Bulan Madu di Pagi Hari

1329 Kata

Kututup sambungan telepon Mas Arkan dengan perasaan campur aduk. Masih tak percaya dengan apa yang baru aku dengar tadi. Tentang ungkapan cintanya yang singkat. Ah, mungkin itu cuma sebuah lelucon bukan? Kalau Astri menyebut diriku itu kufur nikmat, itu salah besar. Sejauh ini, bukan aku tak bersyukur memiliki suami seperti Mas Arkan, cuma … aku masih insecure dengan diriku sendiri. Benarkah seorang Arkan Pramudya Munir jatuh cinta padaku? Seorang wanita dengan riwayat pendidikan rendah? Rasanya hal itu sulit dipercaya. Bagaimana tidak, bukankah circle pertemanannya adalah golongan orang-orang cerdas dengan basic pendidikan yang bagus? Sedangkan aku? Jauh api dari panggang. "Ngelamunin apaan sih, sampe bengong begitu?" teguran Astri menyentakku dari lamunan. "Ah, nggak ada, kok. Udah m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN