Perkenalan Devi dengan Budi menjadi titik balik hubungan Erwin dan Devi. Devi merasa sudah menemukan orang yang tepat. Sudah waktunya ia meninggalkan Erwin.
Namun, untuk melepaskan Erwin begitu saja tidaklah semudah membuang kotak bekas minuman kemasan. Oleh karena itu, Devi berencana untuk pelan-pelan menjauhi Erwin. Sementara itu, ia akan terus berhubungan dengan Budi. Jika suatu saat perselingkuhannya diketahui, ia akan memiliki alasan untuk putus.
Seminggu setelah berkenalan dengan Budi, perubahan sikap Devi langsung terjadi. Sayangnya, Erwin yang sudah dibutakan cinta terlalu percaya pada Devi. Ia tak bisa melihat perubahan sikap Devi, karena sejak dulu Devi memang tak acuh terhadapnya.
“Dev, nanti malam aku jemput, ya. Kita makan di restoran kesayanganmu seperti biasa,” ujar Erwin melalui saluran telepon pada suatu siang. Suaranya terdengar riang dan gembira.
“Maaf, Mas. Kepalaku agak pusing, badanku juga nggak enak. Lain waktu saja, ya,” bohong Devi pada Erwin.
Sengaja ia buat suaranya menjadi lemas agar penyamarannya menjadi sempurna. Malam ini, ia ada janji dengan Budi untuk keluar bersama. Kencan pertama. Ada debar-debar di d**a yang tak biasa dirasakan oleh Devi, setiap kali mengingat rencananya untuk keluar bersama Budi.
“Sakit, Dev? Semoga kamu cepat membaik, ya,” balas Erwin dari seberang sana, suaranya sungguh-sungguh mencemaskan keadaan Devi.
“Iya, Mas. Mudah-mudahan besok sudah sembuh. Nggak apa-apa kan hari ini kita batal keluar?” ujar Devi, berbasa-basi agar tak terlihat kasar.
“Hmmm. Sebetulnya malam ini ada yang ingin Mas sampaikan. Tapi nggak apa-apa, deh. Kita masih bisa ketemuan besok. Ya, kan?” tutur Erwin, terdengar jelas kecewa.
Dalam suara Erwin, tersirat harapan yang sangat besar. Mendengar perkataan itu, rasa enggan menghinggapi hati Devi. Ia sudah malas untuk sering bertemu Erwin lagi. Ia harus mengarang alasan lain jika besok Erwin ingin mengajak kencan lagi.
“Iya, Mas. Semoga besok bisa,” jawab Devi akhirnya, setelah terdiam beberapa saat untuk berpikir.
“Mas ke sana sekarang, ya? Aku khawatir karena kamu sakit,” lanjut Erwin lagi.
Kali ini suaranya menyiratkan kepedulian yang tak dapat disembunyikan. Devi langsung panik. Matanya melotot dan telepon digenggamnya lebih erat. Ia tak mau dikunjungi oleh Erwin. Dari ibunya, Erwin akan tahu bahwa Devi tidak sakit. Kebohongannya akan terbongkar.
“Jangan, Mas. Aku mau istirahat dan tidur saja. Semoga setelah bangun sakit kepalaku hilang dan badanku terasa enak,” tolak Devi.
Tak ada tanggapan suara dari Erwin. Devi tak dapat melihat, gurat kekecewaan muncul di wajah Erwin di seberang sana. Saking kecewa, Erwin sampai tak bisa mengatakan apa-apa.
Andai Devi ada di sebelah Erwin, ia akan melihat tangan kiri Erwin menggenggam erat sebuah kotak kecil berlapis kain beludru merah dan berbentuk hati. Di dalamnya, ada sepasang cincin yang baru saja Erwin beli. Kejutan yang akan ia persembahkan buat Devi.
“Halo, Mas?” panggil Devi, setelah beberapa detik berlalu tanpa ada suara.
“Iya, Dev. Tidur yang nyenyak, ya. Nanti Mas telepon lagi. Mas cinta kamu,” sahut Erwin akhirnya.
“Iya, Mas. Makasih. Sudah dulu, ya. Kepalaku tambah pening,” pungkas Devi sebelum menutup telepon.
Setelah mengakhiri sambungan, Devi mengembuskan napas lega. Sekarang ia bebas untuk bersiap-siap untuk acara besarnya nanti malam. Bibir Devi menyunggingkan senyuman, sementara matanya memancarkan binar yang tak biasa.
“Apa itu dari Erwin?” tanya ibu Devi yang memergoki putrinya tersenyum-senyum sendiri.
“Iya, Mah,” jawab Devi singkat.
Devi melangkah masuk ke dalam kamarnya, sambil bersenandung lagu yang tak jelas. Keceriaan Devi membuat ibunya turut tersenyum, salah paham akan penyebab kegembiraan Devi.
***
Lepas salat magrib, Ibu Devi duduk tenang di depan teve berdua dengan ayah Devi. Mereka mengobrol santai.
“Tinggal Devi yang sebentar lagi menikah,” ujar ayah Devi.
Dari suaranya, ada harapan akan lepasnya sebuah tanggung jawab terakhir. Tiga kakak Devi yang lain sudah menikah, masing-masing tinggal di kota lain.
“Sebentar lagi kayaknya, Pah. Erwin kan sudah kerja, Devi juga sudah lulus,” timpal ibu Devi dengan suara senang.
Tepat setalah ibu Devi selesai berkata, bel pintu berbunyi.
“Oh, itu mungkin Erwin,” cetus ibu Devi kalem.
Belum sempat sang ibu memanggil Devi untuk keluar membukakan pintu, Devi sudah lebih dulu muncul dengan penampilan rapi dan memesona. Ibu Devi sampai terheran-heran, karena tak biasanya Devi berdandan secantik itu.
Devi melenggang ke pintu depan, dengan iringan tatapan terbengong dari kedua orangtuanya.
“Dandanan Devi seperti mau ke pesta,” celetuk ayah Devi. Tak biasanya lelaki tua itu mengomentari dandanan putrinya.
“Mungkin Erwin memang mau mengajaknya ke pesta,” sahut ibu Devi, menebak-nebak.
Dari ruang keluarga, ayah dan ibu Devi mendengar Devi mempersilakan masuk tamunya.
“Masuk dulu, Mas,” ujar Devi dengan suara manis.
“Iya, Dev. Makasih,” jawab suara lelaki yang tak dikenal.
Ayah dan ibu Devi saling berpandangan di ruang keluarga. Sorot mata keduanya menyiratkan pertanyaan yang sama. Tamu itu bukan Erwin. Siapa dia?
Devi kembali masuk ke ruang keluarga, menemui ayah dan ibunya.
“Lho, Dev. Siapa itu yang datang? Kok bukan Erwin?” tanya ibu Devi sebelum Devi sempat berbicara.
“Ehm, Mamah dan Papah aku kenalkan pada Mas Budi, ya,” Devi cengengesan.
Ibu Devi mengernyitkan dahi. Belum hilang keheranan ibunya, Devi sudah menghilang kembali ke ruang tamu. Tak lama kemudian, masuklah Budi ke ruang keluarga Devi.
“Selamat malam, Bapak dan Ibu,” sapa Budi sopan ketika muncul.
Ia menyalami tangan ayah dan ibu Devi di tempat duduknya. Ayah dan ibu Devi menerima jabat tangan Budi dengan tatapan terpana karena terkejut.
“Saya Budi, teman Devi,” lanjutnya lagi.
Ayah Devi mengamati Budi sejenak.
“Duduk dulu,” titah ayah Devi.
Budi duduk di kursi yang berseberangan dengan ayah dan ibu Devi. Devi ikut duduk di kursi sebelah Budi. Cara duduk Budi sopan dan santun, kepalanya sedikit ditundukkan agar tak menentang pandangan kedua orangtua di hadapannya. Meskipun di bawah tatapan mata menyelidik dari kedua orangtua Devi, tak tampak kegentaran dalam bahasa tubuh Budi. Ia tenang dan percaya diri.
“Bapak belum pernah lihat Nak Budi. Kenal di mana dengan Devi?” ujar ayah Devi, memulai interogasi.
“Di acara pernikahan keluarga saya baru-baru ini, Pak,” jawab Budi takzim, bahkan saat menjawab kepalanya masih ditundukkan dengan sopan.
“Oh, iya. Mamah ingat, kamu ini keponakan Pak Atmadja yang ada di pesta hajatan tempo hari, kan?” cetus Ibu Devi spontan.
Sekarang ia ingat dengan wajah Budi. Pantas saja tadi ia merasa pernah bertemu Budi entah di mana. Sekarang kilasan peristiwa di acara pesta kemarin dulu terulang kembali dalam ingatan ibu Devi.
“Betul, Bu. Senang rasanya Ibu masih ingat saya,” balas Budi lagi. Saat berbicara, ia menganggukkan kepala dan sedikit menundukkan tubuh.
“Kerja di mana?” Ayah Devi melanjutkan interogasi.
“Saya kerja sendiri, Pak. Wirausaha. Saya memiliki tiga puluh gerobak mie ayam yang dibawa keliling oleh orang lain,” jawab Budi datar.
Jika Budi merasa bangga pada usahanya, maka hal itu tak ia tampakkan. Suaranya tenang dan tak ada nada pamer sedikitpun. Dengan begitu, ia terlihat rendah hati.
“Wah, hebat! Masih muda sudah jadi juragan,” cetus ayah Devi spontan, tak dapat menyembunyikan rasa kagumnya.
“Kami mau keluar malam ini Pah, Mah,” kata Devi yang sudah tak sabar dengan semua basa-basi. Setelah beberapa menit menahan diri, akhirnya ia bersuara.
“Saya minta izin membawa keluar Devi sebentar, Pak, Bu,” ujar Budi menimpali.
“Mau pergi ke mana rencananya?” tanya Ayah Devi dengan suara biasa, tapi jelas ia tak begitu saja membiarkan anaknya dibawa orang yang baru dikenal.
“Tidak jauh, Pak. Hanya ke kafe Le Meridien di Jalan Suprapto. Dalam dua jam kami sudah kembali,” janji Budi.
“Baik. Hati-hati, ya,” pungkas ayah Devi seraya mengangguk.
“Pergi dulu, Pak, Bu,” pamit Budi. Kemudian, ia kembali menyalami tangan ayah dan ibu Devi.
Devi dan Budi berlalu di bawah pengawasan ayah dan ibu Devi. Kedua orangtua itu masih diam bahkan setelah suara mesin mobil Budi keluar dari halaman rumah.
“Memangnya Devi putus sama Erwin?” tanya ayah Devi, akhirnya memecah kesunyian diantara ia dan ibu Devi.
“Setahu Mamah sih nggak, Pah. Mamah juga heran, kok Devi malah jalan sama lelaki lain?” balas ibu Devi, tak kalah bingung dengan ayah Devi.
“Jika anak tadi jujur, maka dia lebih mapan daripada Erwin,” celetuk ayah Devi.
“Tapi Erwin dan Devi sudah lama pacaran. Erwin anak yang baik,” sanggah ibu Devi, membela calon menantu kesayangannya.
“Siapa keluarganya tadi kata Mamah?” Ayah Devi tak menggubris sanggahan sang istri.
“Keponakan Pak Atmadja, yang tempo hari menikahkan anaknya di gedung Wanita Candra Kencana itu lho,” jawab ibu Devi.
“Oh, Pak Atmadja,” sahut ayah Devi.
Kemudian kedua orangtua itu terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing tentang putri bungsu mereka.
***