Sayang Bukan Cinta

1092 Kata
Erwin bangun kesiangan. Itu pun dibangunkan oleh ibunya. “Erwin, Erwin! Kamu sudah salat subuh, belum?” tanya Ibu seraya mengguncang kaki Erwin. Erwin bergeming, ia tetap mengorok seolah tak merasakan goyangan besar pada tubuhnya. Ibu Erwin mendengkus, lalu beranjak pergi ke kamar mandi. Di sana, ibu Erwin membasahi tangan dengan segenggam air, lalu kembali ke ranjang putranya. Tangan yang basah itu diusapkan pada permukaan wajah Erwin, hingga membuat pemuda itu gelagapan. Sepasang mata Erwin mengerjap beberapa kali lantaran terkena air yang dingin. Seketika Erwin terduduk di kasur. Ia mengucek mata beberapa kali, sementara ibunya duduk di tepi ranjang. “Bangun, Er! Matahari sudah tinggi ini. Kamu sudah salat, belum?” Cecar ibu Erwin lagi, mengulang pertanyaan yang sebelumnya terabaikan. Erwin menggeleng lemah. Wajar saja Erwin bangun kesiangan, ia baru dapat terlelap pada pukul tiga dini hari. Sekarang tubuhnya terasa lemas tak bertenaga, lemas yang khas dari seorang yang kurang tidur malam. Masih ditambah lagi dengan mimpi yang dialaminya semalam, mimpi lelaki dewasa. “Cepat salat! Mentang-mentang hari libur, bangunnya siang,” titah ibu Erwin seraya mengomel. Erwin tak menjawab. Pelan-pelan ia singkap selimut, agar tak terlihat noda di atas kasur. Meskipun telah berumur setua ini, tetap ada rasa malu di hati Erwin bila ibunya mengetahui bahwa ia telah bermimpi basah. Semua ini akibat ia terlalu lama melamunkan Devi sebelum tidur. Ia turunkan kaki ke lantai, lalu bangkit pelan-pelan. Setengah sempoyongan Erwin menyeret langkah ke kamar mandi. Sementara ibu Erwin turut melangkah ke arah ruang makan. Di ruang makan, ibu Erwin menyiapkan sarapan untuk putra tunggal kesayangannya. Lontong kari ayam kesukaan Erwin sudah dimasak selepas subuh. Sementara tangan ibu Erwin cekatan menuang kuah kari ke dalam mangkuk, bunyi gebyar-gebyur air terdengar keras dari kamar mandi. Ibu Erwin tersenyum simpul. “Jadi Erwin langsung mandi, baguslah,” gumam ibu Erwin senang. Biasanya, Erwin malas mandi pada hari libur. Erwin baru akan mandi setelah azan Zuhur berkumandang, atau bahkan tidak mandi sama sekali. Hanya jika ada rencana untuk keluar rumah, barulah Erwin akan mandi sebelum pergi. Berselang beberapa menit, ada bunyi derit pintu kamar mandi yang dibuka. Erwin sudah selesai mandi. “Selepas salat, sarapan di ruang makan ya, Er. Ibu tunggu!” teriak ibu Erwin dari ruang makan. “Baik, Bu,” sahut Erwin dengan suara serak, khas orang baru bangun tidur. Lima menit ibu Erwin menunggu, sebelum akhirnya Erwin muncul dengan rambut basah yang sudah disisir rapi. Wajahnya teduh dan bersih, membuat tenang siapapun yang memandang. Sambil menemani Erwin makan, ibu Erwin membuka percakapan. “Er, kamu sudah berapa lama diangkat jadi ASN?” “Kurang lebih setahun, Bu. Kenapa?” tanya Erwin heran, matanya melirik sekilas ke wajah tua sang ibu. “Kerja sudah mapan, apalagi yang ditunggu?” tanya ibu Erwin, menjurus pada hal yang Erwin paham. Apalagi kalau bukan soal pernikahan. Bagi kebanyakan orangtua, bukankah melepas anak dalam mahligai rumah tangga merupakan impian terbesar? Erwin mengangguk-angguk. Teringat akan janjinya pada Saras semalam. Erwin merasa mendapat pucuk dicinta ulam tiba. Sekaranglah waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu dengan Ibu. “Ya, Bu. Sebetulnya, Erwin sedang dekat dengan seorang gadis,” jawab Erwin tenang. “Gadis dari Purworejo itu, ya? Yang sering kamu ajak jalan?” Ibu Erwin tersenyum saat bertanya. Erwin memang belum pernah mengajak Saras bertemu ibunya, sehingga sang ibu tak pernah tahu dan kenal dengan Saras. Hanya dari cerita-cerita Erwin perihal kegiatannya yang membuat ibu Erwin tahu tentang Saras. “Iya, Bu. Mungkin dia cocok menjadi menantu Ibu,” angguk Erwin. “Coba kamu bawa ke rumah. Kalau sudah sama-sama cocok, tinggal tentukan tanggal hari jadinya saja,” sahut ibu Erwin antusias. Erwin menyaksikan binar terang dalam kedua bola mata sang ibu. Tersirat kebahagiaan yang jarang tampak pada kedua mata tuanya. Seketika Erwin merasa bersalah, lantaran tak peka akan keinginan ibunya selama ini. Erwin semakin mantap untuk melamar Saras secepatnya. “Ya, Bu. Mungkin besok atau lusa Erwin kenalkan Saras kepada Ibu,” janji Erwin. “Ibu tunggu, Er,” balas Ibu dengan rona wajah bahagia yang tak disembunyikan. Ibu Erwin tersenyum-senyum senang. Ia tak menyangka, semudah itu membujuk Erwin untuk menikah. Selama ini, Erwin selalu mengelak setiap kali disinggung soal pasangan hidup. Pastilah Erwin sudah merasa cocok dengan gadis bernama Saras itu. Impiannya untuk menimang cucu akan segera kesampaian. Kalau mendengar cerita Erwin, sepertinya Saras gadis baik-baik. Berbeda dengan Devi yang terkesan nakal. Sedari dulu ibu Erwin tak pernah ikhlas Erwin berpacaran dengan Devi. Akan tetapi, ia tak berdaya untuk meminta Erwin mencari gadis lain. Ketika Erwin putus dengan Devi, ibu Erwin sampai sujud syukur saat mengetahuinya. Erwin menghabiskan sarapannya. Perut kenyang membuat perasaannya lebih baik. Ibunya bangkit berdiri setelah melihat Erwin mengosongkan mangkuk dan meletakkan sendok. “Ya sudah kalau begitu. Ibu ada arisan ke rumah tetangga sebentar lagi. Ibu mau siap-siap dulu.” “Hati-hati ya, Bu. Apa perlu Erwin antar?” tanya Erwin seraya bangkit berdiri. “Nggak usah. Cuma di sebelah rumah kok arisannya,” tolak ibunya. Ibu Erwin melenggang menuju kamar, sedangkan Erwin membawa mangkuk bekas makannya ke bak cuci piring. Ia langsung mencuci mangkuk itu. Kebiasaan mencuci peralatan makan dan baju sendiri sudah biasa Erwin kerjakan semenjak remaja, karena ia tak mau menyusahkan sang ibu. Sambil mengeringkan tangan yang basah bekas mencuci, barulah Erwin teringat akan spreinya yang ternoda. Ia berniat untuk mencucinya sekarang juga. “Er, Ibu pergi dulu. Kamu mau pergi nggak nanti?” tanya ibu tiba-tiba. Mendadak saja Ibu sudah muncul dengan pakaian lengkap untuk arisan. “Belum tahu, Bu. Sebaiknya ibu bawa kunci untuk jaga-jaga,” saran Erwin. Setelah ibunya pergi, Erwin mencuci sprei dan selimutnya yang kotor. Sambil menunggu mesin cuci berputar, lamunan Erwin kembali kepada Saras dan Devi. Wajah kedua wanita itu silih berganti membayangi benak Erwin. Ekspresi Saras yang menyatakan cinta dan menodongnya untuk menikahi terbayang lagi di pelupuk mata Erwin. Sebentar lagi gadis tersayang itu akan menjadi istrinya. Ia memang menyayangi Saras, seperti ia menyayangi adik yang tak pernah ia miliki. Untuk satu hal Erwin yakin, ia sayang dan bukan cinta pada Saras. Wajah Devi tiba-tiba menyingkirkan wajah Saras. Senyum manisnya di bioskop kembali terbayang. Bahkan sampai saat ini, Erwin masih menyimpan cinta kepada sang mantan terindah. Hari ketika Devi memutuskannya terasa bagaikan kiamat. Langit runtuh di atas Erwin. Nyeri di hatinya bahkan masih terasa hingga kini. Apabila ia ingat kembali, sikap aneh Devi sudah mulai terasa sejak malam itu. Ya, malam itu ketika ia berencana melamar Devi dengan cincin yang dipilihnya secara cermat. Rangkaina peristiwa itu, sekarang berputar lagi dalam kepala Erwin. Jernih dan jelas. Erwin tercekam kenangan, tak menghiraukan mesin cuci yang telah lama berhenti berputar. Saat itu ... ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN