"Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya." Aku mencebik bibir dengan perasaan kesal yang belum sirna. Selain benci dengan Mas Arkan yang gemar membual, aku sendiri juga geram terhadap diriku sendiri yang mudah saja percaya tanpa bertanya lebih lanjut malam tadi. Aku benar-benar merasa menjadi manusia paling bodoh yang semudah itu menyerahkan diri saat dia memperdayai diriku tadi malam. "Maksudnya apa, nih?" tanyanya sambil membenarkan posisi kacamata minus miliknya. Aku mendengkus pelan menyambut ucapannya yang agaknya tak lebih dari sebuah kepura-puraan. Benarkah dia tidak bisa mencerna maksud peribahasa yang aku ucapkan tadi? "Apa kurang jelas, Pak Dokter?" desisku tajam yang ditanggapi dengan ekspresi santai oleh suamiku. "Kamu tuh sama dengan Ibu! Menghalalkan segala cara demi

