Erwin mengancingkan kemeja di depan cermin. Kemeja kotak-kotak berwarna merah hitam yang sedang dikenakan itu merupakan salah satu kemeja terbaiknya. Erwin merasa perlu tampil gagah di hadapan mantan calon ibu mertuanya.
“Mau pergi, Er?” tegur Ibu yang tak sengaja lewat di depan kamar Erwin yang terbuka.
Erwin menoleh.
“Iya, Bu. Mau ... mengunjungi teman lama,” jawab Erwin.
Erwin memilih untuk tidak berterus terang. Jawaban tadi sudah dianggapnya diplomatis, tidak terbuka namun juga tidak berbohong. Bukankah ibu Devi memang teman lamanya?
“Ya. Jangan kesorean pulangnya, ya. Ibu kesepian nggak ada teman,” pesan Ibu.
Ada nada sendu dalam suara Ibu yang tertangkap oleh telinga Erwin. Hati Erwin trenyuh. Ia dekati Ibu, lalu dipeluk dan diciumnya ubun-ubun yang telah penuh uban lantaran menua dimakan usia.
Apabila ia ingat-ingat, sudah sepuluh tahun ibunya menjadi janda. Sejak ayahnya meninggal karena sakit jantung, praktis Ibu tidak punya teman bicara. Erwin sebagai anak tunggal jarang berada di rumah. Pantas saja ibunya merasa kesepian.
“Setelah aku menikah, ibu nggak akan kesepian lagi,” kata Erwin.
Ibu menghela napas.
“Kalau kamu dan istrimu tinggal bersama Ibu, pasti nggak akan kesepian. Tapi apa Saras mau?” tanya Ibu. Ada kesangsian dalam suaranya.
Erwin terhenyak. Ia belum membicarakan hal itu dengan Saras. Barulah Erwin sadari, bahwa banyak hal yang belum sempat didiskusikan tentang pernikahan mereka kelak.
“Semoga Saras tidak keberatan, Bu. Aku akan berusaha membujuknya,” janji Erwin.
Ibunya tak menimpali. Setelah Erwin yakin pembicaraan itu sudah berakhir, ia beringsut mengambil kunci motor yang tergantung di dinding berpaku.
“Aku berangkat, Bu,” pamit Erwin. Ia mencium punggung tangan dan juga pipi ibunya dengan kasih sayang.
***
Erwin menghentikan sepeda motor di depan pagar rumah Devi. Ia turun dan meraih bungkusan yang terkait di gantungan motor. Sebelum kemari, ia menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh. Tidak enak rasanya berkunjung bila tak membawa buah tangan.
Rumah itu masih sama seperti dalam ingatan Erwin, hanya catnya sudah berganti warna. Rumah tua itu terlihat terawat baik, bahkan catnya masih terlihat baru. Tampaknya, rumah itu dicat secara berkala. Mungkin cat rumah diperbarui setiap setahun sekali, pada saat menjelang hari lebaran.
Rumah kenangan. Sewaktu Devi masih kekasihnya, inilah tempat yang selalu dikunjunginya setiap hari. Siang dan malam ia selalu ada di sini.
Erwin mengedarkan pandang ke seluruh bagian rumah, lalu tersenyum saat matanya tertumbuk pada pot yang tak lagi utuh di sudut halaman. Pot itu, dulu ia yang menabraknya tanpa sengaja, hingga membuat pinggirannya menjadi sumbing. Pot itu ternyata masih dipertahankan, belum diganti sama sekali.
Erwin menyempatkan diri berkeliling di sekitar halaman rumah, demi menikmati nostalgia. Setelah puas menjelajah, ia menghampiri pintu depan. Tombol bel pintu masih sama seperti dulu, hanya sekarang bertambah buluk.
Ting tong!
Erwin menekan bel rumah satu kali. Selanjutnya ia memilih menunggu di depan pintu dengan sabar. Ia yakin, pemilik rumah sudah mendengar bunyi bel. Penghuninya hanya belum membukakan pintu.
Menit-menit berlalu, tapi tak ada yang membukakan pintu. Hampir saja Erwin berniat memencet bel kembali, ketika langkah-langkah ringan terdengar mendekat. Pintu dibuka dengan lembut.
“Oh! I—ini, Nak Erwin?” seru ibu Devi terkejut. Saking kagetnya, mata kecil di balik kacamata buram itu sampai terbelalak.
“Betul, Mah. Saya Erwin. Apa kabar? Sehat-sehat, kan?” balas Erwin sopan. Senyum lebar menghiasi wajahnya.
Cepat Erwin mengambil tangan perempuan yang hampir saja menjadi ibu mertuanya itu untuk dicium. Ibu Devi membiarkan tangannya diambil oleh Erwin, sementara ia masih tertegun tak percaya.
Erwin telah terbiasa memanggil ibu mantannya dengan sebutan ‘Mamah’, meskipun ia sudah bukan lagi calon menantu. Hatinya merasa janggal jika harus mengubah panggilan terhadap perempuan yang pernah diharapkannya menjadi mertua tersebut.
“Duh, Mamah sampai bengong. Masuk, Nak!” ajak ibu Devi.
“Tambah gagah saja kamu, Er,” ceplos ibu Devi setelah Erwin duduk.
“Mamah bisa aja,” balas Erwin sopan.
“Sudah lama kamu nggak mampir, Er. Mamah sangka kamu sudah lupa sama Mamah,” cetus ibu Devi luwes.
“Nggak dong, Mah. Masa saya lupa. Saya juga masih ingat makanan kesukaan Mamah,” balas Erwin.
Tangannya mengangsurkan bungkusan berisi sekotak brownies panggang spesial. Ibu Devi membuka bungkusan itu, dan menghirup aroma brownies panggang yang harum dari dalamnya.
“Hm, wanginya. Makasih, ya. Kamu kok repot-repot, Er,” tutur ibu Devi.
Erwin tertawa mendengar basa-basi itu.
“Kamu sudah nikah, belum?” todong beliau.
Hampir saja Erwin tersedak saking terkejut. Ah! Lagi-lagi pertanyaan nikah. Dulu, Erwin dibuat jemu dengan pertanyaan itu, karena ia tak punya jawaban. Akan tetapi, kini ia bisa dengan bangga menjawab tegas.
“Sebentar lagi, Mah,” jawab Erwin bangga.
“Wah, Alhamdulillah. Mamah ikut senang mendengarnya,” tutur ibu Devi riang. Nada senang yang tulus terpancar dari suaranya.
Erwin teringat alasannya datang kemari.
“Bagaimana kabar Devi, Mah?” tanya Erwin pelan, namun terdengar dalam.
Bahkan saat bertanya saja jantung Erwin bertalu tak beraturan. Ternyata Devi masih sanggup membuat hatinya berdebar-debar.
“Devi tinggal di rumah suaminya. Dua minggu sekali atau paling tidak sebulan sekali Devi main ke sini.”
“Sudah punya anak?” Pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa rencana.
Dalam hati Erwin merutuk, bisa-bisanya ia mengurusi rumah tangga Devi.
“Belum. Nggak tahu kenapa, ya? Mungkin Devi sering kecapekan karena bekerja,” kata ibu Devi pelan.
Erwin tak berkomentar. Ibu Devi melirik Erwin dari sudut matanya.
“Sampai sekarang Mamah merasa nggak enak sama kamu, Er. Devi memang nggak setia. Baru kenal Budi sebentar sudah terpikat.”
Ibu Devi terlihat jelas kecewa.
“Nggak apa-apa, Mah. Saya sudah memaafkan Devi,” timpal Erwin.
Untuk meyakinkan mantan calon ibu mertuanya, Erwin tersenyum tenang.
“Ah! Sejak dulu kamu memang baik, Er. Terlalu baik malah. Makanya Devi jadi bertingkah seenaknya,” sesal ibu Devi.
“Kamu sebetulnya sadar, kan, kalau kebaikanmu dimanfaatkan Devi?”
“Saya tahu, Bu. Tapi bagi saya tidak masalah. Saya tulus membantu Devi,” jawab Erwin lirih.
Untuk yang kesekian kali, perempuan paruh baya itu mendesah. Gemas dengan sikap Erwin yang keterlaluan baiknya terhadap Devi.
“Mamah masih ingat, dulu sewaktu Devi akan menikah kamu juga yang membantu persiapannya,” ujar ibu Devi bernostalgia.
Mata tuanya menerawang menatap foto pernikahan Devi dan Budi yang digantung di dinding ruang tamu, sejajar dengan foto pernikahan kakak-kakaknya yang lain.
Tatapan Erwin turut terseret ke arah foto itu. Seketika hatinya sakit, nyeri bagaikan tertusuk duri. Langsung ia alihkan pandangan, lantaran tak kuat memandang Devi bersanding dengan Budi.
“Sampai sekarang Mamah nggak habis pikir, bisa-bisanya kamu dulu masih mau menolong Devi.”
Suara tuturan itu, seolah menjadi kunci pembuka memori Erwin pada peristiwa dua tahun yang lalu. Saat itu, Devi akan segera menikah.
***
Hari libur tanpa ada kegiatan, rasanya janggal dan menyiksa. Biasanya, ia akan mengunjungi Devi atau mengajaknya jalan-jalan.
“Devi, kamu sedang apa?” sapa Erwin di telepon.
Erwin tak kuat menahan rindu. Seolah ada magnet yang menariknya untuk terus menghubungi Devi. Sebelum mendengar suara Devi, rindu itu seolah mencekik dan terus menyakiti hatinya.
“Wah! Kebetulan kamu telepon, Mas!” seru Devi gembira.
Mendengar keriangan dalam suara Devi, Erwin turut merasa gembira.
“Aku ada urusan dengan WO. Tapi nggak ada yang antar ke sana. Mas bisa jemput dan antar aku?” tanya Devi polos.
Ringan kalimatnya, seolah ia hanya minta diantar beli bakso di gerai langganan. Erwin terperanjat. Tak terbayangkan olehnya Devi akan meminta diantar untuk urusan itu.
Sesuatu terasa menohok hati. Rasa sakitnya sampai membuat Erwin merasa sesak napas. Erwin memejamkan mata sejenak, berusaha mencamkan dalam hati bahwa Devi bukan miliknya lagi.
“Bisa, Mas?” desak Devi dari seberang sana.
“Bisa, Dev. Kamu sekarang ada di mana?” balas Erwin. Suaranya serak saat menjawab.
Ia sangat rindu. Saking inginnya bertemu, sampai rela mengantar Devi untuk keperluan pernikahannya.
“Masih di rumah, nih. Oke, aku tunggu. Kamu memang selalu bisa aku andalkan, Mas,” rayu Devi.
Kemudian telepon ditutup. Tinggallah Erwin yang tertegun. Segera ia persiapkan sepeda motor untuk berangkat ke rumah Devi.
“Mau ke mana, Er?” tegur ibu Erwin yang melihatnya mengambil kunci sepeda motor.
“Mau ke rumah teman, Bu. Aku pamit,” kata Erwin. Tangannya cepat mencium punggung tangan ibunya, lalu bergegas pergi.
Semenjak putus dengan Devi, Erwin tak berani lagi menyebut nama Devi di hadapan ibunya. Ia tahu Ibu tak akan rela dengan perbuatannya.
***
Devi sudah menunggu Erwin di depan rumah. Sebelah tangannya sudah menenteng helm. Tas bahu tersampir di pundak. Wajahnya semringah menyambut kedatangan Erwin.
Menatap cantik dan rona wajah Devi yang berseri, membuat rindu Erwin terobati.
“Akhirnya kamu datang, Mas. Ayo berangkat sekarang,” lugas Devi meminta.
Belum sempat Erwin menjawab, Devi telah menghampirinya seraya berseru ke arah rumah.
“Mamah! Aku berangkat!”
Gesit sekali Devi naik ke boncengan di belakang Erwin.
“Ayo!” titahnya. Tangan menepuk pundak Erwin, menyuruhnya untuk melaju.
“Ke mana calonmu, Dev?” Erwin tak tahan untuk bertanya.
“Sedang sibuk. Cepat sedikit ya, Mas. Aku hampir telat,” pinta Devi.
***
Seharian Erwin menemani Devi mengurus persiapan pernikahannya dengan WO. Mereka survei tempat dan lokasi untuk pemotretan foto pra pernikahan. Devi juga memilih setelan jas dan gaun pengantin yang akan dikenakan pada saat akad dan pesta nanti.
Selama menunggui Devi, Erwin berkhayal bahwa dirinya lah yang akan menjadi pengantin nanti. Sayangnya, semua itu hanya angan-angan.
Menjelang sore, semua urusan Devi beres. Ia mengantarkan Devi kembali ke rumahnya.
“Masuk dan minum dulu, Mas,” ajak Devi.
Erwin mengangguk. Tubuhnya lelah dan tenggorokannya kering. Ia perlu beristirahat sejenak.
Devi mengempaskan p****t di sofa ruang tamu, wajahnya terlihat kelelahan.
“Duh, pegalnya kakiku! Aku kebanyakan jalan dan berdiri,” keluh Devi.
Tangannya memijat-mijat lembut pergelangan kakinya. Melihat itu, spontan Erwin berkata.
“Mau Mas pijitin? Sini.”
“Iya, Mas. Kakiku pegal banget,” sambut Devi cepat.
Saat Erwin tengah memijat kaki Devi, keluarlah ibu Devi dari ruang dalam. Matanya langsung membelalak melihat adegan yang terpampang di depan mata.
***