"Mas Arkan, Pram, berhenti!" Aku sengaja menguatkan suara untuk mencuri perhatian dua saudara yang tengah terlibat perseteruan dan saling menyerang. Mendengarku memanggil nama saja pada dirinya, membuat ayah Riana menghentikan aksi adu jotosnya dengan sang kakak. Sesaat kemudian, lelaki 30 tahun yang hingga saat ini namanya masih terpatri dalam di hati, memandangku dengan tatapan nanar. "Apa ini artinya … kamu sudah sangat bahagia dengan statusmu sekarang, Listi?" tanya mantan suamiku lantas tersenyum getir ketika sepasang matanya menatap wajahku. Napasnya terengah seperti habis melakukan lari jarak jauh. Aku tertunduk dan memilih diam, tak menanggapi olok-olokan ayah Riana yang terkesan menyudutkan diriku. Mas Arkan tertawa sumbang mendengar pertanyaan yang dilontarkan sang adik padak

