Sekarang Erwin ingat wajah si lelaki. Dialah orang di dalam potret yang ditunjukkan Rama tadi siang. Wajahnya terlihat berbeda dengan wajah pada foto, tapi Erwin yakin keduanya orang yang sama.
Erwin sakit hati saat melihat Devi menyambut tangan si lelaki yang terulur, lalu tersenyum semringah ke arahnya. Bergandengan tangan mereka berjalan menuju pintu depan. Tak menyadari bahwa sepasang mata mengamati dari balik jendela rumah.
“Baksonya enak banget ya, Mas,” ujar Devi sambil mengerling si lelaki.
Ya, Tuhan! Kapan Devi pernah menatapnya seperti itu? Rasanya hati Erwin seperti tertusuk pisau tajam. Sakit yang tak berdarah.
“Jelas, dong. Bakso langgananku itu memang legendaris. Sudah ada sejak zaman Papi dan Mamiku pacaran,” timpal si lelaki, dengan senyum yang Erwin yakin bisa membuat wanita mana pun terpesona.
Mata Erwin memanas, namun hatinya jauh lebih panas. Rongga dadanya seolah hangus terpanggang api cemburu.
“Siapa yang datang, Nak?” tanya ibu Devi.
Erwin berbalik dan berhadapan dengan ibu Devi yang muncul dengan nampan di tangan. Ada segelas kopi dan sepiring kecil kue-kue di sana.
“Devi, Mah,” jawab Erwin pelan.
Tatapan ibu Devi jatuh ke belakang Erwin. Calon ibu mertua Erwin itu terkesima. Erwin berbalik badan kembali dan mendapati Devi dan si lelaki sudah berdiri di ambang pintu, bergandengan tangan.
“Eh, Mas Erwin?” Devi bertanya gugup.
Serta merta ia lepaskan genggaman tangan dari si lelaki. Tampak jelas Devi salah tingkah.
“Ehm. Kenalkan Mas, ini Mas Budi,” ujar Devi kikuk.
Bahkan saat memperkenalkan si lelaki, suara Devi agak bergetar.
“Halo, Mas Erwin. Apa kabar?” sapa Budi tenang.
Untuk seorang lelaki yang telah berani berkencan dengan pacar orang, sikap percaya diri Budi sangat luar biasa. Tak ada rasa bersalah sedikit pun pada sikapnya. Sorot matanya bahkan terlihat tenang dan ... menantang.
Erwin menerima jabat tangan Budi dengan spontan. Ia tak mampu berkata-kata. Pemarah bukanlah sifatnya, hingga tak mungkin ia berkata kasar apalagi sampai baku hantam.
Devi memberi kode agar Budi segera pergi dengan sudut matanya. Budi mengangguk kecil melihat kode dari Devi.
“Ibu. Saya pamit dulu, Bu. Mari, Mas Erwin. Saya pulang duluan,” pamit Budi.
Ia mengangguk sopan dengan sedikit membungkukkan badan ke arah ibu Devi yang terdiam di seberang sana. Kemudian kepalanya menoleh ke arah Erwin, lalu memberi pacar Devi itu anggukan kecil. Budi melenggang pergi, meninggalkan tiga orang yang terdiam di dalam ruangan.
Sepeninggal Budi, ibu Devi yang paling dulu bereaksi. Diletakkannya nampan berisi minuman dan makanan di meja, lalu mendekati Devi dengan berkacak pinggang.
“Devi! Apa-apaan kamu pulang sama Budi?” cecar pendukung utama Erwin itu.
“Lah ... Apa salahku, Mah? Mas Budi hanya mengantarku pulang kerja,” jawab Devi tak terima.
Ia merasa tak ada yang salah dengan perbuatannya. Apalagi Budi yang ingin mengantarnya pulang. Lumayan, tumpangan gratis dari cowok ganteng dan seksi. Wanita mana yang bisa menolak?
“Ya, salah! Kamu itu sudah punya pacar. Sebentar lagi tunangan dan nikah!” sahut ibu Devi gemas. Matanya melotot dan bibirnya merengut.
Devi menggaruk-garuk kepalanya, membuat beberapa helai rambutnya keluar dari tatanan sanggul yang rapi.
“Hem, tapi aku kan belum jadi istri orang. Masih bebas, Bu!” sanggah Devi, tak mau kalah.
Erwin terpaku mendengar sanggahan Devi. Hatinya serasa ditusuk besi panjang. Mematung di tempat, Erwin tak ambil bagian dalam perdebatan sengit antara ibu dan anak. Seolah ibu Devi saja sudah cukup menjadi pembawa suara yang mewakili perasaan hatinya.
“Ck! Susah ngomong sama kamu. Sadar apa enggak kalau kamu itu sudah berkhianat!” Ibu Devi berdecak.
“Lah, Mas Erwin aja nggak protes, kok,” balas Devi sambil melengos.
“Terserah kamu saja. Mamah mau masuk dulu,” pungkas ibu Devi, lalu berlalu masuk ke ruang dalam dengan raut wajah yang dongkol.
Sekarang Erwin dan Devi tinggal berdua.
“Apa betul itu, Dev? Kamu selingkuh?” tanya Erwin, matanya lurus menatap ke mata indah Devi.
“Maaf, Mas. Aku ... aku ingin putus saja,” ujar Devi lirih. Pelan diucapkan, namun dahsyat efeknya.
Erwin seketika merasa hancur. Demikian mudah kah Devi tergoda? Erwin jatuh terduduk di sofa. Lututnya lemas tak bertenaga. Begitu cepat semua ini terjadi.
“Mengapa, Dev? Apa salahku?” ujar Erwin, seperti raungan hewan terluka.
Devi ikut duduk di seberang Erwin. Ia mengusap wajah sebelum menjawab, seolah mengumpulkan keberanian sebelum berkata.
“Mas tidak salah. Aku yang salah. Aku sudah tak merasakan apa-apa dalam hubungan ini,” kata Devi hampa. Sorot matanya menatap kosong.
Ada hal yang tak dikatakannya pada Erwin, sebab kejujuran yang utuh akan sangat menyakitkan Erwin. Devi memilih untuk mengungkapkan sebagian saja, agar Erwin tak semakin terpuruk.
Erwin memejamkan mata. Berharap semua ini hanya mimpi. Sayangnya, harapannya bukanlah kenyataan. Dunianya serasa hancur. Lalu sebuah ide terbetik di benak Erwin.
“Aku ingin tetap bersahabat denganmu, Dev. Boleh kan, aku tetap bertemu denganmu?” tanya Erwin penuh harap.
Devi terkesiap. Ia tatap sungguh-sungguh sepasang mata Erwin yang sayu. Ada sorot permohonan di dalamnya.
“Tentu boleh, Mas. Kamu selalu diterima di rumah ini,” ujar Devi iba.
Tapi aku tak diterima lagi di hatimu, bisik hati Erwin sedih.
Devi mengambil tangan Erwin, lalu ia genggam dengan penuh kehangatan. Erwin membalas genggaman itu, lebih hangat dari genggaman Devi.
Azan magrib berkumandang, menyadarkan dua insan yang saling bergenggaman tangan.
“Mas mau salat di sini sekalian?” tawar Devi seraya melepaskan genggaman tangannya.
“Nggak, Dev. Mas pulang saja,” tolak Erwin seraya menggeleng.
Ia bangkit dari duduknya, lalu menarik langkah menuju ruang keluarga Devi.
“Mah. Saya pamit dulu, Mah,” ujarnya sambil berjalan ke ruang dalam.
Erwin mengambil tangan ibu Devi, lalu menciumnya seperti mencium punggung tangan ibu kandungnya. Ibu Devi merasa trenyuh.
“Hati-hati di jalan, Er. Maafkan Devi ya, Nak,” pinta ibu Devi dengan sorot mata berkaca-kaca.
“Ya, Mah. Tentang Devi, selalu aku maafkan dia,” sahut Erwin tegas.
“Saya pamit, Mah,” pungkas Erwin seraya berbalik pergi. Nyeri terasa karena sekarang rumah Devi bukan lagi rumah calon istrinya.
***
Bunyi pintu dibuka menyadarkan Erwin kembali dari lamunan. Kepalanya mendongak menatap jam dinding di atas kulkas. Penunjuk waktu itu telah bergeser satu jam dari sejak ia mulai mencuci.
Cucian di dalam mesin masih mengapung dalam busa. Buru-buru Erwin menekan tuas pembuangan air, membiarkan genangan itu keluar dari selang yang menuju kamar mandi.
“Sudah selesai arisannya, Bu?” sapa Erwin pada ibunya yang muncul dengan wajah berseri.
“Iya. Duh, Ibu senang. Ibu dapat arisan!” cetus Ibu gembira. Senyum lebarnya terbentang hingga gigi geliginya terlihat jelas.
“Wah, Ibu banyak uang,” seloroh Erwin. Ibu tertawa sembari masuk ke dalam kamar.
Erwin memasukkan sprei dan selimut basahnya ke dalam mesin pengering, sementara ia kembali menampung air untuk pembilasan terakhir.
Uang. Apakah karena itu Devi memutuskan dirinya? Karena ia tak cukup kaya bagi Devi? Erwin menggeleng. Devi tak pernah mengeluhkan soal uang selama pacaran, meskipun Erwin tahu Devi memang menyukai barang-barang mewah.
Tangan Erwin sibuk menyelesaikan cucian, tapi ingatan Erwin kembali ke rumah orangtua Devi. Apa kabarnya ibu Devi saat ini? Mungkin beliau sudah bertambah tua dan beruban, seperti ibu kandungnya saat ini. Ah, sudah lama ia tak mengunjungi mantan calon ibu mertuanya.
Rasa rindu tiba-tiba menyeruak di hati. Erwin sangat ingin bertemu kembali dengan ibu Devi yang selalu baik terhadapnya. Ia ingin mengobrol seperti dulu lagi dengan beliau, sekadar bertukar kabar dan cerita.
Cucian selesai dibilas dan dikeringkan. Erwin bergegas menjemurnya di tempat jemuran. Secepatnya ia selesaikan pekerjaan, karena ia ingin segera pergi ke rumah orangtua Devi. ***