Menangisi Masa Lalu

1091 Kata
Tanpa Saras sangka sama sekali, Erwin mengangguk mantap. Saras terkesima. Tadinya ia mengira Erwin akan mengelak atau berdalih. Ternyata Erwin dengan tegas mengiyakan pertanyaan Saras, membuat rasa hati Saras remuk bagaikan kerupuk yang diremas hingga berkeping-keping. “Pasti, Dik. Devi itu pacar Mas selama enam tahun, lho. Dari SMU sampai lulus kita masih pacaran,” tegas Erwin. Sepasang mata teduh Erwin memandang ke arah dinding, sorot matanya penuh kenangan. Sekali lagi hati Saras seperti ditusuk besi tajam dan panas, perih tak terkira. Ia cemburu. Susah payah Saras mengatur napas akibat emosi yang melanda, antara marah dan perasaan tak berdaya. Ternyata selama ini dirinya tak memiliki arti yang cukup berharga bagi Erwin. “Devi itu bukan cinta pertama, Mas. Tapi dia pacar yang paling Mas sayangi,” tambah Erwin lagi, masih dengan pandangan yang menerawang dinding yang bisu. Saras semakin bertambah cemburu mendengar pengakuan cinta Erwin kepada Devi yang terang-terangan. Wajahnya yang semula memerah, sekarang menjadi keruh. Untungnya, Erwin sedang tidak menatap wajah Saras. Pandangan Erwin sekarang jatuh pada air kopi di gelas dalam genggaman tangannya. Andai saja ia menoleh sedikit saja ke arah Saras, pasti Erwin akan menghentikan semua kisah nostalgianya. Sayang sekali Erwin tak menyadari, bahwa ada satu hati yang terluka mendengar kisah kasihnya. “Bagi Mas, pacaran dengan Devi itu indah seluruhnya. Masa-masa hidup Mas yang paling berkesan,” desah Erwin dengan tarikan napas berat. Kini pandangan Erwin terlempar jauh ke luar jendela. Di dalam kelam malam di luar sana, ia seolah sedang menyaksikan masa lalu di kegelapan yang tanpa bulan. Kilasan fragmen-fragmen kehidupan yang tak bisa lagi diulang berkelebat, segar dalam ingatan Erwin yang masih mencinta. Jujur saja, Saras tak tahan mendengar Erwin memuja masa lalunya bersama Devi. Ingin sekali Saras menutup kedua kupingnya, menyumbatnya dengan bola-bola kapas. Akan tetapi, ia sendiri yang tadi memancing Erwin bercerita. Kini ia harus menanggung sendiri akibat perbuatannya. Menyesal rasanya tadi Saras memancing-mancing. Jika tahu akan sesakit ini mendengar kisah cinta Erwin, ia pasti tak akan bertanya. Saras bagaikan menguak bagian bawah sebuah gunung es yang berada di bawah permukaan air laut. Besar bongkahannya sepuluh kali lipat dari bagian puncak yang tampak di atas air laut. “Lalu Devi bertemu calon suaminya...” Kini wajah Erwin lah yang diselimuti mendung. “Mas nggak tahu kenapa Devi begitu mudah terpikat pada lelaki itu. Begitu saja Devi meminta putus. Apakah baginya hubungan kami selama bertahun-tahun itu tidak berarti?” tanya Erwin, lebih kepada diri sendiri. Kedua mata Erwin dibayangi air mata. Sebelum sempat menjadi anak sungai, Erwin telah mengusap sepasang kelopak matanya. Baru kali ini Saras melihat Erwin dalam keadaan secengeng ini. Lemah akibat cinta yang terpatahkan. Nyata bagi Saras, Erwin belum sepenuhnya dapat menerima kenyataan. Sisa hubungan cinta yang telah berakhir itu belum diizinkan pergi oleh Erwin. Erwin lebih memilih memenjarakan rasa di hati daripada membiarkan semua berlalu. “Memang Mas akui, lelaki itu lebih segalanya daripada Mas. Lebih ganteng, lebih gagah, lebih kaya...” Erwin terpekur menatap ke dalam gelas kopi di genggaman tangannya. “Padahal hubungan kami sudah sangat lama dan tak ada masalah,” Erwin seolah menyesali. “Kami bahkan hampir saja bertukar cincin pertunangan.” Erwin mengusap-usap jari manis tangan kanannya yang kosong tak bercincin. Seolah-olah di sana ada bayangan cincin pertunangan yang seharusnya sudah tersemat. Saras sudah sering mendengar cerita pertunangan Erwin yang batal. Erwin berkali-kali mengulang kisah kegagalan ikatan cintanya dengan Devi. Erwin selalu menceritakannya, lagi dan lagi. Erwin tak ubahnya seperti seorang tua yang sudah pikun dan tak ingat telah membicarakan hal yang sama ratusan kali. Ia tak sadar bahwa Saras sudah jemu dengan cerita itu. Oleh karena itulah Saras sering memilih diam. Ia bosan mendengar kisah yang itu-itu saja. Di samping itu, setiap kali mendengarnya hati Saras panas terbakar cemburu. Malam ini menjadi puncak rasa jemu Saras. Kali ini ia tak tahan menjadi pendengar setia. Ia memutuskan untuk mengutarakan isi hati yang dipendam selama ini. “Semua itu sudah berlalu,” timpal Saras pelan. Sengaja ia memilih kalimat halus agar tak terdengar kasar dan menyakitkan. Akan tetapi, Erwin tak menganggap berharga perkataan Saras. “Berlalu, tapi tidak untuk dilupakan,” tangkis Erwin keras kepala. Saras mendekati Erwin. Ia rangkul lelaki yang sudah lama diberikannya ruang istimewa di relung hati. Erwin tak membalas rangkulan Saras. Ia diam tapi tak menolak untuk dipeluk. “Devi sudah pergi. Tapi Saras ada di sini,” katanya sambil mendekatkan wajah ke wajah Erwin. Terbawa suasana, Erwin menatap wajah Saras lekat-lekat. Wajah Saras kian mendekat. Untuk sesaat, bibir mereka saling bertemu. Hanya sesaat. Erwin tiba-tiba sadar dan menarik kembali wajahnya. Saras merasa dijauhi dan ditolak. Alangkah inginnya ia waktu berhenti dalam keadaan sesaat tadi. “Aku mencintaimu, Mas!” Ujar Saras tegas. Ini pernyataan cintanya yang pertama kali kepada seorang lelaki. Erwin tertegun. Mungkin ia terkejut mendengar kelugasan dalam suara Saras. Kemudian, Erwin mengangguk-angguk dan terdiam. Tak tampak niat di wajahnya untuk merespon Saras. Saras kecewa. Bukan begini yang diinginkannya. Bukan penolakan yang diharapkannya. “Kamu cinta aku nggak, Mas?” tanya Saras penuh penekanan. Tangan Saras mencekal pergelangan tangan Erwin ketika bertanya, seolah takut Erwin akan lari dari hadapan. Erwin memandangi lengannya yang dipegang Saras, kemudian tatapannya jatuh ke dalam bulat mata Saras yang menuntut ketegasan. “Aku jelas sayang kamu, Dik. Kamu tahu itu,” jawab Erwin tenang. Saras menelan rasa pahit di ujung lidahnya. Rasa sayang berbeda dengan cinta. Jadi tidak ada setitik pun rasa cinta untuknya? “Keluargaku sudah bertanya tentang status hubungan kita, Mas,” serang Saras lagi. Saras memutuskan untuk bermain lebih agresif. Erwin tak bisa diharapkan untuk mengambil inisiatif. “Umur kita semakin banyak. Aku memerlukan pasangan, bukan kakak ataupun sahabat,” tutur Saras tegas. Sedikit demi sedikit ia melontarkan amunisi. Saras ingin ketegasan hubungan dengan Erwin malam ini. Ia menginginkan Erwin menjadi pasangannya yang sah dalam ikatan pernikahan. “Apakah kamu mau menikahiku, Mas?” todong Saras. Sorot matanya tajam saat berucap, lurus ke arah sepasang mata Erwin yang terpana menyaksikan keberanian yang ditampakkan oleh Saras. Perlahan, Erwin menggerakkan kepalanya hingga sejajar dengan kepala Saras. Kedua belah telapak tangannya ditangkupkan pada pipi kanan dan kiri Saras. Mereka bersitatap, sangat dekat. Bahkan napas hangat Erwin dapat dirasakan Saras menerpa wajahnya. Seketika seluruh pori-pori di tubuh Saras terbuka, membiarkan bulu-bulu halus di permukaan kulitnya berdiri tegak dan rapi. Erwin menatap langsung ke dalam manik mata Saras saat menjawab. “Ya, Dik. Aku mau menikahimu,” jawab Erwin tegas. Tak ada keraguan dalam suaranya. Hati kecil Saras bersorak, namun sisi lain hatinya berontak. Di satu sisi hatinya puas, Erwin mau menikahinya. Erwin akan segera jadi miliknya. Di sisi lain, ia tahu cinta Erwin bukan untuknya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN