“Ja—jadi kamu menolong perempuan itu?” tanya Saras kecewa. Tak terkatakan rasa sakit yang terhunjam ke hati Saras. Rasanya Saras ingin pingsan saja, agar tak perlu merasakan kekecewaan sebesar ini. Pelan-pelan, air mengalir dari kelopak matanya. Erwin menunduk dalam. Ekspresinya sangat bersalah. Sayangnya, rasa kecewa Saras jauh lebih dalam. Saras menghambur ke atas kasur yang sudah dirapikan menjelang kepergiannya. Air matanya membanjiri bantal bagai air bendungan yang jebol. “Maafkan Mas, Dik,” lirih Erwin berbisik. Ia mengusap-usap punggung Saras yang tertelungkup di kasur. Suara sesenggukan Saras justru semakin keras. “Mas nggak punya pilihan, Dik. Nggak mungkin membiarkan Devi diurus orang lain. Mas takut penanganannya akan terlambat,” jelas Erwin. Saras tak bisa berpikir. Ia ta

