Semua teman sekelas bilang Erwin tergila-gila padanya. Devi tak pernah memikirkan itu secara serius. Lagipula, ia memang tak peduli pada lelaki berwajah pendiam dan berambut seperti jarum itu.
Ketika teman dekatnya, Luna, semakin heboh menjodoh-jodohkan mereka berdua, barulah Devi merasa terusik. Mengapa semua begitu peduli? Mengapa begitu bersemangat menjodohkannya dengan pemuda itu?
“Dia itu cinta banget sama kamu, Dev. Masa kamu nggak bisa lihat?” kata Luna penuh perasaan. Mata Luna menerawang ke negeri antah berantah.
“Kamu memang romantis, Na,” ledek Devi setengah geli.
“Ih, kamu ini, ya. Kamu belum pernah ya merasa betul-betul jatuh cinta?” Usik Luna gemas.
Devi menggeleng. Cinta merupakan hal yang absurd buatnya. Buat apa jatuh cinta, bila tanpa cinta saja ia sudah bahagia.
Biasanya, para lelaki yang jatuh cinta padanya. Ia tinggal menikmati perhatian dan tingkah konyol mereka ketika berebut perhatiannya. Semua itu menyenangkan dan membahagiakan. Bukankah ia sudah memiliki cinta tanpa perlu jatuh?
“Dari mana kamu tahu kalau Erwin cinta banget sama aku?” Tanya Devi. Ia menyilangkan kaki demi mendapat jawaban serius.
Sekarang giliran Luna yang meledak tawanya.
“Astaga! Itu gampang banget dilihat, Dev. Coba deh kamu perhatikan Erwin. Jelas terlihat dari cara Erwin memandangmu, penuh damba. Dari cara Erwin memperlakukanmu, penuh perasaan. Dari cara Erwin saat berhadapan denganmu, grogi habis.”
Devi menarik-narik bibir bawahnya, ia mencoba mencerna penjelasan Luna dalam otaknya yang lebih mudah diajak berhura-hura daripada berpikir.
Sejujurnya, sejak pertama kenal Erwin, Devi tak pernah merasakan apa-apa. Datar. Dingin. Tak berkesan. Makanya, Devi heran mengapa Luna begitu setuju Devi dan Erwin menjadi pasangan kekasih.
“Kenapa sih kamu setuju banget aku dengan Erwin? Kan banyak cowok selain dia yang suka aku,” ujar Devi polos.
Luna menggeleng-gelengkan kepala dengan tak sabar.
“Kalau aku lihat, Erwin itu yang paling tulus sama kamu. Dia nggak akan pernah menyakiti hatimu. Beda dengan si Danny atau si Micky. Mereka hanya ingin senang-senang sama kamu. Danny dan Micky hanya suka padamu karena kamu cewek tercantik di sekolah,” Luna menjelaskan dengan penuh semangat.
“Oh, begitu?” Devi kembali menarik-narik bibir bawahnya.
“Makanya itu otak dipakai sekali-sekali, jangan cuma diajak main,” Luna mendorong kepala Devi dengan kegemasan maksimal.
“Ish...” Devi menepis tangan Luna.
“Makanya aku berteman sama kamu, anak paling pintar di kelas. Biar kamu yang mikir buat aku,” Devi membalas Luna dengan menonjok pundaknya.
Luna tak menghindar, akibatnya tubuh mungilnya hampir saja jatuh. Luna tak menghiraukan Devi maupun ucapannya barusan. Ia malah bertopang dagu dengan tatapan kosong.
“Andai aku punya pacar yang cintanya seperti Erwin sama kamu,” gumam Luna keras, kemudian ia tertawa miris.
Devi menatap iba pada Luna. Luna sudah punya pacar, namanya Mas Surya. Mereka baru dua bulan ini menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih. Kata orang, hubungan dengan umur sekian sedang hangat-hangatnya.
Namun kehangatan hubungan itu tak tampak bekasnya pada Luna. Bahkan, semenjak menjadi pacar Mas Surya, Luna terlihat lebih kurus. Devi tahu betul kisah kasih Luna. Sebagai teman dekat Luna, Devi menjadi orang yang pertama tahu bahwa Luna yang meminta untuk menjadi pacar Mas Surya. Mas Surya menerima cinta Luna setelah gadis itu mengejar-ngejarnya cukup lama.
“Kamu pasti nggak tahu rasanya, betapa lelah mengejar cinta orang yang tak pernah bisa mencintaimu,” keluh Luna muram.
“Bagaimana rasanya?” Sungguh, Devi ingin tahu.
“Rasanya seperti berjuang seorang diri. Terbang dengan satu sayap, sementara sayap yang lain tak bisa mengepak,” kata Luna sendu.
Lagi-lagi Devi tak bisa berempati. Ia, belum pernah jatuh cinta.
“Kok nggak cari yang lain saja?” tanya Devi heran.
Ia tak habis pikir dengan drama cinta Luna. Baginya persoalan Luna terlihat sederhana, pun penyelesaiannya.
“Aku nggak bisa. Aku cinta padanya,” bisik Luna sedih.
Devi menepuk jidatnya. Bertahan dalam hubungan garing demi cinta? Alamaaak!
“Sampai kapan kamu menyiksa diri?” cerca Devi gemas.
Sekarang Devi tak tahu harus kasihan atau harus jengkel pada Luna. Mengapa Luna begitu lemah? Mau-maunya ia terjebak dalam hubungan tak berpengharapan. Apa semua itu gara-gara cinta juga? Huh!
“Makanya, kamu jangan seperti aku. Cari pacar yang mencintaimu. Saling mencinta itu idealnya. Tapi kalau sulit, lebih baik dicintai daripada mencintai,” Luna menasihati Devi.
“Jadi menurutmu aku harus terima Erwin?” Devi kembali meluruskan percakapan.
“Terimalah. Kamu nggak akan menyesal. Ia tipe yang setia,” Luna mengangguk mantap dan tersenyum.
Devi manggut-manggut. Erwin tipe setia? Tipe dambaan semua wanita.
Tapi aku bukan tipe gadis yang setia, bisik hati Devi.
Sebetulnya tak sulit untuk jatuh cinta pada Erwin. Pemuda itu memiliki banyak sifat baik yang didambakan para wanita. Akan tetapi, tentu saja sekadar baik tidak cukup buat Devi. Getar-getar rasa saat berjumpa jauh lebih penting baginya.
Eh, tapi tunggu dulu. Mungkin ada untungnya menerima Erwin menjadi pacar. Ia bisa memanfaatkan Erwin untuk mengantarkannya kemana-mana. Memikirkan ide itu, Devi menjadi bersemangat.
“Betul juga,” gumam Devi lirih.
Luna tersenyum lebar mendengar pengakuan dari mulut Devi. Tumben-tumbenan Devi mau mengakui bahwa sebuah pendapat sepenuhnya betul. Sayang sekali, Luna sudah salah paham. Pengakuan Devi barusan untuk pikirannya sendiri tentang fungsi Erwin jika menjadi pacar, bukan pengakuan akan pernyataan Luna sebelumnya.
Begitulah akhirnya Devi dan Erwin menjadi sepasang kekasih. Erwin sangat bahagia. Devi juga bahagia. Mereka berdua berbahagia dengan cara masing-masing.
Erwin berbahagia gadis cinta terbesarnya akhirnya bisa dimiliki. Berbunga rasa hati dan dunianya. Segala yang ia lihat hanya keindahan. Ia sudah dibutakan oleh cinta.
Devi bahagia memiliki pengawal setia buat kemana-mana. Mau pergi, Erwin siap mengantar jemput. Mau jajan, Erwin siap menraktir. Mau hura-hura, Erwin siap menemani. Ya, itulah arti Erwin bagi Devi. Seorang pengawal, the bodyguard.
***
Jika akhirnya hubungan mereka langgeng hingga bertahun-tahun, maka itu bisa dibilang keajaiban. Devi sendiri takjub. Ia tak pernah berencana untuk menjadi kekasih Erwin selama itu, ia hanya mengalir seperti air. Tahu-tahu mereka berdua sudah lulus SMU.
Devi menyadari bahwa dirinya bukan orang yang mudah jatuh cinta. Ia terlalu egois. Ia terlalu mencintai dirinya sendiri sehingga tak mudah untuk mencintai orang lain.
Sementara itu, Erwin berkebalikan dengan Devi. Erwin mencintai sesama melebihi cintanya kepada diri sendiri. Ia selalu mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan dirinya.
Kata orang cinta itu memberi dan menerima. Devi membuktikan sendiri kebenaran pernyataan itu. Erwin memberi dan Devi menerima. Mereka berdua sama-sama bahagia dengan pola itu. Erwin bahagia memberi, sedangkan Devi bahagia menerima.
Erwin orang yang setia. Ia setia pada cinta dan setia pada kawan. Selama menjadi kekasih Devi, tak sekalipun ia pernah berkhianat. Mata dan pandangannya hanya tertuju pada Devi.
Bahkan Devi sendiri merasa Erwin terlalu baik buat dirinya. Namun hati tak bisa berdusta, ia tak bisa mencintai Erwin betapa pun lelaki itu memiliki sifat-sifat yang utama.
Bagi Devi, Erwin bukanlah pelabuhan terakhirnya. Ia hanya menjadi sebuah dermaga transit. Apabila ada kapal yang tepat, ia akan berangkat. Apabila kapal itu tak kunjung datang, ia akan tetap tinggal.
Sama sekali Devi tak menduga, ketika kapal impiannya datang tak mudah baginya untuk keluar dari dermaganya.***