Sejak kencan pertama dengan Budi, Devi sudah tahu bahwa ibunya tak merestui hubungannya. Ketidaksetujuan itu bahkan diperlihatkan oleh sang ibu secara terang-terangan.
Baru saja Devi pulang dari makan malam bersama Budi, perempuan yang telah membesarkannya itu sudah menyambut dengan wajah yang ditekuk.
“Ingat, kamu itu masih pacar Erwin,” ujar ibunya sinis, tak ada keramahan dalam suara itu sedikitpun.
Devi terkejut. Saat memasuki ruang keluarga, ia dapati Mamah duduk di depan teve seorang diri. Mungkin Papah sudah pergi ke kamar tidur.
Devi melirik jam dinding di atas sofa yang diduduki ibunya. Jarum pendek menunjuk angka sepuluh, sementara jarum panjang menunjuk angka enam. Cukup larut untuk terjaga bagi orang berusia paruh baya. Biasanya, beliau sudah masuk ke kamar pada pukul sembilan malam.
Devi terhenyak memandang sosok yang duduk di seberang tempatnya berdiri. Posturnya diam bagai arca, sedangkan raut wajahnya keruh dengan bibir mengerucut.
“Mamah menungguku pulang?” tanya Devi keheranan.
“Iya. Anak gadis pulangnya kok selalu malam,” cerca ibunya lagi.
Posisi orangtua itu masih bergeming, meskipun mulutnya berbicara tapi pandangannya tajam ke arah televisi yang menyala di hadapan. Tahulah Devi bahwa ibunya sedang murka. Saking marahnya, beliau sampai tak bergerak.
Devi memilih tak meladeni, ia malas berdebat. Dengan tenang, Devi melangkah menuju kamar tidur untuk berganti pakaian. Ketak-ketuk bunyi sepatu tinggi yang dikenakannya bergema ke seluruh penjuru ruangan.
“Mamah nggak suka punya anak nggak setia!” seru sang ibu lagi, keras dan dingin suaranya.
Devi menghentikan langkah sejenak, tepat di depan pintu kamarnya. Kepalanya menoleh sebentar ke arah sofa tempat duduk, sedangkan mulutnya tetap bungkam. Tak ada pergerakan dari sosok di sofa itu.
“Sampai kapanpun Mamah nggak merestui hubunganmu dengan Budi!” tambah ibunya tegas.
Devi mengembuskan napas, gemas dan panas rasa hatinya. Ia ingin menjawab tak kalah keras, tapi ia lelah dan tak ingin memulai pertengkaran. Devi menutup pintu kamarnya, membiarkan kemarahan ibunya tak mendapatkan lawan.
***
Hubungan Devi dengan Budi jalan terus, meskipun tanpa restu. Budi yang ditolak oleh ibu Devi tak tinggal diam. Ia berusaha mengambil hati dengan berbagai cara, membawakan buah tangan setiap kali berkunjung, mengajak mengobrol meskipun sering ditinggal pergi, bahkan membelikan pakaian dan perhiasan untuk merayu calon ibu mertuanya.
“Kok tumben Erwin nggak datang hari libur begini, ya?” cetus sang ibu pada suatu hari minggu.
“Mas Erwin ada urusan, Mah,” jawab Devi tenang, berbohong akan fakta sebetulnya.
Tentu saja ia tak mengaku bahwa sudah berkali-kali ia menolak kedatangan Erwin. Ada saja alasan yang dikarangnya untuk mencegah kehadiran Erwin di rumah. Dari sakit, lelah, lembur, ada urusan, sampai sengaja tak membalas telepon Erwin dengan dalih ketiduran.
“Mamah perhatikan sekarang Erwin jarang berkunjung? Jangan-jangan kamu putuskan dia?” tuduh sang ibu, nyata terdengar nada suara menusuk dan tak enak.
“Nggak, Mah. Mungkin Mas Erwin sedang sibuk, jadi jarang datang,” sahut Devi santai, melanjutkan kebohongan dengan lancar.
Devi sudah menyiapkan mental untuk pertanyaan-pertanyaan semacam itu sejak lama. Jadi ketika ibunya bertanya, Devi sudah punya jawaban bohong yang terencana.
Ia kembali memoles bedak ke permukaan wajah mulusnya. Sebentar lagi Budi akan menjemputnya untuk jalan-jalan. Mereka sudah semakin sering bertemu dan jalan bersama.
“Lha, jadi ini kamu dandan mau ke mana? Pergi sama Budi lagi?” selidik orangtuanya. Ada nada kesal dalam suaranya.
“Hmmm,” gumam Devi sambil memoles lipstik pada bibir indahnya.
“Huh! Ada lelaki baik dan setia malah ditinggal. Kok ya malah pilih orang yang baru dikenal,” gerutu sang ibu.
Untuk kesekian kali, Devi malas menjawab omelan itu. Percuma saja dijawab, toh ujungnya bertengkar juga. Lebih baik ia diam dan menganggap omelan tersebut konser musik dari radio lama.
Deru mesin mobil menghentikan obrolan Devi dan ibunya. Devi tahu itu pasti mobil Budi. Cepat Devi menyelesaikan kegiatan dandannya, lalu menyimpan semua peralatan kosmetik kembali ke dalam tas kecil khusus.
“Itu Budi, ya? Mamah malas ketemu,” cetus ibu Devi, merajuk seperti anak kecil. Bahkan bibir beliau mencebik.
Devi tak menggubris, ia gesit bergerak menuju pintu depan. Betul saja, ia lihat Budi sudah berdiri di depan teras rumah. Di salah satu tangannya ada kantung plastik berisi sesuatu.
“Halo, Mas,” sapa Devi semringah.
“Duh, kamu memang selalu cantik, Yang,” puji Budi.
Devi tersipu, lalu tersenyum-senyum senang. Budi memang selalu memujinya setiap ada kesempatan.
“Oh, ya. Ini aku bawakan buah mangga buat Ibu. Ibu ada?” tanya Budi.
Kantung plastik di tangannya diangkat sedikit untuk dilihat Devi.
“Oh, Eh. Ada di dalam. Biar aku yang berikan kepada Mamah,” sahut Devi sambil melirikkan mata ke ruang dalam.
Kantung plastik berisi buah berpindah tangan. Devi masuk ke dalam tanpa mempersilakan Budi untuk ikut masuk. Budi agak kebingungan melihat tingkah Devi yang terlihat aneh.
Dari ruang dalam, terdengar suara yang cukup keras dan terdengar kesal.
“Ya, sudah. Taruh saja di meja.”
Devi keluar lagi.
“Ayo kita berangkat,” ajak Devi langsung.
“Aku mau pamit dulu pada Ibu,” ujar Budi, sambil bersiap masuk ke ruang dalam.
“Jangan, Mas!” Devi menahan lengan Budi dengan tangannya.
“Mamah sedang nggak enak hati. Mendingan kita langsung pergi,” tambah Devi.
“Oh. Ayo kalau begitu,” kata Budi sambil mengangguk.
Mereka berangkat tanpa pamit. Ini sudah kesekian kalinya Budi tak bertemu wajah orangtua Devi saat mengajak Devi keluar rumah.
Dari cerita-cerita Devi, Budi tahu bahwa ibu Devi tak suka ia menjalin hubungan dengan anaknya. Alasan ketidaksukaan itu juga sudah diketahui Budi, yaitu karena Devi sudah punya pacar. Ia memang tak menganggap status Devi yang memiliki kekasih itu penting dan serius. Pokoknya selama janur kuning belum melengkung, maka seorang gadis masih bebas menentukan pilihan hati.
Waktu itu saat kencan pertama ...
“Gadis secantik kamu pasti banyak yang suka. Masa belum punya pacar, sih?” tanya Budi setengah merayu.
“Hihihi. Bisa aja, Mas. Pacar pasti ada, dong,” jawab Devi santai. Tak ada niat maupun nada menyombong dalam suara merdunya.
“Oya? Sudah serius, belum?” selidik Budi.
“Serius nggak serius. Yang jelas belum ada rencana nikah,” jawab Devi enteng.
Sebetulnya Erwin sudah beberapa kali menyindir tentang pernikahan, tapi ia selalu menganggap remeh. Ibu juga sudah mendesak agar ia meresmikan hubungan dengan Erwin, tapi Devi tak pernah menanggapi lantaran enggan menikah dengan Erwin.
“Sudah, deh. Mendingan nikah sama aku aja, gimana?” tembak Budi tanpa tedeng aling-aling.
Devi terkejut juga mendapat lamaran di kencan pertama. Tapi rasa kagetnya hanya sebentar, karena debar jantungnya mengalahkan rasa apapun yang sempat muncul.
“Bener nih, Mas?” balas Devi sambil tertawa.
“Bener, dong. Kalau kamu mau, segera aku kenalkan ke orangtuaku. Gimana?” tantang Budi.
Busyet, gerak cepat juga ini cowok. Bisik hati Devi.
“Mau sih, Mas. Tapi baiknya kita saling mengenal dulu,” jawab Devi diplomatis.
Terima lamaran di kencan pertama? Yang benar saja! Devi tak mau dianggap murahan.
***
Teman-teman sekantor Devi heran. Lelaki yang menjemput Devi saat pulang kantor berganti rupa. Sore ini, Rianti dan Diana menyaksikan lagi Budi yang datang menjemput Devi.
“Mas Budi sudah di depan? Sebentar lagi aku keluar,” kata Devi di telepon, saat Budi mengabarkan bahwa ia sudah ada di ruang tunggu kantor.
Setelah menutup telepon, Devi mengemasi tas dan memperbaiki dandanan.
“Wah, Mas yang antar jemput sudah ganti yang baru, Dev?” sindir Rianti, teman seruangan Devi. Sudah beberapa kali ia melihat Devi dijemput Budi, bukan Erwin seperti biasa.
“Tukar tambah kali, Ri. Yang ini kayaknya lebih tokcer,” timpal Diana disertai tawa jail.
“Hah, tahu aja kamu, Na,” sahut Devi ringan. Ia malah tersenyum-senyum bangga.
“Mas Erwin dikemanain, Dev? Padahal kelihatannya si Mas baik, lho,” tambah Rianti kepo.
“Ada. Masih available, tuh. Mau?” tanggap Devi, dengan gaya ala pedagang daring.
Diana tertawa dengan seloroh Devi, sedangkan Rianti melengos.
“Duluan, ya. Aku sudah ditungguin, nih,” pungkas Devi seraya mengenakan sepatu hak tingginya. Ia melenggang pergi.
“Lapar nih, Mas. Makan bakso dulu, yuk,” ajak Devi sambil mengenakan sabuk pengaman di dalam mobil Budi.
“Boleh. Aku juga lapar, Yang,” sahut Budi seraya melajukan mobilnya keluar dari halaman parkir kantor Devi.
Di dalam mobil, mereka mengobrol.
“Kita kan sudah sebulan jalan nih, Yang. Aku mau kamu kenalan sama orangtuaku,” ujar Budi.
“Apa orangtuamu sudah tahu tentang aku, Mas?” selidik Devi.
Mau tak mau, hatinya berdebar juga akan bertemu calon mertua. Perasaan ini tak pernah ia rasakan saat bertemu dengan ibu Erwin. Saat bersama orangtua Erwin, perasaannya datar dan dingin. Bahkan, tak ada bayangan maupun impian bahwa ibu Erwin kelak akan menjadi ibunya juga.
“Tahu, dong. Mereka sudah nggak sabar ingin ketemu kamu. Mendengar ceritaku saja mereka langsung suka kamu,” jamin Budi.
“Betul, nih? Aku sih oke aja. Kapan, Mas?” sambut Devi.
“Akhir pekan ini, ya? Kita makan siang bersama keluargaku,” jawab Budi kontan.
Perasaan Devi berbunga. Masa depannya bersama Budi terbentang di pelupuk mata. ***