Saat itu, Erwin telah menyiapkan kejutan untuk melamar Devi. Ia membeli cincin pertunangan sejak seminggu sebelumnya. Makan malam romantis di restoran favorit Devi sudah ia siapkan jauh-jauh hari. Sayangnya, Erwin harus meneguk pahitnya rasa kecewa lantaran Devi merasa pusing dan tak enak badan.
Demi melipur hati, Erwin memilih diam di rumah dan bermain Play Station.
“Kamu nggak keluar sama Devi malam ini, Er?” tanya Ibu dengan nada suara heran.
Tak biasanya Erwin ada di rumah pada malam minggu. Biasanya, hampir setiap malam Erwin keluar mengunjungi Devi. Pada malam minggu seperti malam ini, putranya tak pernah absen mengajak Devi kencan.
“Nggak, Bu. Katanya Devi sedang nggak enak badan,” jawab Erwin, setelah menghentikan sejenak permainan virtualnya di Play Station.
“Oh,” sahut ibunya singkat. Ibu terdiam dengan dahi mengernyit, sementara Erwin kembali tenggelam dalam permainan maya.
“Kamu betul sudah mantap dengan Devi, Er?” Tiba-tiba ibu Erwin kembali bersuara.
Erwin kembali menghentikan kegiatan. Ia menjeda permainan sebelum berbalik badan dan menatap ibunya sungguh-sungguh.
“Iya, Bu. Bagaimana menurut Ibu?” tanya Erwin dengan tatapan lurus ke mata ibunya.
“Hm. Kamu tahu sejak dulu Ibu merasa kurang pas dengan Devi. Ibu merasa, ia sulit menjadi istri yang baik buatmu,” tutur Ibu serius.
“Begitu ya, Bu. Sampai saat ini, hanya Devi yang aku cinta, Bu,” sahut Erwin pelan.
“Ini hanya pendapat Ibu. Jika kamu ingin dengan Devi, Ibu tak bisa menghalangi. Pernikahanmu kelak, kamu yang akan menjalani,” lanjut Ibu lirih.
Ia tak mau menyakiti anak tunggalnya, tapi juga merasa wajib untuk memberi pendapat tentang keputusan hidupnya kelak.
Erwin mengangguk-angguk tanpa suara. Seperti dugaan ibunya, Erwin tak berniat mundur dari Devi. Akhirnya ibu Erwin pasrah, hanya bisa berdoa agar Allah memberi jodoh yang terbaik untuk anaknya kelak.
***
Setelah penolakan Devi itu, Erwin masih mencoba mengajak Devi makan malam di luar beberapa kali. Akan tetapi, Devi selalu menolak dengan berbagai alasan. Devi hanya mau bertemu jika Erwin mendatangi rumahnya saja, atau Devi yang minta diantar ke suatu tempat.
“Udaranya dingin, Mas. Aku malas keluar. Ngobrol di rumah aja, yuk,” kata Devi suatu kali.
“Bioskop selalu ramai kalau malam minggu. Enggak enak berdesak-desakan. Mendingan makan di rumah, pesan makanan siap antar,” kilah Devi di lain waktu.
“Aku capek, Mas. Seharian banyak urusan. Mendingan nonton teve kabel di rumah aja?” tolak Devi untuk yang kesekian kali.
Erwin heran dengan alasan-alasan Devi yang dirasanya terlalu dibuat-buat. Rasa hatinya ingin protes, tapi ia tak berani. Ia takut Devi ngambek dan marah kepadanya. Akhirnya, lagi-lagi Erwin diam dan mengalah.
Erwin merasa Devi ingin menghindar darinya, tapi ia tak tahu alasannya. Akhirnya, Erwin tak pernah memiliki kesempatan untuk menunjukkan sepasang cincin indah yang sudah dibelinya kepada Devi.
***
Di kantor, Erwin menjadi sering melamun. Erwin memikirkan cara agar Devi mau diajak keluar lagi olehnya. Ia harus melamar gadis pujaan hatinya. Lama berpikir, akhirnya Erwin menemukan solusi.
Mungkin aku lamar saja dia kepada orangtuanya secara langsung. Mungkin Papah dan Mamah akan menerimaku.
Erwin memikirkan kemungkinan itu sambil mencoret-coret kertas di hadapannya. Tiba-tiba Rama, teman sekantornya yang juga teman masa SMU-nya, datang menghampiri. Rama duduk di sebelah Erwin dengan sikap tubuh yang serius.
“Kamu sudah putus dengan Devi, Er?” tanya Rama.
Erwin tersentak. Sama sekali ia tak menduga Rama akan bertanya begitu. Sebagai teman satu sekolah, Rama tentu tahu akan hubungan Erwin dan Devi yang terbina sejak mereka masih sama-sama sekolah. Hanya saja Erwin tak menyangka, tanpa angin tanpa hujan, Rama datang dengan pertanyaan tentang hubungan cintanya.
“Enggak. Kok kamu tanya begitu?” balas Erwin, bingung dengan pertanyaan Rama yang dirasanya janggal.
“Oh. Kukira sudah putus ...” sahut Rama menggantung.
Kemudian Rama diam beberapa saat. Tatapannya seperti merenung, sedangkan kedua alisnya bertaut lantaran dahi yang mengernyit.
“Memangnya kenapa? Ada apa, sih?” selidik Erwin. Ia mulai merasa ada yang mengganjal.
“Ehm. Jadi begini, kemarin aku jalan-jalan bersama istri dan anakku ke mall Tunjungan Plaza,” jawab Rama, memulai pengakuan.
Erwin terus mengamati Rama, sekarang dengan konsentrasi penuh.
“Aku lihat Devi jalan sama cowok lain,” tutur Rama dengan berat hati.
Rama tak suka mengatakan hal itu, tapi sebagai teman sedari remaja ia tak tega untuk tak melaporkan tingkah Devi kepada Erwin.
Erwin terperanjat. Devi selingkuh? Rasanya ia tak percaya. Devi sama sekali tak pernah berselingkuh selama ini. Betulkah berita yang dibawa Rama?
“Kamu salah lihat, kali,” tangkis Erwin, mencoba menolak kenyataan.
Rama menghela napas. Reaksi Erwin saat mendengar kabar yang tak mengenakkan ini sudah dicurigainya.
“Aku berpapasan dengan Devi, lalu aku sapa dia. Kami sempat mengobrol,” tambah Rama berusaha meyakinkan Erwin.
Rama berpikir sudah saatnya Erwin bangun dari mimpi. Ia harus mau menerima kenyataan, bahwa kekasihnya tak sepolos dan sebaik yang dipikirkan oleh Erwin selama ini.
“Dengan siapa dia? Apa mungkin saudara jauhnya?” gumam Erwin pelan.
Bahkan setelah mendapat kabar dari teman yang dapat dipercaya, Erwin masih mencoba berprasangka baik pada Devi.
Rama mendesah prihatin saat mendengar gumaman Erwin. Sesaat kemudian Rama meraba kantung baju seragam kantornya, lalu mengeluarkan ponsel dari sana.
“Lihat ini. Aku sempat memotret Devi bersama teman jalannya. Mungkin kamu kenal dengannya?” ujar Rama lagi.
Erwin melihat layar ponsel Rama. Di sana terpampang foto Devi yang sedang bergandengan tangan dengan seorang lelaki tampan. Erwin belum pernah melihat lelaki itu sebelumnya. Erwin terpaku.
“Aku kirim foto ini ke ponselmu, ya. Mungkin foto ini ada gunanya,” lanjut Rama lagi.
Erwin tak menggubris ucapan Rama. Matanya terus memandangi foto kekasihnya dengan lelaki lain itu.
***
Semenjak melihat foto Devi di ponsel Rama, Erwin menjadi gelisah. Pekerjaannya tak ada yang beres pada hari itu. Sepanjang hari Erwin hanya menantikan waktu pulang kantor tiba. Ia ingin secepatnya menemui Devi dan menanyakan hal tersebut.
Betulkah Devi sudah berselingkuh? Ia harus bertanya pada Devi secara langsung. Mendengar kebenaran dari bibir Devi sendiri. Ia tak mau hanya termakan hasutan atau tersiksa oleh prasangka.
Erwin bahkan tak repot-repot pulang ke rumah dulu sepulang kerja. Ia langsung menuju rumah Devi, masih dengan seragam kantor yang melekat di tubuhnya.
“Lho, Nak Erwin? Tumben datang sore-sore begini,” sapa ibu Devi heran, saat membukakan pintu bagi Erwin.
“Iya, Mah,” Erwin memaksakan diri untuk tersenyum.
Daun pintu dibuka lebar-lebar, dan ibu Devi menyilakan Erwin untuk masuk.
“Ada yang ingin saya bicarakan dengan Devi. Devi ada kan, Mah?” tanya Erwin setelah duduk.
“Hem. Devi belum pulang kantor. Mungkin sebentar lagi. Mau Ibu buatkan teh atau kopi?” tawar Ibu Devi.
“Nggak perlu repot-repot, Mah,” jawab Erwin, sopan berbasa-basi.
“Nggak repot,” balas ibu Devi.
Ibu Devi menghilang ke ruang dalam, meninggalkan Erwin tercenung sendiri di ruang tamu. Erwin mengusap keringat di pelipisnya. Niat hati ingin segera bertemu Devi, ternyata Devi belum pulang dari bekerja.
Tentu saja Erwin tahu, bahwa sudah tiga bulan Devi bekerja sebagai bagian humas di sebuah bank swasta yang cukup terkenal. Akan tetapi, setahu Erwin jam kerja Devi selesai pada pukul empat sore.
Erwin menyalakan layar ponsel, demi mengecek jam digital yang tertera pada gawai. Pukul lima lewat lima belas menit. Seharusnya Devi sudah sampai di rumah. Ke mana dia? Apa mungkin Devi lembur? Erwin bertanya-tanya dalam hati.
Sebuah mobil menderu masuk ke halaman rumah Devi. Mobil itu parkir tepat di belakang sepeda motor Erwin. Mau tak mau perhatian Erwin tercurah pada mobil yang baru masuk. Mobil tamu kah itu?
Seorang lelaki bertubuh tinggi keluar dari pintu supir. Wajahnya seperti tak asing bagi Erwin, tapi siapa? Sementara Erwin mengingat-ingat, lelaki itu berjalan ke arah pintu penumpang depan, lalu membukakan buat seseorang yang duduk di dalamnya.
Kaki jenjang bersepatu hak tinggi keluar lebih dulu, sebelum sosok Devi yang mengenakan seragam sebuah bank swasta top keluar dari mobil. Erwin terperanjat.***