Mas Arkan mendengkus pelan, tapi sepasang matanya yang dibingkai kacamata minus, menatap sinis padaku. "Apa kau menganggap dirimu sendiri seperti barang, Listi?" tanyanya dengan raut wajah yang amat menjengkelkan kala memandangku dengan tatapan tajam. Aku diam. Malas rasanya menanggapi pertanyaannya yang tidak penting ini. "Apa kau bangga jika sampai dua kali mendapat predikat janda?" Wajah Mas Arkan ia rapatkan padaku ketika lagi-lagi memberiku pertanyaan yang aku malas untuk menjawabnya. "Aku hanya akan melepasmu kalau--." Kata-kata Mas Arkan yang menggantung membuatku menatap dalam wajah tampan yang selalu saja menunjukkan ekspresi menyebalkan. "Kalau apa?" Bukannya memberi jawaban, Mas Arkan malah membuatku semakin geram dengan ulahnya yang keterlaluan. Tanpa basa-bas, suamiku m

