Calon Mertua

1393 Kata
Dalam mimpi pun Devi tak menyangka, di rumahnya sudah ada Erwin yang menanti. Inilah kali pertama Erwin bertemu dengan Budi. Tiba-tiba Devi khawatir Erwin dan Budi akan saling menyakiti, belum lagi ada yang menatap Budi dengan sorot mata tak suka. Akhirnya, dengan kode matanya Devi meminta Budi pergi. Perbincangannya dengan Erwin setelah kepergian Budi berakhir tak terduga. Awalnya, Devi mengira Erwin akan murka dan mengucapkan sesuatu yang menyakitkan. Meskipun selama ini Erwin tak pernah kasar, tapi ketakutan itu tetap ada. Ia bahkan sudah bersiap-siap menerima kemungkinan terburuk, namun dugaannya keliru. Erwin tetap lelaki dengan kendali diri yang baik. Permintaannya untuk tetap berteman setelah putus mengejutkan Devi. Ada rasa bersalah yang tumbuh di hati Devi, namun dicabutnya sebelum berkembang. Ia berhak meraih kebahagiaan. Buat apa ia bersama orang yang tak dicinta? “Aku pulang,” tutur Erwin saat kembali dari ruang dalam. Belum sempat Devi menjawab, Erwin sudah menariknya ke dalam pelukan. Sebuah ciuman yang kuat mendarat di bibir tanpa bisa Devi cegah, saking cepatnya hal itu terjadi. Devi gelagapan dan tak sempat menghindar. Detik berikutnya, Erwin melepaskan Devi dan langsung berlalu keluar rumah. Tanpa menoleh lagi, Erwin menaiki sepeda motor dan menyalakan mesin. Raungan knalpot motor seolah mewakili raungan suara hati Erwin yang terluka. Di ambang pintu rumah, Devi mengawasi kepergian Erwin dengan sepeda motor kesayangannya. Jauh di lubuk hati, Devi membisikkan kata maaf pada Erwin. Setelah sosok Erwin hilang dari pandangan, Ia tutup pintu rumah dan merapatkan gorden jendela karena hari telah senja. Devi berjalan ke arah kamar tidur untuk mengganti seragam kerja dan membersihkan diri. Langkahnya terhenti di ruang keluarga, saat suara yang amat dikenalnya menyalak. “Kamu apakan Erwin?” tuduh ibunya dengan suara yang tajam. “Nggak aku apa-apakan, Mah. Sebetulnya anak Mamah itu aku atau Mas Erwin, sih?” timpal Devi kesal. Devi heran, orangtuanya terlihat lebih sayang terhadap Erwin daripada pada dirinya. Selalu saja Erwin yang dibela dan didukung, padahal Erwin hanya calon menantu. Ralat, sekarang statusnya sudah berubah menjadi mantan calon menantu. “Pemuda sebaik itu disia-siakan,” tambah sang ibu sambil mendengkus. Devi memutar bola mata. Lagi-lagi hal yang diungkit itu-itu saja. Devi berbalik, kembali memilih tak melayani debat dengan orangtuanya. Apabila dilayani, ibunya malah semakin menjadi-jadi. Sambil menikmati siraman air dari pancuran kamar mandi, Devi berpikir ulang tentang rencananya di mobil Budi. Tadinya ia ingin mengabari kedua orangtuanya tentang ajakan Budi untuk bertemu ayah dan ibu lelaki itu. Akan tetapi, melihat reaksi ibunya barusan membuat Devi mengubah rencana. Mungkin sebaiknya kabar itu ia tangguhkan dulu. Setelah ia bertemu orangtua Budi, barulah ia ceritakan hasilnya kepada kedua orangtuanya. Melihat sikap sang ibu barusan, Devi merasa enggan untuk berbagi kisah. *** Hari perkenalan yang dijanjikan Budi tiba. Devi melangkah keluar kamar dengan gaun elegan dan sepatu hak tinggi. Tas tangan warna senada gaun berada digenggaman. Budi sudah menunggunya di ruang tamu, duduk seorang diri karena orangtua kekasihnya tak sudi bertemu. “Dandan cantik mau ke pesta?” tanya ibunya dengan raut wajah tak ramah. “Iya, Mah,” jawab Devi singkat, berbohong untuk kesekian kali. Saking malasnya Devi bertengkar, akhirnya ia sering berbohong. Tiba-tiba ayah Devi masuk ke dalam rumah dari pintu belakang. Di belakang rumah Devi, ada sepetak tanah kecil yang digunakan oleh ayahnya untuk berkebun. Hobi yang digeluti ayahnya setelah pensiun. “Wah cantik betul kamu, Dev. Mau pergi sama siapa?” tanya beliau heran, karena ia tak mengetahui kedatangan Budi. “Siapa lagi kalau bukan ...” sambar ibunya, lalu sengaja menggantung ucapan. “Sama Mas Budi, Pah. Devi pamit dulu,” jawab Devi cepat. Devi bergegas menuju ruang tamu. Semakin lama di rumah, semakin panjang celaan dari ibunya. Lebih baik ia segera angkat kaki. Budi langsung berdiri saat melihat kemunculan Devi. “Ayo, Mas!” ajak Devi seraya menarik tangan Budi. “Eh, pamit Ayah dan Ibu dulu,” ujar Budi mengingatkan. “Aku sudah pamit tadi,” sahut Devi tak sabar. “Jangan begitu. Aku yang nggak enak,” bantah Budi. Budi langsung beranjak menuju ruang keluarga, lalu menyapa sopan. “Permisi, Pak, Bu. Saya minta izin mengajak Devi pergi makan,” ujarnya dengan suara merendah. Budi bermaksud menyalami ayah dan ibu Devi. “Tangan Bapak kotor terkena tanah. Hati-hati di jalan, ya,” sahut ayah Devi. Sementara ayah Devi berbicara dengan Budi, diam-diam ibu Devi masuk ke dalam kamar. Budi yang hendak menyalami ibu Devi kebingungan menyadari ibu kekasihnya tiba-tiba menghilang. “Pasti, Pak. Kami pergi dulu,” pungkas Budi sebelum berlalu. Sepeninggal Budi dan Devi, ayah Devi memanggil-manggil istrinya. “Mah, ayo keluar. Budi dan Devi sudah pergi ini, lho,” serunya cukup keras. Ibu Devi muncul dengan raut wajah lega. “Mah, jangan begitu. Mamah ini lucu, tingkahnya mirip anak kecil,” cela ayah Devi sambil geleng-geleng kepala. Ibu Devi tak menjawab. Ia memilih kembali duduk di sofa dan menyalakan teve. “Papah lihat Budi itu anaknya sopan. Semoga saja dia bisa mengendalikan keliaran Devi,” tambah ayah Devi sambil mencuci tangan yang kotor di bak cuci tangan. “Memang sih sopan santunnya bagus. Tapi apa baik perilaku yang merebut pacar orang?” sahut ibu Devi retoris. *** “Mau ke mana kita, Mas?” tanya Devi di dalam mobil Budi. “Restoran langgananku. Papi dan Mami seharusnya sudah ada di sana sekarang. Kamu gugup?” Budi melirik Devi yang duduk di sebelahnya dari sudut mata. “Sedikit,” jawab Devi singkat. “Tenang aja. Papi dan Mamiku ramah, kok,” ujar Budi menenteramkan hati. Akhirnya mereka tiba di sebuah restoran yang cukup besar. Halaman depannya berupa taman yang ditanami pohon-pohon palem di beberapa pot raksasa. Suasana terlihat asri dan nyaman. Selepas memarkir mobil, Budi dan Devi berjalan memasuki restoran dengan bergandengan tangan. Beberapa orang sempat menoleh ke arah Budi dan Devi yang melangkah memasuki ruangan. Ada yang terpana, ada juga yang terpesona. Devi menyadari, tatapan kagum itu datang karena ia dan Budi memang pasangan serasi. Budi mengedarkan pandang ke seluruh penjuru ruang utama restoran. Seorang lelaki gendut melambaikan tangan dari sebuah meja bulat di tengah ruangan. Di sebelahnya, duduk seorang perempuan paruh baya yang ayu. Budi tersenyum, lalu menoleh ke arah Devi. “Itu Papi dan Mami. Ayo,” ajaknya dengan senyum tersungging. Devi menggamit lengan Budi dengan perasaan senang bercampur grogi. “Papi dan Mami, ini Devi,” Budi memperkenalkan Devi di hadapan kedua orangtuanya. Devi langsung menjabat tangan Mami, lalu mencium pipi kiri dan kanannya. “Halo! Wah, kamu lebih cantik daripada bayangan Mami,” sapa Mami ramah. “Pilihan Budi nggak usah diragukan, Mi,” timpal Budi dengan senyum lebar. “Budi itu seleranya kan turunan dari Papi, Mi,” seloroh Papi. Mami dan Budi tertawa bersama, sedangkan Devi tersenyum-senyum. Obrolan mengalir begitu saja dengan lancar. Saking santainya obrolan, tahu-tahu pesanan makanan sudah datang. Mereka melanjutkan mengobrol sambil makan. Saat hidangan habis, obrolan berubah menjadi lebih serius. “Kalian kan sudah sama-sama cukup umur. Pekerjaan juga sudah ada. Bagaimana kalau secepatnya saja menikah?” ujar Mami. Tatapannya menatap penuh harap ke arah Devi, sedangkan tangannya memegang sekilas lengan Devi. Gelang emas Mami bahkan menyenggol pergelangan tangan Devi. “Papi setuju. Kalau bisa tahun ini juga nikahnya,” timpal Papi. Devi dan Budi saling melirik. Budi tersenyum ke arah Devi. Devi tersipu. “Jadi gimana? Kapan Devi siap dilamar?” desak Mami. “Ehm. Saya terserah Mas Budi, Mi. Kapan saja saya siap,” jawab Devi tegas. Mami mengangguk-angguk puas. Kemudian, tatapan Mami beralih ke arah Budi. Budi segera tanggap. “Bagaimana kalau bulan depan lamarannya?” ujar Budi seraya menatap Devi mesra. Devi mengangguk pelan, membuat Mami dan Papi berseru senang. “Nah, enak kalau semua setuju begini,” cetus Mami puas. “Tanggal berapa kamu bisa, Bud? Kalau nggak salah bulan depan kamu ada persiapan buka gerai mie ayam di mall, kan?” tanya Papi. Perhatian Papi dan Mami kini teralih pada Budi. Orangtua dan anak itu sibuk membahas teknis acara lamaran. Ketegangan yang sebelumnya dirasakan Devi sedikit mengendur. Obrolan tentang hari lamaran cukup membuatnya senewen. Ia merasa ingin pipis. “Maaf. Saya ke kamar mandi dulu, Pi, Mi,” pamit Devi. Devi melenggang ke toilet restoran dengan gerakan anggun. Beberapa tamu restoran sempat melirik ke arah Devi. Kecantikannya memang sulit diingkari. Devi selesai membasuh wajah dan memperbaiki riasan wajah yang memudar. Saat itulah tas tangannya bergetar. Ponsel di dalam tas yang menjadi penyebab. Devi mengeluarkan ponsel dan mengecek layarnya. Tertera nama Erwin di sana. Dahi Devi mengernyit. Mau apa Erwin meneleponnya? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN