Selalu Ada Untukmu

1091 Kata
Erwin mematikan mesin sepeda motor, sekitar dua meter sebelum sampai di depan pagar rumahnya. Sengaja ia melakukan itu, agar ibunya tak terkejut dan terganggu dari lelap tidur. Motor yang telah kehilangan tenaga itu tetap melaju meskipun pelan, berkat daya dorong dari mesin yang sebelumnya menyala. Hingga akhirnya motor itu berhenti total tepat di depan pintu pagar. Pelan-pelan, Erwin mendorong pagar rumahnya yang telah tertutup rapat. Dengan sangat berhati-hati, ia mendorong sepeda motornya masuk ke halaman rumah. Dengan gerakan pelan, Erwin berdiri di depan pintu rumah. Tangan Erwin merogoh ke dalam saku celana, lalu menarik keluar rangkaian kunci di dalamnya. Betapapun Erwin berhati-hati memutar anak kunci, tetap saja bunyinya keras menggema. Malam yang sunyi dan rumah yang hening menampung semua bunyi. “Erwin? Itu kamu, bukan?” Suara serak Ibu terdengar dari arah kamar tidur. Erwin mengeluh dalam hati, menyesal telah membuat ibunya terbangun dari tidur. “Iya, Bu,” jawab Erwin dengan suara yang rendah karena merasa bersalah. “Larut betul pulangnya, Er,” lanjut Ibu setengah mendesah, menyayangkan perilaku sang putra. “Maaf, Bu,” sahut Erwin sungguh-sungguh. Erwin menunggu balasan dari Ibu, tapi lama tak ada suara lagi. Malah, suara dengkur halus yang kemudian terdengar. Erwin menarik napas pelan, lega ibunya telah terlelap kembali. Masih dengan gerakan pelan dan hati-hati, Erwin memasukkan sepeda motornya ke dalam rumah. Ia memarkir kuda besi kesayangannya itu di ruang tamu, setelah terlebih dahulu menaikkan posisinya pada sepasang sandarannya. Setelah melepas jaket dan sarung tangan, Erwin langsung masuk ke kamarnya. Ia baringkan tubuh di atas kasur, sembari melipat kedua tangan sebagai tumpuan kepala. Pandangannya lurus ke arah langit-langit kamar, memikirkan semua hal yang terjadi malam ini. Melihat Devi di bioskop tadi, membawa kenangan Erwin kembali pada masa lalu yang tidak pernah betul-betul pergi. Bahkan sebetulnya, Erwin tak pernah melupakan Devi barang sebentar. Sampai kini pun Erwin tak habis pikir, apa kurangnya sebagai kekasih? Ia tak pernah kasar, selalu perhatian, dan selalu ada untuk Devi. Apabila Devi ada urusan di suatu tempat, Erwin akan mengantarkan dengan setia. Setiap saat dan setiap waktu, Erwin ada dan siap untuk Devi. Kehadiran Erwin untuk Devi lebih mirip keberadaan bodyguard yang mengawal artis papan atas. Suatu kali, Devi ada acara keluar bersama teman-teman perempuannya. Erwin dengan setia menemani, walaupun ia menjadi satu-satunya jantan diantara burung dara. Tak sedikitpun Erwin merasa sungkan karenanya. Tatkala Erwin diusir secara halus karena acara tersebut hanya khusus untuk perempuan, dengan patuh Erwin beranjak pergi. Tidak jauh-jauh, hanya melipir ke warung sebelah restoran tempat acara Devi. Di sanalah ia menghabiskan waktu sendirian menungu kekasihnya selesai dan memanggilnya. Bahkan pernah terjadi, Erwin tengah berada di kantor SAMSAT untuk mengurus perpanjangan STNK sepeda motor. Kantor SAMSAT itu cukup jauh dari tempat tinggal orangtua Erwin. Dibutuhkan waktu setengah jam untuk mencapai kantor SAMSAT dari rumah. Saat Erwin sedang mengantre formulir, tiba-tiba masuklah telepon dari Devi. “Mas, di mana? Aku mau pergi shopping ke mall yang baru buka itu, lhooo.” Terdengar manja suara Devi. Untuk sesaat Erwin merasa ingin berada di sebelah Devi. Melihat raut wajah cantiknya ketika sedang manja. “Aku... di SAMSAT, Dev. Mau bayar STNK,” jawab Erwin tergagap. “Yah, aku nggak ada yang antar, nih. Pulang saja, Mas. Jemput aku di kampus, ya.” Kata Devi kesal. Ia tak suka urusannya terhambat. Erwin seolah dapat melihat bibir tipis Devi yang indah itu merengut ke arahnya, meskipun hanya suara Devi yang hadir di telinganya. Seperti biasa, Erwin tak sanggup menolak permintaan Devi. “I... iya, Dev. Tunggu, ya.” Hanya itu yang dapat Erwin ucapkan. Ia hanya tahu bahwa Devi ingin diantar olehnya. Tak terpikir sama sekali oleh Erwin untuk membujuk Devi agar berangkat bersama temannya, atau menggunakan kendaraan umum. Ia hanya tak mau Devi bertambah merajuk. Kemarahan Devi adalah hal yang paling menakutkannya di muka bumi. Serta merta Erwin keluar dari gedung SAMSAT, meninggalkan tatapan heran sebagian para pengantre lainnya. Sementara sebagian besarnya justru senang karena satu antrean hilang. Erwin melarikan motornya seperti dikejar polisi. Tak tahu berapa kecepatan yang dipacunya untuk dapat menemui Devi di kampusnya. Untunglah ia tak terlibat kecelakaan lalu lintas akibat ulahnya yang ugal-ugalan. Mengebut paling anti dilakukannya, kecuali atas nama Devi sebagai pembenaran. Pada kali yang lain, Erwin sedang tidur pulas di rumahnya. Malam telah tinggi dan dingin menusuk kulit. Ponsel di meja nakas mendadak bergetar hebat. Memanggil pemiliknya untuk segera mengangkat. “Halo...” Erwin menjawab dengan mata setengah terpejam. Kesadaran belum sepenuhnya memasuki raganya. “Mas Erwiiin... Jemput aku, dooong.” Terdengar nada merdu suara manja Devi di seberang sana. Mendadak Erwin membuka matanya lebar-lebar. Ia terduduk tegak di atas kasur. Ponsel tergenggam erat di tangannya. “Kamu di mana, Dev?” Tanya Erwin keheranan. Apakah Devi tidak sedang tidur di rumahnya? Lalu di mana dia pada tengah malam begini? “Starry Night...” Jawab Devi polos, menyebutkan nama kelab malam paling tersohor di kota ini. Tak ada rasa bersalah sedikitpun dalam nada suaranya. Ia malah terdengar bosan. Sayup-sayup Erwin mendengar alunan musik yang diputar di kelab malam paling diminati kaum muda borjuis di kotanya. “Kapan kamu ke sana? Sama siapa?” Dahi Erwin berkerut. “Sama teman-teman. Mereka semua sudah pulang. Aku sendirian nggak ada tumpangan. Sudah ya, Mas. Cepat jemput. Aku tunggu!” Klik! Devi memutuskan sambungan secara sepihak. Tak peduli dengan keheranan Erwin yang kini berubah menjadi kemarahan. Apa yang kekasihnya kerjakan di Starry Night? Apakah ia ikut Ladies Night? Ladies Night adalah program di Starry Night, yaitu pada malam tertentu, gadis-gadis muda boleh masuk dan minum secara gratis sampai pukul 11 malam. Tanpa buang waktu, Erwin turun dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya. Ia mengambil jaket dan dua helm yang tergeletak di atas meja penyimpanan helm. Tatkala memutar anak kunci pada lubang pintu depan, ibunya melongokkan kepala ke ruang depan. “Mau ke mana kamu tengah malam begini, Win?” tanya ibunya keheranan. “Mau jemput Devi, Bu,” jawab Erwin singkat. “Jemput dari mana jam segini?” Ibu Erwin mengerutkan dahi, nada suaranya tak suka. “Starry Night, Bu...” Erwin tak pernah bisa berbohong kepada ibunya. Kontan mata ibunya melotot. “Starry Night?! Apa yang dikerjakan Devi di sana? Jangan pergi.” Wajah ibunya memerah karena murka. “Maaf, Ibu. Devi nggak ada tumpangan untuk pulang,” jawab Erwin penuh penyesalan. Sungguh, ia tak pernah melawan ibunya sampai sejauh ini. Malam ini, ia terpaksa melawan kehendak ibunya. Ia tak bisa mengabaikan Devi begitu saja. Erwin mencium tangan ibunya sebelum pergi. Ibunya langsung menarik tangan yang digenggam Erwin, pertanda ia tak merestui kepergian Erwin. Rahangnya tertutup rapat saat mendengar raungan sepeda motor Erwin menjauh dari halaman rumah.***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN