Waktu bergulir. Erwin telah lulus kuliah. Bahkan Erwin baru saja diangkat menjadi salah satu ASN di kantor pemda setempat. Devi sendiri akhirnya lulus dari kampus. Ia sedang mengajukan lamaran pekerjaan ke beberapa bank swasta yang cukup terkenal di kota mereka.
Dalam usia cukup dewasa itulah ia bertemu Budi, ketika diajak oleh ibunya menghadiri sebuah acara pesta pernikahan.
“Sttt... Itu, itu... yang paling cantik,” bisik satu orang dari tiga lelaki yang berkasak-kusuk di sudut ruangan.
Lelaki itu bertubuh tinggi dengan ketampanan wajah yang sulit diingkari. Lelaki berwajah ningrat khas bangsawan Jawa, membius siapapun yang menatap wajahnya. Dengan sekilas pandang saja orang dapat menduga, bahwa lelaki itu merupakan lelaki pilihan yang sulit dicari tandingannya. Dialah Budi.
Dua teman di samping Budi juga tampan, namun sinar wajah mereka kalah pamor dari Budi. Apabila diibaratkan, kedua teman Budi itu bagai sinar bintang diantara sinar bulan purnama.
Budi, Santoso, dan Damar. Ttiga lelaki berbadan tegap berwajah rupawan dalam balutan kemeja batik berkumpul di satu sudut. Saat ini, ketiga lelaki ini berada dalam sebuah aula besar yang telah disulap menjadi ruangan pernikahan mewah dan elegan. Tak kurang dari tiga ribu tamu undangan memadati ruangan besar yang kini terasa sempit, akibat penuh sesak dengan orang yang hilir mudik.
Pesta pernikahan ini bahkan dihadiri oleh para wartawan setempat. Tidak mengherankan, karena pemilik hajatan merupakan orang nomor dua di jajaran pemerintahan daerah setempat.
Konsep pernikahan telah dipersiapkan dengan cermat. Semuanya diatur oleh penyelenggara pernikahan dari sebuah wedding organizer yang terkenal dari ibu kota. Selain menata ruangan, mereka juga mengatur beberapa titik di dalam ruangan sebagai tempat untuk berpose dan berselfie para tamu. Titik-titik yang tampilannya sangat indah jika hasil fotonya dipajang di akun sosial berbasis foto.
Tidak hanya sampai di situ, pemilik hajat dan tamu undangan juga diatur dengan kode busana pada perhelatan spesial ini. Sepasang pengantin dan keluarga diberi kode warna busana putih tulang, sedangkan para tamu undangan disarankan menggunakan kode busana merah marun. Dengan pembagian warna busana ini, status orang di dalam ruangan menjadi terpetakan dengan mudah.
Sudut yang menjadi tempat Budi dan kedua temannya berdiri merupakan sebuah ceruk untuk berselfie atau berwefie bertemakan pantai. Latar berupa potret suasana pantai yang sangat mirip aslinya terpasang rapi. Di bagian depan potret, dihamparkan pasir putih asli yang didatangkan dari pantai pilihan, lengkap dengan kerang-kerang berukuran besar sebagai hiasan.
“Cantik banget, kan? Nggak kalah dari artis...” bisik Budi.
Kedua rekannya melirik tiga gadis di seberang tempat mereka berdiri. Tiga gadis cantik dalam balutan gaun seksi tengah asyik berwefie di titik bertema kereta kuda kerajaan. Wajah-wajah putih mereka merona merah, hasil polesan pemerah pipi yang sempurna.
Ketiganya sama cantik dan menawan. Akan tetapi, ada seorang yang kecantikannya lebih menonjol. Dia yang berkulit putih mulus, dengan rahang bagus, hidung mancung, dan tubuh semampai dengan pinggang yang ramping. Tubuhnya membesar pada bagian-bagian tertentu, membangkitkan hasrat lelaki.
“Si cantik itu buatku saja. Kamu kan sudah punya pacar,” sergah teman Budi yang bernama Santoso.
“Wah, nggak bisa. Aku yang melihatnya pertama kali. Lagipula, pacar yang mana yang kamu maksud?” tukas Budi.
“Ish... Berkenalan saja belum, sudah rebutan cewek,” timpal Damar.
Kedua temannya tertawa geli, merasa konyol sendiri.
“Ayo kita dekati,” Budi bergerak menuju ke arah ketiga gadis itu.
Ketiga lelaki itu beranjak mantap ke arah tiga perawan di depan. Tatkala sudah mendekati buruan, ketiga gadis itu menatap mereka penuh harapan. Hati ketiga lelaki itu pun buncah kesenangan.
“Mas, mas... Tolongin kita, dong,” kata gadis bertubuh pendek dengan senyum centil, Luna.
“Tolong potretkan kami bertiga, yaaa,” lanjut Devi. Diantara kedua sahabatnya, ia yang paling cantik dan seksi.
Devi memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi memesona.
“Ini ponsel kami,” tambah Melia, gadis berwajah tirus.
Ternyata arti tatapan penuh harap itu karena tiga dara cantik tersebut ingin minta bantuan. Sigap, Budi menerima ponsel-ponsel dari tangan-tangan halus bak putri raja di depannya.
“Siap-siap, ya! Satu... Dua... Tiga!” Budi memberi aba-aba sebelum memotret.
Tiga gadis centil di depannya berpose dengan senyum manis yang disengaja agar tampak imut. Tak cukup sekali, rupanya mereka meminta difoto sampai belasan kali. Budi sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis-gadis itu berwefie.
“Asyik, tinggal cari pose yang paling oke. Terus unggah, deh!” Cetus Melia ketika menerima ponselnya kembali ke tangannya.
Devi dan Luna juga menerima ponsel dari tangan Budi, kemudian asyik memilah dan memilih foto-foto yang baru saja diambil. Budi dan kedua temannya dibiarkan begitu saja, seolah-olah mereka tak pernah ada sebelumnya.
“Uhuk...” Budi berpura-pura batuk, sekadar mencari perhatian. Barulah ketiga gadis itu tersadar.
“Oh, eh... sampai lupa bilang terima kasih,” Luna meringis malu. Wajahnya yang sudah merona merah terlihat semakin merah menahan rasa sungkan.
“Oh, iya! Makasih banyak, Mas,” Devi mengerling penuh pesona.
Hati lelaki Budi berdegup lebih kencang saat melihatnya. Baru kali ini ia merasa begitu terpesona pada seorang gadis cantik. Devi terlihat berbeda di matanya.
“Boleh kenalan nggak, Mbak?” Tanya Budi, matanya terus menatap Devi.
“Boleh, dong. Namaku, Devi.”
Devi mengulurkan tangan dengan anggun, tak lupa senyum menawan tersungging di bibirnya.
“Aku, Budi...” Budi menyambut uluran tangan halus itu. Ia melihat tak ada cincin di jari-jari lentik gadis itu. Hatinya bungah. Ia pegangi terus tangan lembut itu tanpa sadar.
“Ehem,” Damar yang berada di sebelah Budi berdehem keras, cukup untuk menyadarkan Budi dari khayalannya.
Budi melepaskan tangan Devi dari genggamannya. Ia mengalihkan pandangan ke arah dua gadis lainnya.
“Melia,” si gadis tirus berkata.
“Luna,” si gadis pendek ikut menyebutkan nama.
“Santoso,” teman Budi menyelutuk begitu saja.
“Damar,” ujar Damar yang tak mau kalah.
Selanjutnya, mereka bertukar nomor ponsel dan mengobrol sekadar basa-basi. Kemudian, mereka terlibat percakapan yang lebih akrab. Bahkan mereka mengambil hidangan pesta bersama-sama.
“Tamu dari pengantin perempuan?” Tanya Budi pada Devi. Devi menggeleng manis.
“Ibu dari pengantin perempuan sahabat ibuku,” katanya jujur.
Jadi, dia ke sini bersama ibunya, cetus hati Budi.
“Mas Budi teman pengantin lelaki?” Devi balik bertanya.
“Aku sepupu dari pengantin lelaki,” jawab Budi. Devi terbelalak sesaat.
“Oh, pantas saja kemeja batik Mas Budi berlatar warna gading,” celetuk Devi sambil mengamati kemeja batik yang dikenakan Budi.
“Devi, Devi...” Suara perempuan paruh baya memanggil Devi.
“Mamah...” Devi tersentak.
Devi menoleh ke arah sumber suara, seorang perempuan yang masih terlihat cantik di usia menjelang senja. Kebayanya terlihat sangat serasi dengan kain dan warna kulitnya. Melihat perempuan berkebaya itu, Budi menjadi tahu dari mana kecantikan Devi berasal.
Devi beranjak menyambut ibunya. Entah mengapa, Budi tertarik untuk mengikuti Devi. Ia dilanda perasaan yang kuat untuk mengenalkan diri kepada ibunya Devi.
Devi yang melihat Budi mengikuti, mau tak mau mengenalkan Budi kepada ibunya.
“Ini Mas Budi, Mah. Sepupu dari pengantin lelaki,” kata Devi.
Wajah ibu Devi mendadak cerah.
“Oh, keponakan Pak Atmadja, toh. Sama gagah dan gantengnya,” puji ibu Devi spontan.
“Ibu bisa saja. Terima kasih, Ibu,” kata Budi sopan.
“Oh iya, Dev. Mamah mau mengenalkanmu pada sahabat lama,” kata Ibu Devi yang mendadak teringat tujuannya memanggil Devi.
“Kami ke sana dulu, Mas. Permisi,” Devi menoleh ke arah Mas Budi.
“Nanti aku telepon, ya,” ucap Budi begitu saja.
Devi mengangguk, heran dengan keakraban yang diperlihatkan lelaki yang baru dikenalnya. Tatkala Devi dan ibunya sudah berada jauh dari Mas Budi, Ibu Devi tak tahan untuk bertanya,
“Kamu sudah lama kenal dia?”
“Barusan kok, Mah. Tadi si Mas membantu mengambil foto aku dan teman-teman,” jawab Devi apa adanya.
“Kok gayanya seperti sudah akrab denganmu,” cela ibu Devi. Devi hanya mengangkat bahu, ia pun tak mengerti. Satu hal yang Devi sadari, bayangan wajah lelaki itu sulit dienyahkan dari ingatannya.
Sama sekali Devi tak mengira, malam itu juga Budi meneleponnya. Dan anehnya, mereka mengobrol lama dan banyak, tak ingat waktu.***