“Sedang apa kalian?” hardik ibu Devi.
“Kami nggak berbuat apa-apa, Mah. Mamah kok ngomong seolah kami sedang berbuat yang nggak-nggak,” sungut Devi. Bibirnya cemberut.
“Lha, itu. Kalian pijit-pijitan ...” sentak beliau. Matanya kembali melotot marah.
“Siapa yang pijit-pijitan?” balas Devi sengit.
Ia lepas kendali karena terbawa emosi. Nada suaranya meninggi dan sorot matanya tajam menentang ibunya.
“Husy! Jangan begitu, Dev. Nggak baik. Mamah itu ibu kandungmu, lho,” tegur Erwin.
Kemudian Erwin ganti menatap ibu Devi dengan sorot mata yang menyiratkan permohonan maaf.
“Kaki Devi pegal katanya, Mah. Makanya saya pijiti,” jawab Erwin, membela Devi.
“Oh, jadi kamu suruh Erwin jadi tukang pijit gratisan? Terlalu kamu, Dev,” kecam sang ibu.
Emosi Devi kembali tersulut.
“Ih, siapa yang nyuruh Mas Erwin? Orang Mas Erwin yang mau sendiri kok,” ketus Devi, membela diri.
“Betul begitu, Er?”
Sekarang tatapan perempuan yang mirip Devi itu lurus ke arah Erwin. Erwin menjadi kikuk dipandang setajam itu oleh mantan calon mertua.
“Be—betul, Mah,” jawab Erwin tergagap.
“Erwin, Erwin ... Kamu itu laki-laki atau bukan? Kok mau diperlakukan begini,” sesal beliau sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Mas Erwin aja nggak protes, kok Mamah yang heboh,” celetuk Devi.
Omongan itu berhasil membuat mata ibunya kembali mendelik.
“Mah, sudah. Jangan marahi Devi. Kasihan Devi, Mah,” bujuk Erwin lirih.
Devi menurunkan kakinya yang tak lagi dipijiti oleh Erwin. Ia menggeliatkan tubuh yang pegal.
“Capek. Mamah bukannya tanya hasil persiapan nikahan malah menuduh yang bukan-bukan,” gerutu Devi.
“Ada tamu itu disuguhi minuman, bukannya malah disuruh mijiti,” sindir ibunya, tak memedulikan perkataan pedas Devi.
Erwin mendesah lelah menghadapi adu mulut Devi dan ibunya. Akhirnya, ia memilih diam saja.
Devi masuk ke dalam dengan wajah ditekuk. Sementara Devi masuk, ibunya duduk di depan Erwin.
“Ke mana saja tadi, Nak?” tanyanya serius.
Erwin menceritakan kegiatannya hari ini bersama Devi. Tak lama kemudian, Devi keluar dengan dua cangkir teh manis hangat untuk Erwin dan dirinya.
***
Erwin tertawa mendengar ibu Devi menceritakan kembali peristiwa yang dulu pernah terjadi.
“Saya hampir lupa dengan kejadian itu, Mah,” ujar Erwin.
“Hem. Kalau Mamah sih nggak bisa lupa,” timpal ibu Devi.
“Sebetulnya, saya kemarin bertemu Devi dan suaminya,” aku Erwin.
“Oh, ya? Di mana?”
Ibu Devi membelalakkan mata, rasa terkejutnya terlihat nyata.
“Di bioskop, waktu saya juga mau nonton,” jawab Erwin.
Mengingat pertemuan saat itu, rasa perih di hati Erwin kembali terasa.
“Apa nomor ponsel Devi masih yang lama, Mah?” tanya Erwin.
Ada keinginan yang kuat di hati Erwin untuk mengetahui tentang kehidupan Devi lagi. Meskipun ia tahu Devi sudah ada yang punya, tapi ia tak kuasa menahan gejolak rasa.
“Kebetulan sudah ganti. Kamu mau, Er?”
Ibu Devi heran dengan pertanyaan Erwin, tapi ia tak mampu untuk menolak permintaan mantan calon menantu kesayangannya.
“Ya, Mah. Saya ingin menyapa Devi sesekali,” sahut Erwin spontan.
“Catat, ya.”
Ibu Devi mengambil ponselnya yang tergeletak di meja kecil di sudut ruang tamu. Ia memencet-mencet layarnya sebentar, lalu menunjukkan sederet nomor kepada Erwin. Sigap, Erwin menyalin deretan nomor tersebut pada kontak ponselnya.
“Makasih, Mah,” katanya usai menyalin nomor.
“Mamah juga minta nomormu ya, Er,” cetus ibu Devi.
“Ya, Mah. Ini nomorku.” Erwin mengangsurkan teleponnya dan memperlihatkan nomor miliknya.
Ibu Devi terdiam sejenak, sementara tangannya memencet tombol-tombol maya di ponselnya. Setelah selesai, beliau kembali memandang Erwin.
“Jadi kapan acara nikahanmu, Er? Mamah diundang, ya,” pintanya kemudian.
“Pasti, Mah. Mamah dan Devi pasti saya undang,” janji Erwin.
Ditagih undangan pernikahan, membuat Erwin ingat bahwa banyak yang harus dibicarakannya dengan Saras. Erwin berniat menemui Saras lagi sepulang dari rumah orangtua Devi.
“Nggak sabar lihat kamu bersanding. Mamah ingin kamu berbahagia, Er,” lanjut ibu Devi tulus.
“Terima kasih, Mah. Oh, ya. Saya pamit dulu, masih ada yang ingin diurus,” pamit Erwin.
Ibu Devi mengangguk. Ia mengantarkan Erwin sampai ke ambang pintu.
***
Saras terkejut melihat kedatangan Erwin ke rumah kosnya. Ia tak menyangka Erwin akan datang hari ini, setelah kemarin pulang larut malam.
“Wah, aku kira Mas masih lelah setelah semalam,” cetus Saras heran.
Ia sendiri yang membukakan pintu rumah kos, karena kebetulan rumah kos sedang sepi. Hanya ada Saras dan beberapa penghuni lain yang masih tidur. Hari libur begini dimanfaatkan oleh kebanyakan penghuni untuk tidur sampai siang.
“Ya, lelah sih. Mas juga agak mengantuk,” jawab Erwin jujur.
Setelah mendengar perkataan Saras, Erwin sempat menguap beberapa kali. Efek kurang tidur baru dirasakannya setelah sampai di kos Saras.
“Sebetulnya ada yang ingin aku bicarakan. Tapi kok ngantuk banget, ya. Aku numpang tidur dulu, ya,” pinta Erwin.
Saras mengangguk. Ia biarkan Erwin memasuki kamarnya dan berbaring di atas kasur. Dalam hitungan detik, Erwin sudah tertidur pulas. Saras membuka pintu kamar lebar-lebar, agar tidak ada yang menduga ia dan Erwin berbuat asusila di dalam kamar.
Saras sendiri juga masih agak mengantuk, tapi ia tak bisa tidur lagi. Obrolan semalam terngiang terus di benaknya. Ia berniat, ketika Erwin bangun akan diungkitnya lagi soal pernikahan mereka.
Dua jam kemudian Erwin terjaga. Saat membuka mata, Saras yang tertidur di kursi merupakan hal pertama yang dilihatnya. Seketika Erwin merasa bersalah, akibat ulahnya Saras tak dapat membaringkan diri.
Ia bangkit, lalu mendekati Saras yang tertidur dengan bertopang pipi. Sehelai rambut yang jatuh menutupi sebagian kecil wajah Saras. Ia tampak manis dan lugu di mata Erwin. Perlahan, ia sentuh helaian rambut itu dan menyelipkannya kembali ke balik telinga.
Gerakan itu membuat Saras terjaga. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, sebelum menyadari keberadaan Erwin di hadapannya. Ia spontan tersenyum.
“Sudah bangun, Mas?” sapanya lembut.
“Kamu cantik kalau sedang tidur,” puji Erwin serius.
Saras tersipu.
“Kamu akan jadi istri yang baik dan sempurna,” ujar Erwin lagi.
Hati Saras berdebar. Tangan Erwin membelai sekilas pipi Saras. Untuk sesaat, Saras berharap Erwin akan melakukan lebih. Tapi ia harus kecewa, karena setelah belaian itu Erwin malah berbalik dan duduk di tepi ranjang.
“Aku ke sini ingin membicarakan rencana pernikahan kita,” kata Erwin.
Nada suara Erwin sudah berbeda dengan saat ia membelai pipi Saras. Momentum itu sudah berlalu, Saras sadar itu.
“Aku ingin secepatnya mengenalkanmu pada Ibu, lalu kita rencanakan waktu yang tepat untuk melamar pada orangtuamu,” lanjut Erwin.
Saras tersenyum. Belum pernah ia merasa sebahagia saat ini. Sudah lama ia menunggu ucapan itu keluar dari mulut Erwin. Sekarang impian untuk menikah dengan Erwin terasa sudah semakin dekat.
“Iya, Mas. Aku siap kapan saja,” jawab Saras mantap.
Rasa hangat mengaliri dadanya, perasaan senang dan harapan menjadi satu.
Erwin tersenyum lucu. Saras kebingungan dibuatnya.
“Kamu siap kalau kuajak sekarang bertemu ibuku?” tantang Erwin.
Saras terkesiap. Tanpa sadar Saras meraba wajahnya yang kusut akibat kurang tidur semalam. Apa jadinya bila calon ibu mertua melihatnya dalam kondisi tak prima? Saras mendadak gugup.
“Oh! Aku belum dandan,” cetus Saras. Kepanikan terbit dari sorot matanya.
Erwin tertawa melihat reaksi Saras. Ia bahkan terpingkal-pingkal untuk sesaat. Baru kali ini Saras melihat Erwin begitu riang.
“Ah, Mas hanya bercanda,” rajuk Saras kecewa.
Rasa senang yang sempat mekar di hatinya kembali layu.
“Siapa bilang? Aku serius,” tegas Erwin. Mereka bertatapan untuk sesaat.
Mendadak terdengar bunyi perut Erwin yang lapar. Saras sontak tertawa lepas.
“Nah, sekarang kita seri,” kata Erwin ringan. Senyum terkulum di bibirnya.
“Jadi kapan aku dikenalkan, Mas?” tuntut Saras.
“Ya, sekarang. Kita pergi makan dulu, lalu mampir ke salon agar kamu terlihat segar. Bagaimana?” tawar Erwin.
Senyum Saras terkembang lebar. Cerah sekali wajahnya saat mengangguk. Debaran di hatinya kembali datang. Sebentar lagi ia akan bertemu calon ibu mertua. Kepala Saras dipenuhi rencana dan angan-angan masa depan. ***