan Saras kembali ke rumah kosnya. Tiupan angin sore menepuk-nepuk wajah Saras di atas motor, membuat dingin kulit wajah. Akan tetapi, angin dingin itu tak mampu membuat Saras menggigil, karena hati Saras telah dipenuhi kehangatan yang menjalar ke seluruh sendi tubuhnya. “Kedinginan, Dik?” tanya Erwin dari depan. “Nggak, Mas,” jawab Saras. Hatinya semakin hangat dengan perhatian yang diberikan oleh Erwin. Untuk kesekian kali, Saras merasa dipeluk oleh kasih sayang Erwin. Sifat Erwin yang perhatian ini juga yang membuat Saras nyaman dan betah berada di dekatnya selama ini. Mereka sampai di depan rumah kos Saras. Warna langit yang sebelumnya jingga telah berubah menjadi lembayung. “Salat saja dulu di sini, Mas. Tanggung, sebentar lagi magrib,” ajak Saras. “Iya, Dik. Aku juga masih mau membicarakan tentang lamaran,” angguk Erwin. Azan magrib berkumandang, bersamaan dengan langkah kaki mereka yang memasuki rumah kos. Selepas salat, mereka berbincang. “Aku ingin secepatnya melamarmu, Dik. Kamu lihat, ibuku juga sudah tak sabar,” kata Erwin memulai. “Aku juga sama, Mas. Ingin secepatnya hubungan kita resmi,” balas Saras. Ada semangat yang terpancar dari sorot matanya. “Akhir pekan depan biar aku pulang dulu mengabarkan tentang kita kepada Bapak dan Ibu,” lanjut Saras. “Biar aku antar, sekalian aku memintamu secara tak resmi kepada keluarga. Agar bapak dan ibumu tahu, bahwa hubungan kita sudah serius,” timpal Erwin. “Baiklah kalau begitu.” Senyum Saras semakin lebar. Hidup baru yang diimpikannya sudah terbayang di pelupuk mata. *** Pada akhir pekan itu, Erwin memenuhi janjinya mengunjungi rumah Saras dan bertemu dengan kedua orangtuanya. “Saya serius dengan Saras, Pak, Bu. Semoga saya diizinkan menjadi pengganti Bapak dan Ibu, menjaga Saras selamanya,” ungkap Erwin sungguh-sungguh. Saat ini Erwin berada di hadapan ayah dan ibu Saras. Dengan jantan meminta Saras untuk dijaga dan disayangi. Saras merasa tersanjung dan melambung. Rona kemerahan tersembul dari kedua pipi, menambah ayu paras wajahnya. “Alhamdulillah,” cetus Ibu Saras. Terlihat jelas ibunya senang mendengar permintaan Erwin. Sementara ayahnya terlihat biasa saja dengan ekspresi yang datar. Akan tetapi Saras tahu, bahwa ayahnya tak kalah gembira dari sang ibu. Selama menjadi putri lelaki itu, Saras mengenal betul sifat ayahnya yang tak mudah menampakkan emosi di hadapan orang lain. “Saras ini putri sulung yang sangat kami sayangi. Saya memang berharap suaminya kelak mampu menjaga dan menyayanginya seperti kami. Semoga Nak Erwin betul-betul menepati ucapan tadi,” harap Bapak. “Tentu, Pak. Sekuat tenaga saya akan berusaha membahagiakan Saras,” janji Erwin lagi. “Jadi kapan Nak Erwin akan membawa keluarganya ke sini?” tantang Ibu. “Insya Allah secepatnya, Bu. Saya perlu mempersiapkan segalanya. Mungkin dalam satu atau dua minggu ke depan,” jawab Erwin mantap. “Baik, kami tunggu kedatangan Nak Erwin nanti,” balas Bapak. Kelegaan terpancar dari ekspresi Bapak dan Ibu. Saras pun menghela napas lega. Tiba-tiba Saras melihat tirai pembatas ruang tamu dan ruang dalam bergerak-gerak, padahal tidak ada angin yang bertiup dari pintu depan yang terbuka. Pandangan Saras turun ke bawah tirai, ke tempat ada celah diantara ujung tirai dengan lantai. Di sana ada sepasang kaki telanjang yang sedang menghalau nyamuk yang mengitari. Saras tersenyum. Pastilah itu kaki Adila, adiknya yang masih berumur belasan tahun. Rupanya ia menguping pembicaraan Bapak dan Ibu dengan Erwin. *** Selepas Erwin pulang, Saras dikerubungi oleh orangtua dan adiknya. Adila tak berhenti tersenyum-senyum dan menggoda. “Uhuy cihuyyy! Kak Saras mau nikah,” cetus Adila. Kerling matanya jail ke arah Saras. Gadis yang duduk di tingkat akhir SMP itu terus cengar-cengir tak jelas. “Sudah, jangan senyum terus. Bisa kering itu gigi,” bentak Saras. Matanya sengaja dibuat terbelalak, berharap tampak galak. Namun bukannya takut, Adila malah semakin terbahak. “Mbak Saras nggak pantas buat galak, malah kelihatan lucu. Hahahaaa,” tawa Adila semakin keras. “Sssh, sssh. Sudah Adila, jangan goda mbakmu terus,” bela Ibu. “Lihat, Bu. Mbak Saras merah wajahnya. Telolet, telolet!” Adila tak menghiraukan ucapan Ibu. “Adila, sana ke dalam. Cuci cangkir dan piring bekas Mas Erwin tadi,” usir Ibu halus. Ibu mengibaskan tangan kepada Adila, kode agar Adila menyingkir ke dapur. Terpaksa Adila menuruti perintah ibunya. “Ibuuu, nggak bisa lihat aku senang, deh,” Gadis itu berlalu setengah menggerutu. “Ibu lega, kamu nggak akan lagi jadi bahan gunjingan tetangga,” cetus Ibu. “Oh, ya? Kan aku nggak tinggal di sini, Bu?” tanya Saras bingung. “Ya, tapi tahu sendiri kan omongan orang. Bolak-balik Ibu disindir, nggak di pasar nggak di arisan. Selalu yang ditanya apa kamu sudah nikah,” keluh Ibu. “Malah kamu sering dibandingkan dengan teman SMU-mu dulu, si Mira dan Lena. Mereka kan sudah punya anak dua,” tambah Ibu. “Ibu kesal karena kamu dibilang nggak laku, karena adikmu Sasha sudah menikah lebih dulu,” sungut Ibu. Bapak berdehem. Menjeda curahan hati Ibu yang seolah tak akan berhenti. Mendengar deheman Bapak, Ibu langsung terdiam. Tampaknya Ibu mengerti kode yang diberikan oleh Bapak. “Jadi bagaimana rencanamu setelah menikah, Sar?” tanya Bapak, mengalihkan topik. “Rencana tentang apa, Pak?” tanya Saras, bingung dengan maksud Bapak yang kurang dipahaminya “Kamu akan tetap bekerja? Lalu kamu mau tinggal di mana?” tambah Bapak. “Belum ada pembicaraan tentang itu sih, Pak. Mungkin nanti akan aku diskusikan dengan Mas Erwin,” jawab Saras, jujur. “Kalau kamu sendiri maunya bagaimana?” kejar Bapak. “Aku ingin tetap bekerja. Belum terbayang kalau harus jadi ibu rumah tangga dan diam di rumah saja. Kalau tentang tempat tinggal, aku ikut Mas Erwin saja,” jelas Saras. Bapak dan Ibu sontak saling melirik. Saras yang melihat itu merasa heran. Apakah ada yang salah dengan penjelasannya barusan? “Kalau menurut Ibu, sebaiknya kamu tinggal berpisah dari orangtua Erwin. Bukan apa-apa, sudah banyak kejadian menantu dan mertua nggak akur lantaran tinggal serumah,” ujar Ibu. Saras tertegun. Hal ini sama sekali tak pernah terpikirkan olehnya. Jangankan memikirkan kehidupan pernikahan, untuk bisa menikah saja ia perlu berjuang keras. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN