Napas Terakhir

1247 Kata

"Mas, kenapa? Ada apa, Mas?" Aku bertanya dengan gugup saat melihat suamiku yang raut wajahnya terlihat panik setelah mendapat telepon tadi. Telepon yang aku perkirakan berasal dari adik bungsunya—Mayang. "Ibu, Lis. Ibu ... kejang," ujar Mas Arkan sembari menyambar kembali jas dokter miliknya setelah memakai pakaian sekenanya. Tampak suamiku buru-buru memakai kembali jas putih yang sebelumnya sempat ia tanggalkan. Ibu kejang? Sejenak, aku terdiam mematung. Mengambil sendiri kesimpulan yang mungkin dari apa yang menjadi pemicu mertuaku sampai kejang pagi ini. Mungkinkah apa yang terjadi padanya sekarang ada sangkut pautnya dengan kepindahan Mas Arkan dari rumah itu? Seketika, timbul sedikit rasa bersalah saat membayangkan jika memang itu adalah alasannya. "Kamu di rumah aja, ya, jagai

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN