bagian 8

851 Kata
setelah keluar dari ruangan gurunya, Nasya merasa sedikit lega meski itu hanya sedikit saja. tepat di depan pintu ruangan Natan sudah menunggu di Nasya , Nasya sedikit tersentak karena Natan tanpa bertanya langsung menarik tangannya dan membawanya ketempat biasa mereka berdua duduk, dari kejauhan ada sepasang mata hitam yang memandangi mereka, Della, wanita ini sangat tidak tahu malu sebagai sahabat Nasya, Della hampir ingin mengejar mereka berdua untuk mengganggu tapi saat jam istirahat berbunyi , Natan sudah keluar dan langsung mencari kekasihnya, Della mencoba mengejarnya tapi di peringatkan oleh Natan untuk tidak mengganggunya dulu. ternyata di abaikan oleh Nasya untuk yang pertama kalinya membuat Natan sedikit tidak senang, mengapa tidak dari awal cinta monyet yang mereka lakukan kini sudah semakin dewasa nasyalah yang selalu ada untuk Natan, * " apa yang kamu lakukan Nat"? Nasya langsung menepis tangan kekasihnya itu karena kesal, tapi Natan masih saja berusaha menggandeng tangan Nasya dan berusaha menariknya pergi, karena merasa sekarang sudah tidak ada orang lain lagi hanya mereka berdua, Nasya benar-benar sudah tidak mengerti dengan sikap Natan padanya, Nasya lalu menghentikan langkahnya dan berkata, " Natan , ayo kita putus saja" Natan seketika menghentikan langkahnya, " mengapa? apa kamu sudah memiliki yang baru?" tanya Natan menatap wanita di depannya itu tanpa melepaskan tangannya, menaikkan sudut bibirnya Nasya berbicara " tidak perlu bertanya dan memutar balikkan keadaan, bukankah kamu yang sudah memiliki pandangan lain? jangan munafik Nat.. aku sudah mendengar percakapan kamu dengan Della Minggu lalu, aku tidak ingin menjadi orang ketiga sekarang, berhenti belagak tidak tahu" Nasya hanya merasa semakin tertekan dengan masalah yang ia terima dan di tambah dengan sikap Natan yang terlalu pasif. * * * Della yang mengintip dan mendengar dari ke kejauhan merasa sangat senang, jika dia tidak ingat sedang menguntit seseorang mungkin sekarang dia akan langsung loncat kegirangan. "Nat, kamu mungkin berfikir jika kita ini hanya cinta monyet saja, hingga kamu tidak menyadari bagaimana aku selalu membuat agar kamu tidak jenuh jika bersama dengan aku, aku bahkan semakin sadar bagaimana sikap kamu pada aku, bagaimana kamu memperlakukan aku, tidak perlu sampai aku yang sudah terlalu sayang pada kamu hingga berujung mendapat kesakitan yang terlalu besar " ungkap Nasya pada Natan dengan penuh kejujuran, Natan mendengar itu hanya merasa dadanya sesak, dia memang merasa risih di perhatikan terus oleh Nasya , tapi mendengar Nasya ingin hubungan antara mereka akan berakhir dia tidak bisa menerima itu. tanpa berfikir lagi Natan lalu mendekati Nasya dan mencium dirinya dengan paksa, Nasya tentu terkejut dengan apa yang di lakukan Natan padanya, plak, suara tamparan mendarat di pipi Natan, " Natan, kamu !" setelah menampar Natan Nasya hanya bisa berkata dan pergi meninggalkan Natan sendirian, " Nasya ... tunggu aku perlu kejelasan mengapa kamu ingin kita putus, Nasya...." Natan berteriak agar Nasya mau berhenti tapi itu sia-sia , Nasya sudah tidak terlihat lagi. itu adalah ciuman pertama dirinya dengan Natan selama dia berusia hampir 18 tahun, saat berlari Nasya terus menghapus air matanya dan juga menghapus bibirnya berulang kali, dia tidak terima jika di perlakukan seperti itu oleh seorang lelaki meski itu adalah kekasihnya. Della melihat pemandangan itu hanya bisa mengepalkan tangannya, percuma saja selama ini dia selalu bersikap baik pada Natan, bahkan dengan tidak tahu malu pernah mengambil inisiatif ingin mencium Natan, hanya saja Natan langsung menolaknya , tapi sekarang dia melihat lelaki itu mencium Nasya dengan suka rela, dia tidak bisa menerima itu. * * Nasya karena memikirkan masalah yang ia hadapi pagi ini, dia masih merasakan getaran di sekujur tubuhnya dia benar-benar trauma. menunggu jam sekolah usai Nasya hanya duduk di bangku sambil mendengarkan musik menggunakan earphone, tapi tetap saja dia selalu memikirkan kata-kata wanita tua itu nenek Marta. setelah tiba di rumahnya, tentu saja pandangan para tetangganya sudah tidak enak di lihat, tapi mau bagaimana lagi dia harus menghadapi semua itu. "assalamualaikum.. mama aku pulang" Nasya memberi salam, tapi salamnya tidak di jawab, ibunya sudah menunggu di ruang tamu bersama dengan ayahnya dan juga pamannya, tak luput dari kakek dan neneknya. " lihatlah anak ini, sudah kukatakan kemarin untuk tidak mengijinkan dirinya lanjut ke sekolah , hasilnya apa? kita di permalukan karena tingkah lakunya yang sangat buruk, dia bahkan sangat tidak punya otak sampai berpacaran dengan seorang pria tua yang seumuran dengan kakeknya, cih" nenek Nasya langsung mencaci ayahnya Nasya sekaligus Nasya, Nasya tidak bisa membela diri sekarang dia harus menerima itu semua, " mengapa kamu tidak menjawab? apakah benar kamu telah tidur dengan kakek baya? jawab Nasya" ibunya berteriak dengan suara yang gemetar, karena malu, semua orang di sana sudah menjadi detektif sekarang, Nasya bahkan belum sempat untuk mengganti baju dan juga sarapan , tapi sudah di interogasi seperti seorang pencuri yang mencuri uang miliaran rupiah. " apakah aku bisa ke kamar kecil ibu? aku ingin pipis" kata Nasya singkat, ibunya hanya bisa mengangguk dan membiarkan anaknya mengganti pakaiannya, " tuhan, tolong aku, apa yang harus aku lakukan sekarang?" batin Nasya, dia benar-benar sudah tidak tahu harus melakukan apa. setelah selesai mengganti baju dan tanpa di izinkan makan , Nasya harus menuju ruang tamu tempat para detektif itu berkumpul, untung saja tadi siang dia sudah membeli roti dan beberapa cemilan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN