Devi menggerutu. Ia merasa terganggu. Erwin menelepon pada saat yang amat tidak tepat. Untuk sesaat, Devi menimbang. Haruskah ia terima telepon itu, atau ditolak saja?
Akhirnya, Devi memilih mengangkat telepon dari Erwin. Ia khawatir ponselnya akan terus bergetar selama ia mengobrol dengan keluarga Budi. Lebih baik ia terima dulu telepon itu agar tahu apa maunya Erwin.
“Halo?” sapa Devi pelan, setelah menyingkir ke sebuah sudut yang sepi.
“Devi? Mas kangen,” desah Erwin di seberang sana. Nada suaranya penuh damba.
Dalam hati Devi memaki. Hanya itu? Sama sekali tak penting buatnya. Otaknya langsung berputar, mencari alasan agar Erwin menutup telepon.
“Mas ingin ketemu. Boleh Mas datang?” tanya Erwin lagi.
“Maaf, Mas. Aku sedang jalan-jalan di luar. Kalau mau ketemu nanti kita janjian lagi aja,” ujar Devi, berusaha terdengar ceria meskipun dalam hatinya gondok luar biasa.
“Oh ...” Erwin di seberang sana kecewa.
“Di sini ramai, Mas. Suaranya kurang jelas. Sudah dulu, ya,” pungkas Devi.
Tanpa menunggu jawaban, seketika Devi mematikan sambungan. Saking geramnya, ia matikan ponselnya sekalian. Devi melangkah anggun kembali ke meja keluarga Budi.
Tampaknya, obrolan tentang teknis lamaran sudah usai. Papi sedang merokok dengan santai, sedangkan Mami dan Budi asyik memencet-mencet layar ponsel mereka. Kepala kekasihnya mendongak saat melihat Devi kembali.
“Nah, ini Devi sudah datang. Jadi begini, Yang. Buat acara pernikahan nanti, kita serahkan penuh pada wedding organizer saja,” Budi memaparkan rencananya untuk lamaran.
Devi mengangguk-angguk. Sudah jelas ia tak dimintai pendapat soal itu. Tapi ia tak ambil pusing. Malahan ia senang karena tak perlu ikut repot. Bukankah yang penting acara terlaksana dan beres?
“Baik, Mas. Nanti aku sampaikan pada Papah dan Mamah,” jawab Devi disertai senyum termanis.
Budi dan kedua orangtuanya ikut tersenyum puas.
***
Malam itu, Devi bermaksud mengabarkan lamaran Budi kepada orangtuanya. Tepat selepas salat magrib, Devi menghampiri keduanya di ruang keluarga.
“Kapan datangnya undangan ini?”
Devi mendengar Papah bertanya kepada Mamah. Di tangan sang ayah ada sebuah kartu bercorak kupu-kupu aneka warna, cantik sekali.
“Tadi siang, sewaktu Papah tidur,” jawab ibunya sambil mencari kacamata baca yang tersimpan di dalam laci.
“Undangan nikah anak Pak Radjiman yang bungsu ini,” cetus ayahnya seraya membolak-balik undangan.
“Mamah juga mau lihat dong, Pah. Tadi belum sempat baca,” pinta ibu yang sudah menemukan kacamatanya.
Terjadi peralihan kartu undangan dari tangan ayah ke tangan ibu, lalu sang ayah beralih memandang Devi yang berdiri terdiam di dekatnya.
“Ada apa, Devi? Kok tumben berdiri diam di sini?” Ayahnya mengernyitkan dahi ke arah Devi.
“Woh, iya. Ini Darnia anak bungsu Pak Radjiman! Jadi semua anaknya sekarang sudah nikah,” celetuk sang ibu yang tengah asyik membaca nama-nama di kartu undangan.
Lidah Devi kelu. Bingung harus memulai dari mana, karena Budi bukanlah calon menantu yang direstui.
“Leganya kalau semua anak sudah nikah,” cetus ibunya lagi.
Desah lelah keluar dari mulut perempuan yang sudah ubanan itu, seolah ada beban berat yang mengimpit.
“Anak Mamah ini juga sebentar lagi mau nikah,” sambar Devi, yang tiba-tiba mendapat ide saat mendengar keluhan tersebut.
“Hah? Kamu?!” seru kedua orangtua Devi hampir bersamaan.
Dua pasang mata tua menatap Devi dengan sorot mata terkesima. Devi semakin mantap.
“Iya, Pah, Mah. Devi berencana menikah dengan Mas Budi. Bulan depan Mas Budi mau melamar,” kata Devi blak-blakan.
Ayahnya melongo, sedangkan sang ibu membelalakkan mata. Mereka seolah tak percaya dengan penuturan Devi barusan.
“Kamu serius ya sama Budi?” tanya ayahnya, tenang setelah sebelumnya tersentak.
“Iya, Pah. Serius. Devi sudah mantap dengan Mas Budi,” angguk Devi tegas.
“Ya, ampun!” keluhan terlontar dari mulut ibunya.
Devi heran dengan sang ibu. Seharusnya beliau bersyukur mendapatkan menantu Budi daripada Erwin. Dibandingkan dengan Erwin, Budi lebih kaya dan lebih mapan. Kehidupan masa tua ibunya pasti terjamin dan enak jika Budi menjadi menantu.
“Devi minta restu, Papah,” ujar Devi takzim.
Devi menyentuh tangan ayahnya, lalu mencium punggung tangan yang sudah keriput dimakan usia. Setelah itu, Devi bergerak mengambil tangan ibunya. Perempuan tua itu lagi-lagi mendesah, pasrah menghadapi keteguhan Devi.
***
Lamaran Devi berlangsung tanpa hambatan. Peristiwa itu dirayakan besar-besaran. Devi sengaja menyewa gedung untuk acara tersebut. Susunan acara dibuat resmi seperti pesta syukuran pernikahan, bahkan sampai mengundang MC hajatan pesta profesional sebagai pembawa acara.
Semua kakak Devi datang pada acara itu, juga saudara dan sepupu dari pihak ayah dan ibu Devi. Belum lagi saudara dan keluarga Budi yang lumayan banyak. Acara lamaran itu meriah layaknya pesta resmi.
Devi dan Budi juga mengundang sedikit dari sahabat terdekat mereka. Devi mengundang Luna dan Melia, sedangkan Budi mengundang Santoso dan Damar.
Tukar cincin menjadi acara puncak yang mengundang decak kagum para tamu. Mereka memuji-muji kecantikan dan ketampanan calon pengantin, juga mengomentari betapa indah dan cantik cincin pertunangan Devi yang terbuat dari berlian.
“Para tamu undangan, kami persilakan menikmati hidangan ala kadarnya yang sudah disediakan. Sementara keluarga akan berembug tentang tanggal pernikahan,” ujar Bapak MC dengan suara bass yang berwibawa.
Mendengar komando, para tamu berduyun-duyun menyantap hidangan yang sama sekali tidak ala kadarnya. Beragam hidangan mewah disajikan secara prasmanan, olahan dari restoran milik keluarga Budi.
Devi, Luna, dan Melia duduk melingkar di meja yang sama. Mereka menyantap hidangan yang baru saja diambil.
“Mas Erwin kamu kabari nggak, Dev?” tanya Luna di samping Devi.
Devi melirik Luna sekilas, lalu memasukkan sesendok zuppa soup ke dalam mulut. Luna dan Melia menatap Devi, menunggu jawaban.
“Nggak. Tadinya mau kuundang, tapi batal,” ujar Devi setelah mulutnya kosong.
“Tega,” celetuk Melia. Ia menggelengkan kepala secara dramatis.
“Mamah yang melarang, katanya agar Mas Erwin nggak semakin sakit hati,” tambah Devi.
Luna dan Melia ber ‘oooh’ panjang.
“Mungkin nanti pas aku nikah aja Mas Erwin kuberi undangan, biar dia nggak merasa ditinggalkan,” lanjut Devi.
Para tamu selesai menyantap hidangan. Tibalah acara penutupan, sekaligus diumumkannya tanggal pernikahan yang akan dilangsungkan sebulan lagi. Sebelum pulang, semua tamu diberi bingkisan cantik sebagai oleh-oleh.
***
Seminggu setelah acara lamaran, Devi dan Budi makan siang bersama pada jam istirahat kantor. Makan siang dan makan malam bersama menjadi ritual rutin mereka setelah lamaran tempo hari. Kali ini, mereka memilih makan di kafe yang berada tak jauh dari kantor Devi.
Sambil menunggu makanan pesanan datang, Budi memanfaatkan waktu dengan mengobrol.
“Yang, bulan ini aku agak sibuk. Aku akan membuka dua gerai mie ayam di dua mall. Persiapannya cukup menyita waktu. Urusan pernikahan, kamu urus sendiri dulu, ya,” ujar Budi.
“Iya, Mas. Urusan dengan WO biar aku tangani,” angguk Devi.
“Bagus. Aku percaya kamu, Yang. Urus saja sesuai keinginanmu, aku pasti setuju,” lanjut Budi. Senyum mesra dilemparkannya ke arah calon istri.
Tiba-tiba ponsel Devi di meja melantunkan nada panggil berupa lagu merdu, membuat Devi agak terlonjak. Sendok yang dipegangnya jatuh ke piring. Bibirnya langsung merengut saat melihat nama pemanggil yang tertera pada layar ponsel.
“Siapa, Yang? Kok cemberut?” tanya Budi. Ia geli dengan reaksi Devi yang menurutnya kekanak-kanakan.
“Mas Erwin, Mas. Dia masih sering gangguin aku,” keluh Devi manja.
“Gangguin, gimana?” tanya Budi. Dahinya mengernyit penuh selidik.
“Suka telepon, kadang minta ketemu. Pastinya selalu aku tolak permintaannya,” jelas Devi. Sementara berbicara, lagu terus mengalun dari ponsel Devi.
“Ya, udah. Itu teleponnya kamu angkat dulu. Di sini aja terima teleponnya,” titah Budi.
Devi mengangguk. Jemari lentiknya menekan gambar telepon berwarna hijau di layar ponsel.
“Halo? ... Iya, aku sedang istirahat kerja,” jawab Devi. Suaranya sedikit ketus.
Devi lalu terdiam sesaat. Ia serius mendengarkan ucapan Erwin di seberang sana.
“Oh, iya. Iya, aku paham, Mas,” ujar Devi. Nada bicaranya tak sabar.
“Hm, nggak juga. Tapi aku sedang makan sama Mas Budi sekarang. Maaf ya, Mas,” pungkas Devi.
“Yuk, Dah!” ujar Devi sebelum menutup telepon.
Budi menatap Devi dengan sorot mata ingin tahu.
“Apa kata Erwin?” tanya Budi.
“Itu, Mas Erwin bilang kangen dengar suaraku. Dia bilang juga, kalau aku memerlukan bantuannya, dia masih siap membantu sebagai teman,” panjang lebar Devi menjawab. Jujur apa adanya.
Budi mengusap-usap dagunya yang berbentuk sempurna. Ia berpikir sejenak sebelum berkomentar.
“Kalau kamu lagi repot dan memang perlu bantuan, nggak apa-apa kok kamu minta bantuan Erwin,” ujar Budi. Kalem suaranya namun mengejutkan kalimatnya.
“Bener nih, Mas? Mas Budi nggak cemburu?” tanya Devi.
Ia heran dengan tawaran Budi yang dianggapnya tak biasa.
“Apa yang harus dicemburui?” Budi membalikkan pertanyaan.
“Aku nggak takut kamu selingkuh dengan Erwin. Bukannya kamu ninggalin dia karena selingkuh denganku?” tutur Budi, bibirnya tersenyum simpul.
Dari nada suaranya, tersirat rasa percaya diri yang sangat kentara.
Devi tersenyum miring. ***