Cinta Sebening Embun

1072 Kata
Udara malam semakin dingin menggigit kulit. Malam yang bertambah kelam semakin nyata mengabarkan keheningan di dalam kamar. Kesanggupan Erwin untuk menikahi Saras seolah menjadi k*****s dari semua peristiwa malam ini. Sunyi semakin mengepung. Setiap tarikan napas terasa menyesakkan. Setelah pernyataan Erwin yang memuaskan hatinya, Saras seolah mendapatkan pelepasan dari tekanan batin yang selama ini mengimpit. Terbawa suasana sunyi, Erwin mendaratkan sebuah ciuman penegasan di bibir Saras. Mungkin mereka akan lepas kendali, andai saja tak ada derit pagar rumah kos yang dibuka hingga memecah sepi. Gelak tawa beberapa penghuni kos yang mulai berdatangan mengusir sunyi. Barulah Saras sadar, Erwin telah terlalu lama berada di dalam kamarnya. Bunyi keramaian menyadarkan Erwin juga. Serta merta ia melepaskan diri dari Saras, kemudian mundur dan mengempaskan diri kembali pada kursi. Saras membenahi rambut dan meluruskan baju. Tangannya meraih ponsel demi mengetahui waktu. Angka digital pada layar mengabarkan hal yang sudah diduga Saras, sekarang sudah menjelang tengah malam. “Sebaiknya Mas menginap saja di sini. Sudah terlalu larut untuk pulang,” saran Saras. Erwin menggeleng. “Enggak, Dik. Lebih baik Mas pulang saja. Tidak apa kemalaman.” Erwin bangkit berdiri. Ia merapatkan ritsleting jaket yang tadi terbuka sedikit selama ia duduk di kursi. Erwin mengusap wajah sebelum melangkah keluar kamar, seolah hendak membuang sisa kenangan yang bercokol dalam benak. Saras mengikuti Erwin yang beranjak menuju pintu kamar. Seiring langkah pertama Erwin menjejak ubin di luar kamar Saras, masuk tiga penghuni kos yang juga baru pulang dari menghabiskan malam minggu. Tawa mereka terdengar nyaring saat memasuki ruang tamu rumah kos yang sunyi. “Eh, ada Mas Erwin,” celetuk Shinta, salah seorang teman kos Saras yang tinggal di kamar paling ujung. Dua orang gadis lain berjalan di belakang Shinta. Kalau tidak salah ingat, nama mereka Nara dan Raina, Erwin agak lupa-lupa ingat. Sebetulnya hampir semua teman kos Saras dikenal oleh Erwin, hanya namanya saja yang Erwin seringkali tertukar. “Halo, Shin. Kalian baru pulang, nih?” sapa Erwin dengan senyum tipis yang lebar. Basa-basi Erwin sempurna, meskipun hatinya tengah gundah. Nara dan Raina menatap Erwin dengan senyum dikulum. Entah apa yang mereka pikirkan saat Erwin keluar dari kamar Saras barusan. “Iya, Mas. Kita kan jones, jomblo ngenes. Hihihiii,” Shinta menjawab lalu terkikik dengan candaannya sendiri. Erwin tersenyum lagi. “Jomblo tapi banyak yang suka,” sahut Erwin manis. Bahkan Saras ikut tersenyum mendengar jawaban Erwin kepada teman-teman satu kosnya. “Ih, bisa aja Mas Erwin. Shinta kan jadi seneng,” timpal Shinta, tersipu-sipu sampai kedua pipinya semburat memerah. “Hehe. Mas pulang dulu, ya. Takut keburu subuh nanti,” seloroh Erwin seraya mengangguk sopan ke arah Shinta, Nara, dan Raina. Ketiga gadis itu tertawa mendengar candaan Erwin. Sebelum melanjutkan langkah kaki, mereka masih sempat berbasa-basi. “Hati-hati, Mas!” kata Shinta dan Nara hampir bersamaan, kemudian mereka bertiga berbalik pergi menuju kamar masing-masing sambil tertawa-tawa lagi. “Jangan ngebut ya, Mas,” pesan Saras saat melepas Erwin di pekarangan rumah kos. “Ya, Dik,” balas Erwin singkat. Ia mengecup sekilas dahi Saras sebelum naik ke atas sepeda motornya. Saras terus memandangi Erwin hingga raungan sepeda motor lelaki terkasihnya menghilang dalam gelap malam. Setelah itu, barulah ia berbalik masuk ke dalam rumah dengan kepala tertunduk lesu. Malam ini ia telah berhasil mengambil janji Erwin. Seharusnya ia gembira dan merayakan prestasi ini. Akan tetapi, kenyataan bahwa Erwin masih terkungkung bayang-bayang Devi membuat Saras resah. Erwin tak mencintai dirinya seperti cintanya pada Devi. Masih terngiang jelas di telinga Saras, pernyataan tegas Erwin bahwa ia menyayangi Saras. Erwin tak mengucap kata cinta untuknya. Maukah ia menerima kedudukan itu di hati Erwin? Di dalam kamar tidurnya, saat berbaring seorang diri Saras berpikir lama tentang keadaannya bersama Erwin. Apa artinya memiliki tapi tak dicintai? Haruskah ia puas dengan posisi adik yang disayangi atau lebih baik pergi? Saras tahu ia tak punya banyak pilihan menyangkut Erwin. Mengingat umurnya yang semakin merangkak, juga desakan yang semakin sering dari kedua orangtuanya untuk segera menikah, maka melepaskan Erwin bukanlah pilihan yang terbaik. Saras tahu ia kehabisan waktu. Bukankah lebih baik memperjuangkan yang sudah ada daripada memulai hubungan baru yang belum pasti berhasil? Belum tentu pula ia akan bertemu lagi dengan lelaki sebaik Erwin. Dengan tekad untuk merebut hati Erwin, Saras terlelap dalam tidur yang gelisah. *** Erwin mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan empat puluh kilometer per jam, meskipun jalanan mulai lengang. Ia memang tak terbiasa mengebut. Prinsipnya, jika bisa pelan mengapa harus mengebut? Prinsip ini bahkan sudah ia anut semenjak remaja, ketika teman-temannya seumur lebih suka mengebut ugal-ugalan di jalanan demi sebuah pengakuan akan eksistensi diri. Tiupan angin menjelang tengah malam menerpa wajah Erwin, tapi hawa dingin itu tak terasa olehnya. Kepalanya panas oleh nostalgia, kenangan masa lalu yang berputar ulang dalam ingatan. *** Semua teman di SMU tahu bahwa Erwin itu bucinnya Devi. Apa saja yang Devi inginkan, pasti diberikan oleh Erwin. Apa saja yang Devi minta, pasti diturutinya. Apapun yang Devi lakukan, seluruhnya benar. Sebesar apapun kesalahan Devi, Erwin tetap memaafkan. Devi tak pernah salah. Seolah-olah semua yang ada pada diri Devi sempurna dan indah di mata Erwin. Devi ingin diantar jemput setiap pergi dan pulang sekolah, Erwin menyanggupi. Setiap pagi Erwin tak pernah absen menjemput Devi di rumahnya, bahkan tak pernah telat barang sehari pun. Malahan yang sering terjadi, Erwin lah yang harus menunggui Devi berdandan dan bersiap sebelum berangkat bersama ke sekolah. Demikian juga yang terjadi saban jam pulang sekolah. Erwin dengan setia mengantarkan Devi kembali ke rumahnya dengan selamat. Apabila Devi ada acara di sekolah yang mengharuskannya pulang terlambat, Erwin dengan setia menunggui kekasihnya. Seusai jam sekolah, Erwin akan pulang ke rumahnya untuk berganti pakaian dan makan siang. Setelah itu, Erwin akan kembali ke rumah Devi untuk kembali memandangi wajah sang kekasih. Erwin akan menemani apapun kegiatan Devi sepulang sekolah hingga senja menjelang. Seringkali terjadi, Erwin sampai diperingatkan oleh orangtua Devi untuk segera pulang. Kode halus dari para sesepuh bahwa Erwin harus segera angkat kaki dari rumah sang belahan jiwa. Dengan berat hati, Erwin akan pulang dengan wajah muram karena sedih. Kesetiaan Erwin langgeng hingga mereka berdua lulus dari SMU. Selepas lulus, Erwin tetap setia pada Devi. Erwin tetaplah bucinnya Devi. Devi memilih kuliah di jurusan komunikasi di salah satu universitas swasta terkenal. Erwin ikut-ikutan mendaftar di universitas tersebut. Alasannya, ia tak mau Devi terpikat pemuda lain di kampus barunya. Erwin mengesampingkan keinginannya sendiri untuk memasuki D3 jurusan Teknik. Semua itu dilakukan Erwin demi berdekatan dengan Devi. Ia tak sanggup apabila harus berpisah dan tak melihat wajah Devi barang sehari. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN