Berbulan Madu

1310 Kata

Erwin sontak menoleh saat ditegur Saras. Ia tersenyum ke arah istrinya. “Hanya meneliti para tamu, Dik. Adakah tamu dari teman dan keluargaku. Karena kami berencana tidak menggelar acara unduh mantu di rumah nanti,” jelas Erwin. Saras manggut-manggut. Ia turut mengedarkan pandang ke arah para tamu. Pencarian matanya berhenti pada ibu mertuanya yang sedang bercakap-cakap akrab dengan seorang lelaki berambut putih. Seingat Saras, ia tidak mengenal lelaki itu. “Sepertinya ada tamu dari teman Ibu yang datang,” cetus Saras. Jarinya menunjuk ibu mertua yang sedang duduk santai berhadapan dengan sang lelaki tua. “Oh, iya. Itu sahabat lama Ibu. Ternyata Om Dion menyempatkan diri datang kemari,” sahut Erwin. Erwin terdiam memandang Ibu dan sahabatnya, namun pikirannya mengembara ke lain hal.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN