“Betul, Dik,” tegas Erwin. Erwin menatap kedua mata Saras dengan sorot yang sungguh-sungguh. Berdebar jantung Saras ditatap demikian dekat oleh Erwin. “Aku mau ... ke Turki!” ujar Saras. Erwin tersentak. Untuk sesaat ia terdiam. Erwin mengusap-usap dagunya dengan dahi mengernyit. “Boleh ke mana saja, kan?” Saras mengulang janji Erwin. Bibir Saras mengulum senyum. Ia senang usahanya mengejutkan Erwin telah berhasil. “Kamu betul mau ke sana, Dik?” tanya Erwin serius. Saras terbahak. “Bercanda, Mas. Cutiku untuk menikah hanya seminggu, itu pun dua hari sudah aku ambil sebelum hari H. Mana bisa ke Turki dalam waktu empat hari,” urai Saras. Erwin tersenyum lega. Selain masalah waktu, ia bingung memikirkan dana untuk ke luar negeri. “Syukurlah. Kalau mau ke sana, kita harus mengurus

