Nasya sudah 3 hari tinggal dan bekerja di rumah mama angkatnya,
karena polisi masih mencarinya maka pada petang hari dia di temukan oleh seorang polisi yang kebetulan sedang membeli kue di toko tempat Nasya bekerja, maka saat itu dia langsung di bawah pulang ke rumah orang tua Nasya.
ibu Amel hanya bisa tersenyum pahit karena pemandangan ini, dia tidak dapat melakukan apapun karena dia tahu Nasya memang lari dari rumah,
" sayang, jika besok-besok kamu rindu pada mama, kamu bisa datang kapan saya ya, mama akan selalu menunggu kamu"
kata mama Amel sebelum melepaskan kepergian Nasya,
pertemuan mereka sangat singkat tapi bagi mama Amel itu sangat berharga, Nasya adalah anak yang baik dan juga sangat polos.
*
" wah,. kamu ternyata sangat hebat nak, jika aku tahu kamu sudah bisa mencari uang sekarang , maka aku tidak perlu repot-repot melapor pada polisi tentang kehilangan kamu, hanya buang-buang waktu saja, jika bukan ku pikir ibumu sudah tidak mau makan beberapa hari ini, aku bahkan tak berharap kamu ada,"
ungkap ayah Nasya sambil melotot pada anaknya itu,
Nasya hanya menunduk memandangi lantai, dia tidak menyangka bahwa akan mendapatkan cacian seperti itu pada ayahnya sendiri.
melihat Nasya tidak merespon kata-katanya, ayahnya lalu berdiri dari kursi dan langsung memukuli Nasya,
sedangkan ibunya dan juga neneknya paman dan kakaknya, mereka semua hanya menonton tanpa memberikan perlindungan atau pembelaan pada Nasya,
Nasya tidak melawan dengan apa yang ayahnya lakukan,
dia hanya berfikir dalam hatinya
"aku adalah wanita 18' tahun sekarang, aku harus kuat"
Nasya menangis tanpa suara , dia harus kuat meski bukan lelaki.
" takdirku masih panjang, aku harus kuat sekarang"
Nasya masih bergumam dalam hatinya,
*
*
Nasya terpaksa masuk sekolah lagi, tetapi apa yang pernah dia lalui untuk beberapa hari ini, dia sangat tersakiti dan juga sangat tertekan.
*
*
kakek baya tersenyum sangat puas sekarang, bagaimana tidak mendengar kabar tentang hilangnya Nasya dia sangat panik, kakek baya sangat tidak puas ketika belum mendapatkan apa yang dia inginkan dari anak itu, tetapi sekarang dia mulai tenang lagi.
" Nasya, kamu akan tahu usaha apa yang akan aku lakukan untuk mendapatkan apa yang sudah menjadi bagianku, ha ha ha" kakek baya tertawa sendiri di dalam rumahnya,
sementara nenek Marta mulai terganggu lagi karena mendengar Nasya sudah kembali,
" anak ini kenapa tidak mati saja," ungkap nenek Marta dengan kesal.
*
Della terlihat sangat murung dengan kemunculan Nasya lagi di sekolah, dia benar-benar sangat benci dengan wanita ini,
awalnya dia berharap agar Nasya benar-benar tidak kembali lagi , tetapi nyatanya tidak , Nasya masih kembali.
Nasya memilih duduk-duduk sendiri di tempat biasa dia duduk saat jam istirahat berbunyi,
saat kembali dari rumah mama Amel kemarin, dia tidak lupa membawa beberapa novel yang di berikan oleh ibu angkatnya,
masih serius membaca, Nasya tiba-tiba terkena bola sepak oleh seseorang yang entah dari mana dia juga tidak tahu,
Nasya sangat kesal dan ingin bertanya pada para murid lelaki yang sedang bermain bola, tetapi karena dia melihat di sana ada Natan,
Nasya tidak jadi bertanya, dia hanya melirik sebentar pada Natan dan langsung mengambil tas miliknya dan meninggalkan tempatnya.
Natan hanya melihat Nasya pergi , dia juga tidak berani mengejar kekasihnya itu karena dia tahu bahwa dia juga bersalah, tetapi bagi seorang lelaki yang pengertian itu Natan seharusnya bisa meminta maaf pada Nasya dan melupakan apa yang telah terjadi,
tetapi Natan terlalu gengsi dan juga sangat egois.
Nasya tentu tahu itu, dia tidak mungkin meminta maaf duluan karena sebagai seorang wanita dia juga merasa lelaki ini terlalu egois,
bahkan sekarang Nasya sudah tidak memiliki lagi teman baik, dia sudah tidak ingin percaya pada siapapun selain pada dirinya sendiri.
"sayang, mama tidak akan memaksa kamu untuk bersekolah jika memang kamu sudah tidak sanggup, mama tidak ingin kamu pergi lagi sayang, mama akan perjuangkan kamu ,perjuangkan hak kamu" kata mama Nasya sambil menggenggam tangan anaknya yang sedang duduk di bangku dekat rumah,
Nasya menjadi pendiam setelah kejadian yang telah menimpa dirinya,
Nasya melihat ibunya sekilas lalu memalingkan wajahnya dan berkata " mama masih memiliki dua anak perempuan lagi, dan juga seorang anak lelaki, tidak perlu terlalu perduli padaku hingga sebegitu besarnya, aku takut mereka akan salah faham"
Nasya lalu melepaskan genggaman tangan ibunya dan pergi meninggalkan ibunya sendiri.
saat ingin berjalan-jalan menenangkan dirinya, Nasya di kejutkan oleh panggilan yang dia tidak mungkin lupa dengannya, kakek baya ternyata membuntutinya dari tadi,
" kakek baya, aku sudah sangat tertekan tidak bisa kah kamu melepaskan aku saja? aku tidak bisa bertemu dengan kamu lagi," ungkap Nasya dan mulai menjauhi kakek baya.